|
|
|
|
|
|
Aksara Incung Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Aksara Incung adalah tulisan yang telah dipergunakan oleh rakyat Kerinci sebelum datangnya tulisan Arab-Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Kerinci. Tulisan ini disimpan sebagai pusaka turun temurun dan memiliki ciri khas yang berbeda dengan tulisan Rencong Rejang dan tulisan-tulisan Melayu Tengah, menunjukkan hasil karya nenek moyang orang Kerinci yang berumur ratusan tahun.
Aksara Incung berasal dari Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Kerinci merupakan satu-satunya daerah di Sumatera bagian tengah yang memiliki aksara sendiri. Di Sumatera, terdapat 4 wilayah induk penyebaran aksara daerah yaitu Batak, Kerinci, Rejang, dan Lampung. Daerah Kerinci sendiri telah mempunyai hubungan politik dan kebudayaan dengan Minangkabau di sebelah Utara dan Jambi di sebelah Timur. Penulisan "surat incung jawa palimbang" dalam naskah kuno Kerinci menunjukkan bahwa penyebaran aksara Incung sebagai tulisan lingua franca mencapai daerah Sumatera bagian Selatan pada zaman tersebut, yaitu daerah Lampung dan Rejang yang disebut sebagai 'jawa palimbang' oleh orang Kerinci zaman dahulu.
Diduga orang Kerinci telah menggunakan tulisan Incung sejak zaman sesudah adanya prasasti Sriwijaya abad ke-7 di Karang Berahi (Kabupaten Merangin) yang bertuliskan Pallawa. Aksara Incung pada awalnya ditulis dengan memakai sejenis benda runcing dan guratannya mirip dengan tulisan paku aksara Babilonia Kuno. Aksara ini sudah dipergunakan oleh orang Kerinci selama berabad-abad sesudah aksara Pallawa dikenal oleh bangsa Melayu Sumatera. Inspirasi lahirnya aksara Incung pada orang Kerinci Kuno didasari atas pemikiran pentingnya untuk pendokumentasian berbagai peristiwa kehidupan, kemasyarakatan, sejarah, tulis-menulis, dan lain-lain. Daerah Kerinci berdasarkan bukti-bukti temuan arkeologi, dalam sejarah kebudayaan Nusantara merupakan daerah yang sangat tua.
Bahasa yang dipakai dalam penulisan naskah-naskah Incung adalah bahasa Kerinci Kuno, yang merupakan lingua franca suku Kerinci zaman dahulu. Fonetis yang terdapat dalam naskah Incung umumnya memakai bahasa Melayu. Bahasa Kerinci Kuno ini merupakan bagian dari bahasa Melayu zaman lampau yang penyebarannya meluas dari Madagaskar sampai ke lautan Pasifik. Meskipun demikian, ada kata-kata Kerinci yang tidak ditemui di daerah penyebaran bahasa Melayu lainnya, yang merupakan ‘local geneus’ yang berkembang sesuai dengan lingkungan alam dan budaya lokal. Perbedaan ini berakar dari latar belakang bahwa induk suku Kerinci berasal dari Proto Melayu, dan proses sejarah orang Kerinci berbeda dengan daerah Melayu lainnya, karena pemakaian aksara maupun fonetis bahasanya mendapat pengaruh lingkungan alam dan budaya lokal Kerinci.
Sumber: https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/16/aksara-incung-jejak-peradaban-tua-kerinci
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |