<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<atom:link href="https://versilama.budaya-indonesia.org/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<title>Budaya Indonesia Entri</title>
<link>https://versilama.budaya-indonesia.org</link>
<description>Rss Feed Untuk Konten Entri</description>
<language>en-us</language>
<copyright>Copyright (C) 2013 blabla.com</copyright>
<item>
<title> Benteng Van Der Wijck </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Benteng Van der Wijck merupakan benteng tua peninggalan sejarah Hindia Belanda. Lokasinya berada di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, sekitar 20 km dari ibu kota Kebumen. Nama benteng ini diambil dari nama komandan pada masanya. Benteng ini memiliki bangunan berbentuk segi delapan dengan dua lantai dan ketebalan dinding sekitar 1.4 meter serta tebal lantai 1.1 meter. Total luas keseluruhan mencapai 7.170 meter persegi.  Struktur &amp; Bagian  Bangunan benteng memiliki denah yang luas.   Luas benteng sebelah atas dan bawah: 3606,625 m2  Tinggi benteng: 9.67 m  Tinggi tambang cerobong: 3.33 meter  16 barak dengan ukuran masing-masing 7.5 x 11,32 m  Ketinggian: 132.7 sampai 135 meter diatas permukaan laut  Lantai pertama: empat buah pintu gerbang, 16 ruang berukuran 18 x 6.5 meter, 27 ruangan kecil, 72 jendela, 63 pintu  Lantai kedua: 70 pintu penghubung, 84 jendela   Fungsi &amp; Filosofi  Menurut sejarah, benteng ini awalnya dibangun sebagai benteng pertahanan dan perlindungan. Kini, kompleks benteng ini berfungsi sebagai barak militer TNI AD dan Sekolah Calon Tamtama. Sebagian ruangan benteng juga digunakan sebagai hotel dan tempat wisata favorit di wilayah Gombong.  Asal  Benteng ini berlokasi di Kota Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Menurut sejarah, benteng Van der Wijck berdiri sekitar tahun 1818 dengan tujuan melakukan perencanaan penyerangan di bekas keresidenan Kedu Selatan. Versi lain menyebutkan benteng ini dibangun pada tahun 1844, dan sebelumnya pernah digunakan sebagai kantor Kongsi Dagang VOC.  Sumber: https://jejakpiknik.com/benteng-van-der-wijck   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/benteng-van-der-wijck </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:41:05 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/benteng-van-der-wijck</guid>
</item>
<item>
<title> Tradisi Memasak Makanan Pesta Di Bengkulu Tengah </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Masyarakat Bengkulu Tengah, khususnya suku Rejang, masih mempertahankan tradisi dalam proses memasak makanan untuk pesta pernikahan. Tradisi ini meskipun sebagian modernisasi sudah masuk dalam hal penyajian, namun terkait susunan malam dan tata cara masak makanan masih dipertahankan seperti zaman nenek moyang.  Tahapan/Prosesi   Pangea kemesak juadeak (panggilan memasak kue): Keluarga mempelai mengundang warga desa secara lisan untuk membantu memasak kue satu minggu sebelum pesta pernikahan. Panggilan ini berlaku untuk seluruh rangkaian tradisi memasak selanjutnya. Kue utama yang dimasak adalah bay tat, serta bolu dan kue bawang.  Bilei mipis repeak (hari menghaluskan bumbu): Dilakukan empat atau lima hari sebelum pesta, atau bahkan disatukan dengan hari memasak kue untuk mempersingkat waktu. Bumbu yang dihaluskan meliputi lengkuas, kunyit, jahe, bawang, kelapa sangrai, kacang tanah goreng, dan cabai.  Malem sisit menyisit (malam potong memotong): Dilakukan malam sebelum pesta, dengan tujuan agar sayur yang telah disiangi tidak membusuk. Sayuran yang biasa dipotong adalah pepaya muda, terong minyak hijau, buncis, wortel, kol, kacang panjang, daun bawang, dan seledri. Malam ini juga digunakan untuk membelah dan memarut kelapa.  Bilei kesak mengesak (hari memasak): Berlangsung dari menjelang subuh hingga usai pesta. Semua hidangan dimasak dalam wadah besar, biasanya dikerjakan oleh dua orang per wadah. Petugas memasak nasi dan air adalah laki-laki, sedangkan wanita memasak gulai atau lauk. Petugas memasak dipilih langsung oleh tuan rumah.   Pihak Terlibat  Seorang &#34;tetuei umek lem&#34; (ketua kamar penjaga stok makanan pesta) memegang tanggung jawab besar atas stok makanan selama pesta. Setelah pesta usai, diadakan syukuran yang hanya dihadiri oleh panitia pesta dan keluarga.  Sumber: https://www.kupasbengkulu.com/melirik-tradisi-memasak-makanan-pesta-di-bengkulu-tengah   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/tradisi-memasak-makanan-pesta-di-bengkulu-tengah </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:29 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/tradisi-memasak-makanan-pesta-di-bengkulu-tengah</guid>
</item>
<item>
<title> Rampak Rebana Belarak </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Rampak Rebana Belarak merupakan tradisi tertua di Bengkulu Tengah. Tradisi ini adalah penyambutan tamu penting, pengantin, dan orang penting yang dilakukan oleh serombongan laki-laki dengan membawa rebana. Pertunjukan ini juga dikenal sebagai “Balarak” dan ditemukan di Desa Paku Haji, Kecamatan Pondok Kubang, Kabupaten Bengkulu Tengah, serta di wilayah Lembak, Kabupaten Rejang Lebong. Tradisi ini telah ada sejak zaman nenek moyang dan masuknya Islam ke desa tersebut.  Pemain &amp; Peran  Tradisi ini dilakukan oleh serombongan laki-laki. Menurut peraturan aslinya, pertunjukan ini seharusnya dilakukan oleh bujangan. Namun, belakangan ini, semakin banyak pemuda yang mulai tertarik mengikuti tradisi ini meskipun masih dalam tahap belajar.  Iringan/Musik  Pertunjukan ini diiringi oleh rampak rebana dan nyanyian dzikir yang disebut Dzikir 6. Dzikir ini bersumber dari kitab dzikir Lembak yang dipegang oleh pemimpin grup Balarak.  Sumber: https://www.kupasbengkulu.com/rampak-rebana-belarak-tradisi-tertua-bengkulu-tengah   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/rampak-rebana-belarak </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:28 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/rampak-rebana-belarak</guid>
</item>
<item>
<title> Pendap </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Pendap adalah kudapan berbahan dasar ikan khas Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Keunikannya terletak pada penggunaan daun talas sebagai pembungkus utama, berbeda dengan pepes yang umumnya menggunakan daun pisang. Untuk membungkus pendap, diperlukan 10 hingga 15 lembar daun talas yang kemudian dibalut lagi dengan daun pisang. Makanan ini dinobatkan sebagai makanan tradisional terbaik ke-3 se-Indonesia pada Anugerah Pesona Indonesia (API) bulan Mei 2021. Nama &#34;pendap&#34; berasal dari proses fermentasi daging ikan yang diendapkan semalam agar bumbu rempah mudah menyerap.  Bahan   Bumbu rempah yang dihaluskan (asam kandis, kunyit, ketumbar, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, garam, sedikit gula, dan cabai)  Parutan kelapa muda  Daging ikan laut (kakap merah, kembung, gulama)  Daun talas  Daun pisang   Cara Membuat   Siapkan bumbu rempah yang telah dihaluskan.  Campurkan bumbu halus dengan parutan kelapa muda hingga tercampur baik.  Letakkan campuran bumbu ini di atas daun talas.  Susun daging ikan yang telah dipisahkan dari durinya di atas daun talas yang telah bertabur bumbu. Umumnya, ikan laut berdaging padat seperti kakap merah, kembung, dan gulama dipilih.  Bungkus daging ikan dengan daun talas berlapis-lapis.  Setelah itu, bungkus kembali dengan daun pisang dan ikat agar tidak mudah lepas saat dikukus.  Kukus pendap hingga 8 jam. Proses pengukusan yang lama ini bertujuan untuk menghilangkan zat oksalat yang terdapat pada batang daun talas, yang jika dikonsumsi mentah bersifat beracun dan menyebabkan gatal-gatal, serta agar tidak mudah basi dan menghasilkan masakan yang layak dikonsumsi.  Di masa lampau, daging ikan harus diendapkan atau disimpan selama semalam sebelum dibalut bumbu agar bumbu mudah menyerap. Proses fermentasi inilah yang menjadi nama masakan.   Penyajian  Pendap cocok dijadikan lauk makan nasi yang dapat meningkatkan selera makan. Makanan ini juga populer sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. Pendap sering dinikmati sebagai lauk dalam sesi makan keluarga. Pada masa lalu, pendap sering disajikan dalam upacara adat. Pendap juga bisa dinikmati layaknya mencicipi sepotong kue. Presiden pertama RI, Soekarno bahkan menjadikan pendap sebagai makanan favoritnya saat masa pengasingan di Bengkulu (1938-1942).  Sumber: https://www.kupasbengkulu.com/ini-resep-membuat-pendap-makanan-khas-bengkulu-yang-mampu-manjakan-lidah   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/pendap </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:15 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/pendap</guid>
</item>
<item>
<title> Curup Gangsa </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Curup Gangsa adalah air terjun yang berlokasi di Kabupaten Way Kanan, Lampung. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter dengan lebar pematang air sekitar 20 meter. Panoramanya memadukan air terjun dengan hijaunya hutan di lereng pegunungan. Di sepanjang sungai, banyak batu-batu besar tersebar yang menambah keindahan pemandangan secara keseluruhan. Selain air terjun utama, terdapat juga air terjun kecil yang terpisah namun masih dalam satu wilayah. Lokasi Curup Gangsa berada di perbukitan, menjadikannya sesuai untuk kegiatan petualangan seperti memancing atau berenang. Untuk mencapai dasar air terjun dan merasakan debur sungai, pengunjung harus menuruni 67 anak tangga. Di puncak bukit di atas air terjun terdapat pura sakral bagi masyarakat Hindu setempat dan juga kentongan yang dihormati.  Lokasi dan Akses  Curup Gangsa berlokasi di Dusun Tanjung Raya, Desa Kotaway, Kasui, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Dari Bandar Lampung, perjalanan menuju Curup Gangsa memakan waktu sekitar 4-5 jam ke Kabupaten Way Kanan. Dari Baradatu, pusat ekonomi di Way Kanan, perjalanan dilanjutkan ke Desa Kotaway, yang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jarak dari Blambangan Umpu, Ibukota Kabupaten Way Kanan, menuju Curup Gangsa sekitar 40 km. Akses ke lokasi dapat menggunakan kendaraan roda empat, namun roda dua dianggap lebih menantang dan menyenangkan. Jalanan menuju Curup Gangsa dari Pasar Kasui (sekitar 5 km) kurang mulus dan banyak berlubang. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menemukan perkebunan kopi dan lada, serta perkampungan yang memiliki rumah pentas suku Semendo.  Fasilitas dan Kondisi  Meskipun merupakan objek wisata, Curup Gangsa masih belum tergarap secara optimal. Terdapat semak-semak dan rumput liar yang mengganggu perjalanan menuju lokasi air terjun. Tangga yang ada menuju air terjun merupakan buatan Belanda dari masa lalu ketika mereka mencoba membangun PLTA. Fasilitas seperti ruang ganti dan tempat berteduh disediakan, meskipun hanya berupa gubuk-gubuk kecil. Masyarakat setempat telah meminta bantuan pemerintah untuk mengoptimalkan dan memfasilitasi objek ini, tetapi belum ada tanggapan.  Tiket Masuk  Biaya masuk ke Curup Gangsa adalah Rp 5.000 per orang pada hari libur atau hari besar. Pada hari biasa, tidak dipungut biaya masuk (gratis). Ada biaya tiket tambahan jika pengunjung ingin mendaki Puncak Batu.  Larangan dan kepercayaan  Pengunjung dilarang memukul kentongan yang ada di puncak bukit dekat pura. Jika larangan ini dilanggar, dibutuhkan ayam hitam sebagai persyaratan permohonan maaf.  Sumber: https://jejakpiknik.com/curup-gangsa   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/curup-gangsa </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:13 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/curup-gangsa</guid>
</item>
<item>
<title> Sambal Tempoyak </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Jika Anda penggemar durian, kemungkinan akan menyukai sambal tempoyak. Sambal tempoyak terbuat dari durian yang difermentasi selama satu pekan. Selain menjadi pelengkap nasi dan lauk pauk, sambal tempoyak juga bisa digunakan sebagai bumbu masakan. Meskipun harus melalui proses yang cukup lama, rasa sambal tempoyak ini selalu bikin ketagihan.  Bahan   2-3 buah daging durian matang  1 sdt garam  4 siung bawang merah  2 siung bawang putih  3 buah cabai merah besar  2 buah cabai rawit  1 sdt gula pasir  2 sdm minyak   Cara Membuat   Pisahkan daging buah durian dari bijinya, masukkan ke dalam stoples, campur dengan garam, kemudian aduk merata  Tutup stoples yang rapat, diamkan selama satu pekan  Siapkan chopper atau blender, kemudian masukkan bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, dan cabai rawit, proses hingga benar-benar halus  Berikutnya, panaskan sedikit minyak di dalam teflon, tuang semua bumbu halus, kemudian masak hingga matang dan harum  Tambahkan durian yang sudah menjadi tempoyak  Setelah itu, beri gula pasir dan aduk merata, masak sambal tempoyak hingga mengental dan matang  Setelah matang, pindahkan ke dalam wadah sambal  Sajikan sambal tempoyak sebagai pelengkap makanmu   Penyajian  Sambal tempoyak dapat disajikan sebagai pelengkap nasi dan lauk pauk, atau digunakan sebagai bumbu masakan. Untuk menjaga keawetan, sambal tempoyak yang sudah diolah dapat bertahan hingga satu tahun jika disimpan di dalam freezer.  Asal/Sejarah  Sambal tempoyak ini berasal dari Sumatra, dan yang paling populer adalah dari Lampung.  Sumber: https://www.idntimes.com/food/recipe/dhiya-azzahra/resep-sambal-tempoyak-khas-lampung   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.     Sambal Tempoyak — Makanan Minuman, Lampung ·  source    ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/sambal-tempoyak </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:09 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/sambal-tempoyak</guid>
</item>
<item>
<title> Brengkes Ikan Patin Tempoyak </title>
<description> <![CDATA[ Bahan   1 ekor ikan patin , potong-potong  200 gr tempoyak (durian fermentasi)  2 batang serai, memarkan dan potong-potong pendek  daun pisang dan lidi secukupnya   Bumbu halus   2 siung bawang putih  6 siung bawang merah  2 butir kemiri  3 cm kunyit  15 buah cabai merah keriting  garam secukupnya   Cara Membuat   Cuci bersih ikan, tirikan.  Campurkan ikan dengan bumbu halus, serai dan tempoyak.  Ambil daun pisang secukupnya, isi dengan ikan patin dan bumbu tempoyak.  Bungkus dan semat dengan lidi. Lakukan hingga habis.  Panaskan kukusan.  Kukus brengkes ikan patin tempoyak selama kurang lebih 25 menit.  Brengkes ikan patin tempoyak khas Palembang siap dinikmati.   Sumber: https://www.fimela.com/lifestyle/read/4525698/resep-brengkes-ikan-patin-tempoyak-khas-palembang   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/brengkes-ikan-patin-tempoyak </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:40:05 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/brengkes-ikan-patin-tempoyak</guid>
</item>
<item>
<title> Masjid Sultan Abdurrrohman </title>
<description> <![CDATA[ Lokasi  Masjid Jami’ Pontianak terletak di Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Masjid ini berada di area Kampung Beting, di tengah pemukiman padat penduduk, dan didekatnya terdapat pasar ikan yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid ini dapat dijangkau menggunakan sampan atau perahu dari pelabuhan Seng Hie, atau dengan kendaraan darat melalui Jembatan Kapuas.  Sejarah  Masjid Jami’ Pontianak dulunya bernama Masjid Sultan Abdurrrohman dan menjadi saksi perkembangan Kota Pontianak. Masjid ini terletak di kawasan Keraton Khadriyah dan merupakan bangunan masjid tertua di ibu kota Kalimantan Barat. Sejarahnya berawal pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi atau 24 Rajab 1181 Hijriah, ketika rombongan yang dipimpin Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak untuk membangun perkampungan dan sebuah surau. Perkampungan ini kemudian dinamakan Pontianak. Pada tanggal 8 Sya’ban 1192 Hijriyah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai sultan pertama Pontianak yang kemudian terkenal dengan sebutan Kesultanan Alkadriyah. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771 hingga 1808 Masehi. Di bawah kepemimpinannya, pemerintahan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan pelabuhan. Surau sederhana yang dibangun sejak awal menjadi pusat kegiatan keagamaan dan penanda berdirinya Kesultanan Alkhadriyah. Pembangunan surau ini dimulai oleh Sultan Syarif Abdurrrohman, dilanjutkan oleh adiknya Sultan Kasim setelah Sultan Syarif Abdurrrohman meninggal, lalu diselesaikan oleh anaknya Syarif Usman. Sebagai penghormatan kepada ayahnya, Sultan Syarif Usman menamai masjid tersebut dengan nama ayahnya. Sejak pembangunannya, masjid ini menjadi pusat kegiatan agama dan ibadah serta penyebaran ajaran Islam di daerah tersebut.  Arsitektur Pembangunan  Bangunan awal Masjid Jami’ Pontianak beratapkan rumbia dan konstruksi berbahan dasar kayu. Masjid ini berbentuk segi empat dengan ukuran 33,27 x 27,74 meter, dikelilingi selasar melingkar yang dibatasi pagar. Bentuk awalnya menyerupai rumah panggung masyarakat setempat. Tiang masjid terbuat dari kayu, namun kini sudah dicor untuk menghindari pelapukan. Warna dominan bangunan adalah kuning dan hijau; kuning untuk dinding dan hijau untuk plafon. Warna kuning melambangkan keagungan, sedangkan hijau menggambarkan warna kenabian. Atap masjid dibuat bertumpuk empat dengan pembatas lembaran-lembaran kayu bullian. Atap tingkat pertama dan kedua diberi lubang ventilasi untuk cahaya dan udara. Terdapat teras berbentuk gardu di setiap sudut atap kedua, yang menurut warga setempat dahulu digunakan untuk mengumandangkan azan, sementara persepsi lain menganggapnya melambangkan empat sahabat nabi. Bangunan masjid dilengkapi dengan tiga pintu utama setinggi hampir 3 meter yang terletak di depan dan samping, serta sekitar 20 pintu kecil berukuran sekitar 2 meter. Di dalam masjid terdapat enam sokoguru (pilar atau tiang) berbentuk lingkaran yang sangat besar untuk menopang seluruh atap masjid, yang filosofinya melambangkan enam rukun Islam. Selain itu, ada juga tiang berbentuk segi empat berukuran besar. Mihrab masjid menyerupai mihrab Masjid Tanah Grogot, dan terdapat mimbar berwarna kuning mengkilap dengan ukiran emas.  Sumber: https://jejakpiknik.com/masjid-jami-pontianak   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/masjid-sultan-abdurrrohman </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:39:54 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/masjid-sultan-abdurrrohman</guid>
</item>
<item>
<title> Kampung Adat Kuta Ciamis </title>
<description> <![CDATA[ Lokasi Geografis  Kampung Kuta terletak 60 km di timur Kota Ciamis, di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kawasan ini dikelilingi oleh tebing dan hutan, membuatnya sulit dijangkau. Nama &#34;Kuta&#34; diambil karena lokasinya di daerah perbukitan dengan lembah curam sedalam 75 meter.  Sejarah dan Asal-Usul  Ada dua versi cerita rakyat mengenai asal-usul Kampung Kuta, keduanya merujuk pada masa kerajaan Galuh. Versi pertama menyatakan bahwa Raja Galuh awalnya ingin menjadikan lokasi ini sebagai ibu kota, namun kemudian diurungkan karena dianggap kurang cocok. Raja dan rombongannya lalu mencari lokasi lain, melewati &#34;Tenjolaya&#34; (tempat melihat) dan &#34;Kepelan&#34; (tempat Raja melempar kepalan lahan), hingga akhirnya membangun kerajaan di Karangkamulyan, tepi sungai Cimuntur dan Citanduy.  Kisah Ciung Wanara  Versi lain mengaitkan asal-usul dengan kisah Ciung Wanara. Sang Prabu bertapa di Gunung Padang, meninggalkan dua istri, Dewi Naganingrum dan Dewi Pangreyep. Anak Dewi Naganingrum ditukar dengan anjing oleh Dewi Pangreyep dan dihanyutkan ke Sungai Citanduy. Anak tersebut kemudian diasuh oleh Aki Balarantang, menjadi Ciung Wanara yang kelak merebut Kerajaan Galuh melalui sabung ayam dan menjemput ibunya yang disembunyikan di Kuta.  Keunikan dan Daya Tarik  Warga Kampung Adat Kuta dikenal ramah dan murah senyum, baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka teguh memegang adat dan kebudayaan, membuat keputusan melalui mufakat antara ketua adat, kuncen, dan sesepuh. Kampung ini juga memiliki tradisi berupa serangkaian larangan dan pantangan yang wajib dipatuhi oleh warga maupun pendatang.  Pantangan dan Tradisi Bangunan  Pantangan-pantangan tersebut meliputi:   Membuat rumah panggung.  Dinding rumah tidak boleh dari tembok.  Bentuk rumah harus persegi panjang, tidak boleh letter-U atau bentuk lain.  Tempat beras wajib bersatu dengan tempat tidur.  Penambahan ruangan tidak boleh ke arah timur atau utara, hanya boleh ke barat dan selatan.  Warga tidak boleh membuat kamar mandi dan jamban di dalam rumah, melainkan harus menggunakan fasilitas umum.  Kamar mandi umum berdekatan dengan kolam ikan, dan jamban terbuat dari bambu tanpa pintu serta setengah terbuka.  Air untuk kebutuhan berasal dari mata air yang keluar melalui pancuran.   Pemandangan Alam dan Situs Sejarah  Kampung ini menawarkan pesona masa lalu dengan hamparan sawah luas dan Tebing Rahong yang menjulang gagah. Ada juga Tebing Dodokan yang membentang dari utara ke selatan dengan pemandangan elok. Di wilayah ini tersebar banyak situs peninggalan atau petilasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.  Sumber: https://jejakpiknik.com/kampung-kuta   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/kampung-adat-kuta-ciamis </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:39:43 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/kampung-adat-kuta-ciamis</guid>
</item>
<item>
<title> Masjid Agung Baitul Makmur Jepara </title>
<description> <![CDATA[ Deskripsi  Masjid Agung Baitul Makmur adalah sebuah masjid agung yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini bersebelahan dengan alun-alun kota Jepara. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi objek wisata religi sekaligus pusat kajian agama dan dakwah. Keunikan arsitekturnya yang memadukan ciri khas Jawa, meskipun telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya, menjadikannya warisan budaya yang menarik.  Struktur &amp; Bagian   Plafon bagian depan terbuat dari kayu jati berpelitur dan mengkilat.  Tiang utama memiliki pola lilitan kayu dan ukiran, meskipun terbuat dari beton.  Berbagai ukiran kayu dengan bentuk bunga dan tulisan Arab terdapat pada tiang penyangga, jendela, dan pintu.  Bangunannya hampir dipenuhi dengan kayu jati berpelitur serta berbagai ornamen ukiran kayu, mulai dari bagian luar hingga mihrab.   Bahan &amp; Konstruksi  Pada awalnya, bahan baku yang digunakan untuk membangun masjid ini adalah kayu jati. Namun, saat ini telah berubah menjadi beton seperti bangunan masjid pada umumnya. Meskipun demikian, ciri khas arsitektur Jawa masih terasa di beberapa bagian masjid. Bangunan ini terlihat seperti pendopo Jawa serta rumah khas Jawa, dengan penggunaan kayu jati berpelitur dan ornamen ukiran kayu yang menonjol.  Ciri Khas/Ornamen  Paling menonjol dari ciri khas arsitektur masjid ini adalah bahan dasar bangunan kayu jati dan ornamen ukiran kayu. Jenis ukiran yang digunakan adalah motif Majapahit, yang memperlihatkan bentuk geometris cembung dan cekung. Motif semarangan juga dominan, dengan bentuk daun beralur lembut yang menunjukkan ciri khas Jawa. Selain itu, ada motif pajajaran dengan bentuk pola ukiran cembung. Keindahan ukiran ini menjadi daya tarik utama yang meningkatkan kunjungan dan menjadikan masjid ini sebagai ikon kota.   Motif Majapahit: Bentuk geometris cembung serta cekung.  Motif Semarangan: Bentuk daun beralur lembut, menunjukkan ciri khas Jawa.  Motif Pajajaran: Bentuk pola ukiran cembung.   Asal  Masjid Agung Baitul Makmur Jepara dibangun pada masa pemerintahan Pangeran Arya Jepara, seiring dengan pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Kalinyamat ke Jepara. Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah di Indonesia yang menjadi saksi pembangunan bangsa.  Sumber: https://jejakpiknik.com/masjid-agung-jepara   Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.   ]]></description>
<link> https://versilama.budaya-indonesia.org/masjid-agung-baitul-makmur-jepara </link>
<pubDate> Tue, 28 Jul 2026 12:39:15 +0700 </pubDate>
<guid> https://versilama.budaya-indonesia.org/masjid-agung-baitul-makmur-jepara</guid>
</item>
</channel>
</rss>
