|
|
|
|
|
|
Anyaman Pandan Paninggahan Tanggal 28 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Anyaman pandan adalah kerajinan tangan tradisional yang diwariskan secara turun temurun di Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Keterampilan ini didapatkan melalui sosialisasi informal antar generasi dan memanfaatkan bahan baku pandan dari alam sekitar. Menganyam telah menjadi identitas dan warisan tradisi bagi perempuan Paninggahan, bahkan ada ungkapan 'jangan mengaku orang (perempuan) Paninggahan kalau tidak bisa menganyam'. Meskipun sulit dijelaskan kapan kerajinan ini bermula, tradisi lisan dan catatan sejarah menunjukkan keberadaannya sejak abad-abad yang lalu.
Di Kabupaten Solok, Paninggahan merupakan daerah paling produktif dalam pengembangan kerajinan anyaman pandan. Pada tahun 1983/1984, Paninggahan tercatat menghasilkan 20.000 m² dan menyerap 1.000 orang tenaga kerja perempuan. Angka ini jauh melampaui daerah lain seperti Muaro Pingai dan Bukit Kandung. Aktivitas transaksi jual beli tikar pandan di pasar nagari Paninggahan terjadi setiap hari Kamis, dan pengrajin juga membawa hasil anyaman ke pasar Sumani pada hari Minggu jika terdesak kebutuhan.
Pada awalnya, hasil anyaman digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri di lingkungan rumah tangga dan kerabat. Namun, seiring terbukanya peluang pasar dan tuntutan ekonomi, kerajinan anyaman pandan Paninggahan berkembang menjadi salah satu sumber penghasilan. Aktivitas menganyam ini menjadi sumber ekonomi tambahan atau pokok, sejalan dengan kegiatan pertanian, dan membantu rumah tangga petani tidak hanya bergantung pada usaha tani. Industri kecil dan rumah tangga seperti ini penting untuk memberikan peluang usaha, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan menekan migrasi tenaga kerja dari pedesaan.
Pekerjaan menganyam di Paninggahan didominasi oleh kaum perempuan. Mereka terlibat penuh dalam setiap tahapan, mulai dari mendapatkan dan mengolah bahan baku pandan, proses pembuatan, hingga memasarkan produk. Perempuan juga sering mengambil peran sebagai pedagang pengepul hingga pengecer. Menganyam sering dilakukan sebagai pekerjaan sambilan secara rutin untuk mengisi waktu luang setelah membantu kaum laki-laki mengolah lahan pertanian, biasanya pada sore hari hingga larut malam. Pada masa lalu, fenomena berdagang keliling atau "bajojo" anyaman tikar pandan marak dilakukan perempuan ke berbagai tempat di Sumatera Barat, terutama saat masa sulit seperti pergolakan kemerdekaan hingga pasca PRRI sampai tahun 1960-an.
Sumber: https://teraszaman.blogspot.com/2011/02/menguak-sejarah-perkembangan-anyaman.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Anyaman Pandan Paninggahan — Motif Kain, Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |