|
|
|
|
|
|
On the Origin of Pakarena, A Brief Exposition of Tumanurung Tanggal 06 Aug 2018 oleh OSKM18_16018295_Aumedi . |
Tarian Pakarena merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan yang sangat populer. Tarian ini dipentaskan oleh 4 orang penari wanita dengan kostum berupa baju khas Sulawesi, baju bodo, sarung khas Makassar, Mahkota , dan gelang di lengan. Tarian ini pun disertai dengan property utama berupa kipas, dan dipentaskan dalam jangka waktu yang cukup lama (sekitar 2 jam). Setiap tarian memiliki makna masing masing, begitu pula tarian Pakarena. Masyarakat daerah Sulawesi Selatan pun juga mengerti makna filosofis dibalik gerakan tersebut. Tarian Pakarena terdiri dari berbagai macam jenis (sekitar 12 macam dan tidak akan dipaparkan disini karena bukan focus dari artikel ini), dan setiap jenis memiliki makna tersendiri yang unik.
Gerakan dari tarian pakarena sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Interpretasi masyarakat secara umum terkait dengan gerakan ini memiliki hubungan dengan sebuah mitos yang dinamakan mitos Tumanurung. Tumanurung terdiri dari dua kata “Tu” dan “Manurung”. Secara bahasa, kata “Tu” berarti orang dan “Manurung” berasal dari “Ma” dan “Turung” yang berarti yang turun (dari atas). Jadi, jika kita ubah ke bahasa kita, kata tersebut memiliki makna “orang yang turun dari langit”. Sekarang kita akan masuk ke focus dari artikel ini.
Alur cerita dari mitos Tumanurung ini adalah seperti berikut. Pada suatu saat, yaitu masa kerajaan Gantarang, keadaan masyarakat di saat itu bisa dikatakan berada dalam kekacauan. Pada saat itu, masyarakat sedang dilanda kelaparan, karena tanaman merka tidak mau tumbuh, juga ternak banyak yang mati, dan negeri pada kekeringan. Karena keadaan yang demikian, maka sang dewa menurunkan suatu sosok yang tak dikenal namanya. Sosok inilah yang dipanggil masyarakat sebagai Tumanurung. Sosok ini mengajarkan kepada masyarakat, jalan jalan kehidupan yang harus mereka lalui jika mereka ingin sejahtera. Pada akhirnya, masyarakat pun menjalankan ajaran sang Tumanurung dan kehidupan mereka pun menjadi penuh nikmat. Perlu dikatakan juga bahwa ada beberapa versi terkait mitos ini. Salah satunya adalah yang telah terpaparkan. Ada versi dimana sang Tumanurung memohon kepada sang dewa agar masyarakat tersebut diberi kesejahteraan. Ada juga dimana sang Tumanurung menggunakan seluruh kekuatannya untuk mensejahterakan masyarakat tersebut seorang diri.
Meski demikian, saya mohon jangan membingungkan diri anda dalam hal tersebut. Intinya adalah, saat sosok Tumanurung ini datang, sosok ini berhasil menyejahterakan masyarakat disana.
Berdasarkan kerabat saya, beberapa orang menginterpretasikan gerakan tersebut sebagai rasa terimakasih yang dipersembahkan oleh masyarakat kepada sang Tumanurung atas jasanya yang mulia. Ada juga yang menginterpretasikan gerakan gerakan itu merupakan sebuah symbol jalan kehidupan yang diajarkan oleh sang Tumanurung.
Di sisi lain, para sejarahwan menginterpretasikan mitos Tumanurung ini sebagai sebuah solusi. Pada saat itu, keadaan masyarakat adalah kacau. Mereka berkelahi untuk mendapatkan kekuasaan. Maka, agar hal itu berhenti, maka dikeluarkanlah mitos tersebut. Jadi tidak salah jika mitos tersebut dianggap seperti sebuah nubuat, demi kelangsungan hidup masyarakat yang harmonis. Interpretasi lain mengatakan juga bahwa mitos ini dikeluarkan sebagai suatu legitimasi agar pemerintahan sang raja waktu itu yang bernama Tumanurung bisa terus berlangsung, agar masyarakat juga sepakat untuk menjadikan keturunannya raja juga di daerah tersebut, dikarenakan, meski pemerintahaannya kerajaan, musyawarah mufakat juga ada di saat itu namun hanya oleh sekelompok orang tertentu. Sehingga mitos ini dijadikan untuk meyakinkan masyarakat.
Berbagai macam interpretasi ini mungkin dapat membuat kepala anda pusing (karena saya sendiri juga), namun coba kita ambil sisi baiknya. Pada zaman tersebut, pada masa peradaban kuno, Mitos adalah cara manusia menjawab kejadian kejadian yang terjadi di sekitar mereka. Wajar saja, kita tidak mengetahui apa apa waktu itu, sehingga kita mengimajinasikan suatu sosok berkekuatan lebih yang mengendalikan kejadian itu. Sebab itulah kita dihadapkan dengan berbagai macam dewa dari masa lalu. Kedengarannya lucu, namun, tentunya salah bagi kita untuk mentertawakan mereka akan hal tersebut karena terkadang pemikiran seperti itulah yang dapat menghasilkan sesuatu yang indah dipandang berupa tidak hanya gerakan tarian namun juga, makanan, seni rupa, dan bahkan arsitektur yang tentunya dapat kita nikmati sebagai salah satu budaya yang tiada duanya di negeri kita, dan bahkan di dunia. Hal itu pantas menerima appresiasi yang besar.
#OSKMITB2018
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |