×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Situs Prasejarah

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Jawa Barat

Situs Pangcalikan Gunung Padang

Tanggal 25 Feb 2015 oleh Muhammad Arif Nurrohman17.

Di Desa Sukaresik, Kecamatan Cikoneng terdapat semacam hutan lindung yang di dalamnya terdapat objek peninggalan purbakala yang oleh masyarakat setempat dinamakan pangcalikan. Lahan seluas sekitar 7 hektar ini kondisi geografisnya berupa perbukitan. Untuk mencapai lokasi ini setelah memasuki kawasan hutan lindung harus melalui jalan setapak berbatu yang menanjak. Pada kompleks situs Pangcalikan Gunung Padang terdapat objek berupa bangunan berundak, makam, dan kolam. Bangunan berundak di Gunung Padang terpusat pada batu datar yang disebut pangcalikan. Batu ini berada di dalam bangunan semacam cungkup yang dibangun pada 1999 oleh kerabat juru pelihara. Bangunan cungkup menghadap ke arah selatan berukuran 4,42 x 4,62 m berdiri pada lahan yang lebih tinggi dari sekitarnya. Lahan tersebut dibatasi dengan benteng talud batu dengan ukuran panjang 11,76 m dan lebar 12,80 m. Batu pangcalikan terdiri dua bongkah. Batu yang besar berukuran panjang 114 cm, lebar 69 cm, dan tebal 14 m. Sedang batu yang lebih kecil berukuran panjang 45 cm, lebar 28 cm, dan tebal 10 cm. Di sebelah selatan pangcalikan terdapat enam batu tegak dan di sebelah utara terdapat satu batu tegak. Di sebelah utara (belakang) bangunan cungkup terdapat hamparan batu yang bentuk dan ukurannya bervariasi. Jarak dari batas benteng talud ke hamparan batu adalah 3,53 m . Di sebelah utara bangunan terdapat makam. Makam ditandai dengan nisan berukuran tinggi 44 cm, lebar 25 cm dan tebal 16 cm. Jarak antara makam dengan benteng talud batu 4,85 m. Di Situs Gunung Padang  terdapat 1 kolam yang disebut cikahuripan dan 3 sumur kecil sebagai sumber mata air. Kolam dan sumur kecil terletak di sebelah utara halaman inti. Kolam Cikahurupan berukuran panjang 4.80 m dan lebar 3.70 cm. Di sebelah utara kolam cikahuripan berjarak ± 4.90 m terdapat tiga sumur kecil sebagai sumber mata yang mengalir ke kolam kahuripan melalui bawah tanah.

Situs Pangcalikan Gunung Padang dikaitkan dengan Kerajaan Galuh. Diceritakan bahwa Sri Maharaja Adi Mulya adalah seorang raja dari kerjaan Galuh. Pada waktu ia memerintah sangat disegani rakyatnya. Beliau mempunyai dua orang istri yang pertama bernama Naga Ningrum berputra Ciung Wanara dan yang kedua Dewi Pangrengep yang berputra Hariang Banga. Sementara beliau memerintah dibantu oleh seorang patih bernama Aria Kebonan dan seorang longser. Aria Kebonan adalah seorang patih yang cukup cakap sehingga segala perintah raja dapat dilaksanakan dengan baik. Pada suatu hari dalam hati kecil Patih  berkeinginan menjadi raja. Keinginan ini kian menjadi sehingga dengan sekuat tenaga Kerajaan Galuh dapat direbutnya. Raja Sri Maharaja Adi Mulya merasa tersingkir dan akhirnya beliau pergi ke sebelah barat bermaksud mengasingkan diri dan bertapa di sebuah tempat dan menyamar dengan mengganti nama menjadi  Ki Hajar Sukaresi. Ada yang mengatakan untuk menghilangkan jejaknya sampai dua badan kasarnya juga dirubah menjadi ular yang sangat besar yang bernama Naga Wiru. Setelah bertapa, dengan dibantu oleh Giri Dawang, beliau berniat untuk merebut kembali tahta Kerjaan Galuh. Setelah kerajaan dapat direbut kembali kerajan itu diserahkan kepada putranya yaitu Ciung Wanara di sebelah barat dan Hariang Banga di sebelah timur. Tempat ketika bertapa dan menyusun kekuatan  inilah bernama Gunung Padang yang sampai sekarang masih bisa dilihat menjadi tempat berjiarah yang banyak dikunjungi. 

Situs Pangcalikan Gunung Padang merupakan peninggalan purbakala yang berhubungan dengan bentuk sistem religi masyarakat masa lampau. Pengembangan untuk sektor pariwisata sebaiknya memperhatikan faktor lingkungan dan makna simbolis yang berkaitan dengan religi masa lampau. Jalan setapak berbatu menuju kompleks situs perlu dipertahankan agar tidak menghilangkan makna simbolis nilai-nilai budaya luhur.  

Lokasi: Jl. Achmad Dahlan, lingkungan Rancapetir, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Cikoneng 

DISKUSI


TERBARU


Museum Istana A...

Oleh Kyas1 | 11 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Museum Istana Asserayah El Hasyimiah adalah museum khusus yang berlokasi di bangunan peninggalan Kerajaan Melayu terbesar di Riau, yaitu K...

Sulukan Wayang...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan tentang ragam sulukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta versi Timbul Hadi Prayitno, Had...

Musik Liturgi I...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Musik liturgi inkulturatif adalah praktik penggunaan musik yang menggabungkan unsur-unsur budaya lokal dalam perayaan liturgi Katolik. Di...

Kereta Singo Ba...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kereta Singo Barong merupakan salah satu objek seni yang tersimpan di Museum Kasepuhan Cirebon. Objek ini mengalami perubahan makna seirin...

Prasasti Kakuru...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Fisik Prasasti Kakurugan adalah sebuah tulisan Jawa Kuno. Isi/Kandungan Prasasti ini membahas tentang peran pendekar pada masa Pemerinta...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...