|
|
|
|
|
|
Abyasa Grogol Tanggal 28 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kisah Abyasa Grogol bermula dari mimpi buruk Dewi Durgandini tentang Perang Bratayuda, yang ia ceritakan kepada Prabu Kresna Dwipayana dan Resiwara Bisma. Prabu Kresna Dwipayana menjelaskan bahwa perang tersebut adalah takdir dewata antara Kurawa dan Pandawa untuk memperebutkan Hastina. Dewi Durgandini merasa bersalah atas keserakahannya di masa lalu yang menjadi pemicu perang. Meskipun Resiwara Bisma mencoba menghiburnya dengan berjanji akan mendidik keturunan mereka agar berbudi luhur, Dewi Durgandini memutuskan untuk bertapa sampai mati di Gunung Saptaarga untuk menebus dosanya. Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, kedua permaisuri Prabu Kresna Dwipayana, mendengar kabar ini dan memutuskan untuk ikut bertapa. Mereka berharap pertapaan mereka dapat mencegah terjadinya Perang Bratayuda, meskipun Prabu Kresna Dwipayana telah menjelaskan bahwa perang itu adalah ketetapan takdir. Mereka bersumpah lebih baik mati daripada melihat keturunan mereka berperang. Mereka menyerahkan pengasuhan bayi Raden Kuru, Raden Pandu, dan Raden Widura kepada para pelayan mereka yang keturunan brahmana: Ken Purici, Ken Bila, dan Ken Kesuya. Prabu Kresna Dwipayana mengawal keberangkatan ketiga wanita itu ke Gunung Saptaarga. Setelah mereka masuk ke sanggar pemujaan, Prabu Kresna Dwipayana menunggui selama tiga puluh hari. Tiba-tiba terdengar ledakan dan ia menemukan Dewi Durgandini, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika telah meninggal dunia. Kematian mereka dalam pertapaan diyakini sebagai pengabulan keinginan mereka oleh dewata. Setelah upacara pemakaman dan masa berkabung, Prabu Kresna Dwipayana kembali ke Hastina dengan perasaan sedih. Akibat duka cita atas kepergian mereka, Prabu Kresna Dwipayana memerintahkan pembangunan sarana perburuan di Hutan Tunggul sebagai tempat berwisata untuk melepaskan beban pikiran. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh Patih Jayayatna dan Arya Banduwangka. Prabu Kresna Dwipayana sangat puas dengan hasilnya dan menghabiskan beberapa hari di sana. Sejak saat itu, ia dikenal juga dengan julukan Sang Ratu Tunggul.
Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita.
Sumber: http://albumkisahwayang.blogspot.co.id/2016/04/abyasa-grogol.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |