|
|
|
|
|
|
ANJING DALAM BUDAYA DAYAK Tanggal 14 Nov 2018 oleh Deni Andrian. |
Memang anjing didalam budaya Dayak bukan dianggap binatang yang suci tetapi bagi orang Dayak anjing menempati posisi khusus sebagai sahabat manusia. Sebagai contoh didalam kebudayaan Dayak Kenyah-Kayan mereka tidak akan berani memukul atau menendang anjing, bahkan ketika seekor anjing meninggal di dalam Lamin atau Betang, maka bangkainya akan didorong keluar menggunakan kayu untuk dihanyutkan di sungai dan tempat dimana anjing itu meninggal akan diberi pagar untuk beberapa hari untuk mencegah anak-anak melewatinya.
Anjing merupakan sahabat setia yang menjaga pemiliknya dan menemani pemilinya berburu dan dianggap jika orang banyak memlihara anjing maka bisa mendapat banyak harta sebab anjing-anjingnya bisa membantu mendapatkan banyak buruan seperti babi, rusa dll. Oleh sebab itu didalam kepercayaan Kaharingan masa lalu apabila anjing ini meninggal maka dilakukan upacara khusus untuk memakamkan anjingnya yaitu suatu upacara Tiwah. Tiwah anjing dengan Tiwah manusia berbeda. Untuk tiwah anjing akan didirikan sebuah tiang dari kayu dan diukirkan motive LAWANG RADAYANG lalu kepala babi hutan atau tulang rahang babi akan digantung pada tiang itu. Lalu tempurung kelapa akan dipukul-pukul sebagai pengganti gong, kemudian makanan anjing disediakan dan ditaruh dalam sebuah perahu dan anjing–anjing lain akan makan diperahu itu lalu kemudian di palas dengan daun sawang supaya anjing–anjing ini bisa mendapat buruan lagi. Selesai upacara perahu tadi akan segera dikaramkan.
Motive-motive anjing (aso) ini akan banyak kita temukan didalam motive tattoo dan ukiran Mandau. Sebagai penjaga bapi pemilik mandau atau tattoo tersebut.
Saat ini kearifan budaya ini sudah banyak ditinggalkan oleh Orang Dayak – anjing sudah menjadi salah satu daftar menu akibat pengaruh pendatang yang membawa kebiasaan memakan anjing. Namun sejatinya didalam kepercayaan Kaharingan jika manusia memakan anjing maka manifestasi Ranying Hatalla (Tuhan) sebagai Sahur Lewu / Patahu / Penjaga Kampung tidak akan bersedia menjaganya lagi apabila ada hal-hal yang akan mengancam sebuah Desa. Jika suddh sbagian besar penduduk dalam sebuah desa makan anjing, maka Sahur Lewu (Patahu Lewu) tersebut akan meninggalkan kampung tersebut.
Didalam Budaya Dayak Kenayatn untuk memberikan makan para PUJUT / Hantu/ Setan adalah anjing atau nasi dicampur darah anjing dan dibuang ke tempat kotor utuk memuskan para roh jahat ini. Oleh sebab itu jika seseorang ingin belajar ilmu-ilmu magis tidak akan bisa jika ia sudah memakan anjing.
Folks.. didalam budaya kita bagaimana anjing diperlakukan dengan baik dan karena mereka sejatinya adalah sahabat manusia – ada baiknya kita mulai menghapus anjing dari daftar menu kita.
sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/11/17/anjing-dalam-budaya-dayak/
#SBJ
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend... |
|
Ukiran Gorga Si...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai penjaga rum... |