|
|
|
|
|
|
Pengaron - Parangtritis - DI Yogyakarta - Peralatan Masak Tanggal 19 Apr 2018 oleh Oase . |
Ada sebagian masyarakat di Jawa menyebut pengaron sebagai kemaron. Bentuk pengaron seperti kuali. Bedanya, bagian bawah pengaron datar, agar mudah diletakkan di tanah atau lantai. Diameter bagian alas lebih kecil dibandingkan dengan bagian atas. Pengaron juga mirip silinder. Sementara bagian atas berdiameter lebih besar dan mempunyai bibir melingkar selebar sekitar 5 cm. Pengaron juga umumnya terbuat dari tanah liat atau gerabah. Pengaron biasa dipakai setelah dibakar, seperti peralatan dapur lain yang terbuat dari tanah liat.
Ada dua macam pengaron, yakni pengaron besar dan pengaron kecil. Untuk pengaron kecil, warga Parangtritis, Kabupaten Bantul, menyebutnya dengan kabaran. Disebut pengaron besar jika diameter lingkaran bagian atas sekitar 50 cm, tingginya 27 cm, dan disebut pengaron kecil (kabaran) jika diameter lingkaran bagian atas sekitar 35 cm serta tingginya 19 cm. Alat dapur yang satu ini multifungsi. Bisa untuk “ngaru” nasi, tempat air bersih, tempat cuci peralatan kotor, hingga dapat untuk wadah air saat memandikan jenazah.
Pengaron yang terbuat dari tanah liat ini mempunyai kelemahan mudah pecah. Maka apabila telah pecah, berarti sudah tidak bisa dipakai lagi karena tidak bisa ditambal. Maka penggunaan pengaron harus ekstra hati-hati, baik saat penggunaan, perawatan, maupun saat penyimpanan. Sementara untuk penggunaan saat masih baru, agar tidak berbau tanah, bisa menerapkan langkah-langkah seperti pada alat dapur kuali, yaitu dibersihkan dengan air tajin, bekatul hingga sabut kelapa.
Pengaron, suatu saat bisa berfungsi untuk “ngaru” nasi. Sebelum nasi setengah matang kembali “diadang” atau ditanak di dandang, maka beras yang telah ditanak awal, dituangkan ke dalam pengaron. Kemudian dituangi air mendidih hingga luber. Ditunggu sesaat hingga air meresap di beras hingga menjadi nasi setengah matang. “Ngaru” nasi biasa menggunakan pengaron karena tahan air panas, bisa memuat banyak, serta dapat menetralkan rasa nasi. Selain itu, zaman dulu belum banyak pilihan wadah, kecuali yang terbuat dari gerabah. Maka satu-satunya tempat yang “pas” untuk “ngaru” nasi adalah pengaron ini.
Ketika belum banyak ember seperti sekarang ini, pengaron menjadi pilihan utama bagi warga untuk memandikan jenazah. Biasanya ada beberapa pengaron besar dijejer yang dipenuhi dengan air bersih. Sebelum dipakai untuk memandikan jenazah, air bersih dalam pengaron itu sudah diberi daun kelor, bunga, dan uang receh.
Fungsi lain pengaron adalah untuk tandon air bersih, selain gentong. Ukuran pengaron lebih kecil dibandingkan dengan gentong. Selain itu, pengaron mudah dipindahkan sehingga banyak dipakai, apalagi saat masyarakat punya hajatan.
Pengaron lebih praktis digunakan untuk tandon air sementara. Sekali lagi, belum banyak pilihan tempat air saat itu karena belum ada tempat air yang terbuat dari plastik dan sejenisnya. Kadang-kadang pengaron juga berfungsi untuk mencuci peralatan dapur yang kotor.
Ketika belum banyak ember seperti sekarang ini, pengaron menjadi pilihan utama bagi warga untuk memandikan jenazah. Biasanya ada beberapa pengaron besar dijejer yang dipenuhi dengan air bersih. Sebelum dipakai untuk memandikan jenazah, air bersih dalam pengaron itu sudah diberi daun kelor, bunga, dan uang receh.
Keberadaan pengaron sudah terekam dalam kamus Jawa “Baoesastra Djawa” karangan WJS Poerwadarminta (1939). Pada halaman 485, dijelaskan bahwa pengaron sejenis jambangan besar. Jambangan adalah tempat air yang sering dipakai untuk bak mandi di masa lalu. Biasanya, setiap kata yang terekam dalam kamus “Baoesastra Djawa” itu, diambil dari alat-alat atau konsep yang digunakan oleh masyarakat pada zamannya. Tidak berbeda dengan istilah pengaron atau kemaron. Berarti sebelum tahun 1939, pengaron sudah menjadi alat dapur yang umum digunakan oleh kebanyakan rumah tangga kala itu.
Sekarang, alat dapur ini sudah terdesak oleh peralatan serupa yang terbuat dari plastik dan sejenisnya yang lebih awet, praktis, dan lebih ringan. Maka tidak heran, saat ini sangat sulit menemukan alat dapur pengaron di pasaran, karena sudah tidak banyak lagi yang meliriknya. Namun, di sentra pembuatan gerabah masih bisa ditemui benda ini. Beberapa museum budaya di Yogyakarta sudah menjadikannya sebagai koleksi benda kuno.
Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2015/02/pengaron-alat-dapur-tradisional-jawa-nan-multifungsi/
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |