×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Sulawesi Utara

Asal Daerah

Minahasa

Watu Pinawetengan, Awal Mula Peradaban Minahasa

Tanggal 04 Mar 2015 oleh Muhammad Arif Nurrohman17.

Syahdan ketika Tu’ur Intana atau pemukiman awal telah dipenuhi oleh keturunan Toar’ dan Lumi’muut (suku Minahasa asli), datanglah berbagai bencana yang mengisyaratkan mereka untuk membuka pemukiman baru. Maka tibalah keturunan minahasa pada sebuah perbukitan (tonduraken), di tempat tersebut terdapat batu besar yang kemudian dinamakan dengan Watu Pinawetengan.

Pemilihan lokasi perbukitan tersebut bukan tanpa alasan, ada tiga faktor yang mendukung hal tersebut. Faktor tersebut antara lain, dekatnya lokasi perbukitan dengan sumber mata air, perbukitan tersebut dianggap sebagai lokasi yang berada di tengah-tengah wilayah Minahasa, dan tidak adanya gangguan.

Ari, juru pelihara Situs Watu Pinawetengan, ketika ditemui mengatakan, Nama Watu Pinawetengan berasal dari bahasa Minahasa, Watu artinya batu, sedangkan Pinawetengan bisa dimaknakan dengan tempat pembagian. Watu Pinawetengan dahulu digunakan oleh para leluhur (apo) sebagai tempat pertemuan dan musyawarah untuk menentukan sesuatu.

Musyawarah terpenting yang pertama kali dilakukan adalah pembicaraan mengenai pembagian wilayah yang akhirnya menghasilkan sub-etnis minahasa. Pembagian tersebut terdiri dari 9 suku, yang setiap suku mempunyai bahasa dan wilayahnya masing-masing.  Sembilan suku tersebut antara lain suku Tontempoan, suku Tombolo, suku Tonsea, suku Tolowur, suku Tonsawang, suku Pasang, suku Penosakan, suku Bantik, dan suku Siau.

Uniknya, hasil pembagian wilayah dan etnis suku Minahasa yang dilakukan di Watu Pinawetengan tersebut  digoreskan pada batu. “banyak para peneliti yang datang kesini, meneliti goresan-goresan yang terterah di batu. Mereka mengatakan ini bahasa simbol, namun belum ada yang berhasil menterjemahkannya,” begitu tutur Ari melanjutkan.

Selain awalnya digunakan sebagai tempat bermusyawarah membagi wilayah suku Minahasa, Watu Pinawetengan juga digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga Minahasa. Hal ini dilakukan sebagai ajang untuk mempererat tali kekeluargaan antar sesamanya. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, tercetus beberapa amanat antara lain, Masawawangan yang artinya cipta rasa saling tolong menolong, Masasan yang artinya cipta rasa persatuan dan kesatuan, danMalioliosan (baku-baku bae) yang berarti saling berbuat baik.

Menurut Ari, ketiga amanat tersebutlah yang kemudian menginspirasi Sam Ratulangi, sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia, mencetuskan slogan “Si Tou Timou Tomou Tou” yang memiliki makna, orang hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menghidupkan orang lain.

Tidak jauh dari Watu Pinawetengan, terdapat batu-batu lain, batu tersebut adalah Watu Kopero dan Watu Siouw Kurur. Kedu batu ini menjadi tanda bahwa di tempat tersebut terdapat makam para leluhur suku Minahasa.

Mengingat arti penting Watu Pinawetengan sebagai awal mula peradaban suku Minahasa di nusantara, pada 1 Desember 1974, HV Worang, sebagai Gubernur Sulawesi Utara pada saat itu meresmikan berdirinya Situs Watu Pinawetengan. Kemudian berdasarkan UU No 11 tahun 2010, Situs Watu Pinawetengan diangkat menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Status tersebut membuktikan, Watu Pinawetengan bukan hanya seenggok batu, tetapi dari sanalah awal mula peradaban Minahasa dibangun dan nilai-nilai kemanusiaan diwariskan.

DISKUSI


TERBARU


Museum Istana A...

Oleh Kyas1 | 11 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Museum Istana Asserayah El Hasyimiah adalah museum khusus yang berlokasi di bangunan peninggalan Kerajaan Melayu terbesar di Riau, yaitu K...

Sulukan Wayang...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan tentang ragam sulukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta versi Timbul Hadi Prayitno, Had...

Musik Liturgi I...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Musik liturgi inkulturatif adalah praktik penggunaan musik yang menggabungkan unsur-unsur budaya lokal dalam perayaan liturgi Katolik. Di...

Kereta Singo Ba...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kereta Singo Barong merupakan salah satu objek seni yang tersimpan di Museum Kasepuhan Cirebon. Objek ini mengalami perubahan makna seirin...

Prasasti Kakuru...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Fisik Prasasti Kakurugan adalah sebuah tulisan Jawa Kuno. Isi/Kandungan Prasasti ini membahas tentang peran pendekar pada masa Pemerinta...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...