×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Budaya

Elemen Budaya

Permainan Tradisional

Provinsi

Sulawesi Selatan

SEPAK RAGA, RIWAJATMOE KINI

Tanggal 01 Aug 2015 oleh Choirulamri .

SEPAK RAGA, RIWAJATMOE KINI

 

Permainan sepak raga adalah cikal-bakal lahirnya cabang olahraga sepak takraw. Setidaknya, kalimat awal pada tulisan ini memantik pemikiran masyarakat (pembaca) yang memang pada umumnya menganggap sepak takraw itu sama dengan sepak raga. Tapi sejarah mencatat, permainan sepak raga lebih “berumur” dibanding sepak takraw.

Permainan sepak raga merupakan budaya tradisional khas Sulawesi Selatan. M. Dahlan Dg. Gassing, tokoh masyarakat Marosyang mengembangkan sepak raga bertutur, permainan ini muncul dari desa Kaemba, dusun Patte’ne, Maros, Sulawesi Selatan. Dari sebuah kampung yang dahulu disebut Ujung Bulo yang dijuluki sebagai kampung Pa’raga di Kabupaten Maros. Berdasarkan cerita turun-temurun di desa Kaemba, pada awalnya masyarakat disana menyebut permainan ini dengan nama ma’raga yang berarti gerakan aktivitas tubuh (raga), dengan menggunakan bola yang terbuat dari rotan.

Sepak raga pada dasarnya mengadopsi gerakan-gerakan beladiri corak islami yang memang banyak dikembangkan oleh te-tua kita di era penjajahan terdahulu. Tentu dengan tujuan membentengi diri sembari berharap mampu mengusir para penjajah meski dengan peralatan sederhana. Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa jurus seni beladiri yang diajarkan berkembang menjadi kolaborasi permainan dengan menggunakan bola yang terbuat dari rotan, kemudian pemain-pemainnya membentuk lingkaran, lalu memainkan bola tersebut dan memindahkannya dari kaki satu pemain ke pemain lainnya sambil berusaha untuk tidak menjatuhkannya ke tanah.

Dalam perkembangannya, kedatangan Raja dari Gowa yang menyebarkan Islam yang juga memperkenalkan alat-alat musik tradisional seperti gong dan gendang membuat permainan sepak raga atau ma’raga memasuki era baru, sejak saat itu ma’raga mulai diiringi dengan alat-alat musik tradisional, dan menjadikan sepak raga sebagai salah satu bentuk syiar dalam penyebaran agama Islam. Sebab dijaman itu, syiar lewat kesenian memang terbukti cukup ampuh “mengambil hati” masyarakat dibanding dengan cara kekerasan.

Dalam cerita lain juga menyebutkan, bentuk penyebaran permainan sepak raga ini melalui pelaut-pelaut suku Bugis-Makassar yang terkenal dengan keberanian dan kengototannya mengarungi laut lepas. Ketika pelaut-pelaut ini berlabuh dan singgah di negeri orang, mereka mengisi waktu senggangnya dengan ma’raga. Permainan inilah yang dilihat, kemudian diikuti penduduk di tempat persinggahan tersebut hingga menyebar ke daerah-daerah,  seperti Minangkabau, Kalimantan dan daerah lainnya. Cerita ini sejalan dengan catatan sejarah Melayu terawal. Dimana pada masa pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sulthan Muzaffar Shah (1459-1477), seorang puteranya bernama Raja Ahmad dibuang oleh negeri karena bersalah membunuh anak bendahara akibat persengketaan saat bermain sepak raga. Sejalan dengan catatan sejarah ini, permainan ini berubah dengan menggunakan jaring dan peraturan angka pada tahun 1940-an. Kemudian terus berkembang dikawasan Asia, di Filipina dikenal dengan nama sipa, Burma dengan sebutan chinlone, di Laos dengan nama kator, dan di Thailand dengan sebutan takraw. Itulah mengapa hingga saat ini Malaysia dan Thailand masih saling “klaim” tentang kepemilikan sejarah awal cabang olahraga sepak takraw ini.

Saat ini di Sulawesi Selatan, meskipun memang sudah agak langka dari segi pertunjukan maupun  kuantitas pemainnya, tapi sesekali kita masih bisa melihat aksi para pa’raga (sebutan untuk pemain sepak raga) yang biasa dipersembahkan pada acara-acara adat maupun acara penyambutan tamu dari luar Sulawesi Selatan. Mereka tampil dengan menggunakan pakaian adat yang terdiri dari passapu (penutup kepala khas Makassar berbentuk segitiga), baju tutup (jas tradisional suku Bugis-Makassar)  yang dipadukan dengan lipa’ sabbe (sarung khas Makassar dari kain sutera). Kemudian mereka mempertontonkan aksi akrobatik dengan membentuk formasi tingkatan manusia (biasanya 2 hingga 3 tingkatan) sembari terus memainkan bola tanpa menjatuhkannya ke tanah hingga bola yang terbuat dari rotan tersebut sampai dan dimaini oleh pemain yang  berada di puncak (tingkatan paling atas). Gerakan ini yang selalu mendapat tepukan tangan dari penonton, karena memang terlampau sulit dilakukan tanpa latihan rutin sebagai pembiasaan gerakan yang memadukan seni dan fisik ini.

Pada akhirnya, negeri ini harusnya was-was akan permainan tradisional sepak raga ini, seperti was-wasnya Malaysia dan Thailand yang masih saling “klaim” tentang cabang olahraga sepak takraw. Biarkanlah Malaysia dan Thailand saling “klaim” tentang olahraga sepak takraw, sudah saatnya kita mengambil langkah lebih cerdas dengan mengamankan nenek moyang dari cabang olahraga sepak takraw, yakni permainan sepak raga atau ma’raga sebagai warisan budaya dunia yang tercatat di UNESCO (semoga). Berikan ruang kepada kelompok-kelompok pa’raga yang sudah mulai langka untuk lebih sering menampilkan aksi kesenian akrobatiknya, disamping menggalakkan coretan-coretan budaya yang tentu saja akan menopang “tegak berdirinya” permainan sepak raga ini diusia tuanya. Karena sejarah, mencari siapa yang lebih tua!. Tentu bangsa Ibu Pertiwi tak ingin kasus-kasus seperti angklung, Reog Ponorogo dan batik yang sempat di”klaim” oleh negara lain kembali terjadi. Karena pengobatan terbaik adalah pencegahan!.

DISKUSI


TERBARU


Kopi Malabar

Oleh Kyas1 | 24 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Kopi Malabar adalah salah satu varietas kopi Arabika yang tumbuh di pegunungan Malabar, Pangalengan, Jawa Barat, pada ketinggian di atas 1...

Cara Buka Bloki...

Oleh Irabuana | 24 Oct 2026.
Discussion

Dukungan Nasabah Bank Sulselbar: ☎(0851-2952-7094) bisa live chat WhatsApp Customer Service dinomor Call Center Cs Bank Sulselbar: (+62)851-2952-7094...

Call Center Res...

Oleh Irabuana | 24 Oct 2026.
Discussion

Dukungan Nasabah Bank Sulselbar: ☎(0851-2952-7094) bisa live chat WhatsApp Customer Service dinomor Call Center Cs Bank Sulselbar: (+62)851-2952-7094...

Call Center Res...

Oleh Irabuana | 24 Oct 2026.
Discussion

Dukungan Nasabah Bank Nagari: ☎(0813-3636-397) bisa live chat WhatsApp Customer Service dinomor Call Center Cs Bank Nagari: (+62)813-3636-397 layanan...

Cara Staking Cr...

Oleh Irabuana | 24 Oct 2026.
Discussion

Triv - Hubungi kami - Triv.id Telpon: ☎(0823-7117-1696) atau live chat Customer Service Triv dinomor Call Center Cs Triv: (+62)838_0013_0808 (24jam)...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...