|
|
|
|
|
Batik Lasem adalah batik yang dikenal di Lasem, kota di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dijuluki sebagai Kota Batik. Sejarah batik Lasem sudah ada sejak masa Majapahit hingga era kedatangan Cheng Ho ke Nusantara pada abad ke-15. Coraknya merupakan perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa. Pada awal abad ke-20, salah satu ragam desain corak batik temuan di Rumah Tjoa, Lasem, menggambarkan gaya pesisir yang lazim dijumpai pada khasanah batik Cirebon, Pekalongan, Semarang, Kudus, Lasem, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Madura. Namun corak di rumah keluarga Tjoa ini memiliki permainan warna dan pola bunga di luar pakem corak Tionghoa atau Eropa yang beredar sebelumnya. Batik Lasem ini sempat mengalami masa kejayaan sekitar awal abad ke-19, ditandai dengan ekspornya hingga ke beberapa negara Asia seperti Singapura, Thailand, dan Suriname.
Kekhasan motif batik Lasem meliputi motif lok can, burung hong, naga, sekar jagad, buketan, kendoro kendiri, grinsing, kawung, dan lerek. Warna pada Batik Lasem pun berani, seperti merah darah ayam yang dikenal sebagai "getih pitik" yang merepresentasikan budaya Tionghoa. Selain itu, ada warna biru indigofera yang merupakan representasi budaya Eropa, dan coklat soga/tegeran sebagai simbol budaya Jawa.
Seiring perkembangan zaman, batik Lasem menghadapi situasi stagnan dan tantangan untuk bertahan hidup. Riset Yayasan Lasem Heritage menunjukkan adanya beberapa masa krusial dalam perkembangan perubahan desain motif batik Lasem, yaitu pada tahun 1890-an, 1930-an, 1942-1945, 1965-1970, 1980-1990, dan masa 2000-an setelah Batik Indonesia menjadi Warisan Dunia (UNESCO). Pandemi Covid-19 (2020-2022) juga mempersulit upaya pelestarian. Tantangan lainnya meliputi kurangnya regenerasi pembatik karena generasi muda memilih pekerjaan bergaji tetap atau UMR, dampak kain printing motif batik, serta kebutuhan untuk meningkatkan akses generasi muda terhadap batik, baik sebagai artisan maupun konsumen dengan cita rasa kekinian yang tetap berakar pada tradisi. Untuk mengatasi tantangan ini, Yayasan Lasem Heritage bekerja sama dengan Bank Indonesia melalui program pendampingan "Kartini Bangun Negeri (KABARI) dari Rembang" yang diresmikan pada 25 Oktober 2022. Program ini tidak hanya mendorong produktivitas pembatik tetapi juga memperkuat ekosistem batik Lasem, proses regenerasi, dan diversifikasi produk dengan konsep ekonomi sirkular dan hijau ramah lingkungan. Selain itu, diadakan pula Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023 untuk meningkatkan peran serta generasi muda dalam melestarikan batik.
Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/133770926/semangat-kartini-mengembalikan-pesona-rona-wastra-batik-lasem
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |