|
|
|
|
|
Sejarah perkembangan batik Pekalongan dapat ditelusuri sejak abad ke-16, ketika pengaruh kerajaan Islam mulai berkembang di Jawa. Kerajinan batik, awalnya kesenian keraton, menyebar ke masyarakat pesisir utara Jawa, termasuk Pekalongan, diperkirakan sejak masa Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Kesenian batik di Pekalongan, Tegal, Indramayu, hingga Tasikmalaya pada awalnya dipengaruhi oleh Keraton Cirebon. Secara khusus di Pekalongan, perkembangan motif batik juga dipengaruhi oleh kultur Cina dan Arab. Kampung Arab di Pekalongan bahkan telah menjadi sentra pengrajin batik sejak Abad ke-16. Pengaruh pendatang Cina terlihat dari penyerapan pola hiasan keramik Tiongkok, seperti bentuk burung, naga, dan kupu-kupu, ke dalam ragam motif batik Pekalongan. Batik Pekalongan juga dipengaruhi oleh corak Mataram Islam dari pedalaman Jawa, terutama setelah Perang Diponegoro (1825-1830) ketika banyak abdi dalem dan kerabat Keraton Yogyakarta bermigrasi ke berbagai daerah. Posisi Pekalongan sebagai kota bandar yang sibuk membuat perdagangan batik berkembang pesat, bahkan di era kolonial. Keragaman kultur menghasilkan variasi motif dan warna batik Pekalongan yang lebih dinamis dibanding batik Solo atau Yogyakarta. Kusnin Asa (2006:138) menyebutkan tiga kelompok etnis (Tionghoa, Arab, pribumi) yang menopang industri kerajinan batik Pekalongan, dan pertemuan budaya ketiganya membentuk ciri khas batik Pekalongan. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), muncul motif batik Jawa Hokokai yang mengadopsi ornamen susomoyo mirip ragam hias kimono. Perkembangan industri batik Pekalongan mengalami lompatan pesat pada dekade 1950-an, didorong oleh program Benteng Presiden Soekarno yang mendukung pengusaha nasional. Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), yang saat itu memegang lisensi impor kain mori, turut memacu lahirnya koperasi pengrajin batik di Pekalongan seperti Koperasi Batik Setono (KBS) dan PPIP. Industri batik Pekalongan mencapai masa kejayaan hingga awal 1970-an. Meskipun teknik printing pada 1960-an sempat membuat banyak pengrajin batik tradisional gulung tikar, industri batik Pekalongan mampu bertahan dengan beradaptasi memproduksi batik sablon atau printing sejak akhir 1970-an, sambil tetap mempertahankan produksi batik tulis. Pada tahun 2005, tercatat masih ada sekitar 300 usaha batik aktif di Pekalongan, jumlah terbanyak di Indonesia untuk ukuran kota.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan beragam budaya telah membentuk dinamika motif dan corak batik di daerah tersebut, sehingga beberapa motif dikenal sebagai identitas khas batik Pekalongan.
Sumber: https://tirto.id/sejarah-perkembangan-batik-pekalongan-ragam-motif-khasnya-gAuj
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Batik Pekalongan — Motif Kain, Pekalongan · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |