|
|
|
|
|
|
Hadro Betawi Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Hadro Betawi adalah salah satu kesenian Betawi yang lekat menghadirkan nuansa religi dan masih berkembang sampai sekarang. Dibandingkan dengan rebana ketimpring yang menonjolkan fungsi ritual, hadro Betawi lebih mengedepankan fungsi hiburan. Hampir tidak ada lagu dalam hadro yang dianggap sakral. Seluruh lagu dalam hadro lebih banyak menampilkan keterampilan musik dan keindahan vokal. Hadro berukuran antara 25 cm hingga 35 cm, lebih besar dari rebana ketimpring, dan pada kayu kelongkongannya dipasang tiga pasang lingkaran logam yang berfungsi sebagai kecrek. Hadro Betawi juga memiliki ciri khas berupa "digendangin", yaitu dipukul menyerupai permainan gendang.
Hadro Betawi diperkirakan berawal dari Jakarta Selatan, kemudian menyebar ke wilayah Jakarta Pusat. Hal ini karena banyak grup hadro di Jakarta Selatan yang lebih menonjol dibandingkan wilayah lain di Jakarta. Irama pukulannya juga lebih dekat dengan musik rakyat Betawi di wilayah pinggiran, seperti rebana biang, tanjidor, dan topeng Betawi.
Almarhum Modehir adalah tokoh legendaris dalam kesenian hadro, meninggal sekitar tahun 1960. Ia dikenal memiliki keterampilan teknis yang baik meskipun tuna netra. Jari tangan kanan dan kirinya sangat hidup sehingga menghasilkan variasi pukulan yang kaya. Ia juga bisa memukul rebana dengan kaki kanannya, yang disebut seniman hadro sebagai 'over acting' dan hanya bisa dilakukan oleh tuna netra. Haji Murtadlo dari Lenteng Agung Jakarta Selatan menyebut bahwa Modehir memperkaya irama pukulan hadro karena terinspirasi dari suara mesin batik cap yang ia dengar sehari-hari di rumahnya.
Hadro berkembang di beberapa wilayah Jakarta Pusat, seperti Grogol Selatan, Kalibata, Duren Tiga, Utan Kayu, dan Kramat Sentiong.
Jika rebana ketimpring memiliki fungsi ritual yang menonjol, ritual hadro lebih mengedepankan fungsi hiburan. Hampir tidak ada lagu dalam hadro yang dianggap sakral, layaknya Asyraqal dalam pergelaran rebana ketimpring. Seluruh lagu dalam hadro lebih banyak menampilkan keterampilan musik dan keindahan vokal. Apabila dalam pembacaan syair Syaraful Anam banyak dibacakan vokal solo berupa Rawi dan doa, dalam pergelaran Hadro Betawi kedua hal tersebut tidak ada. Sebagai gantinya dibacakan atau dimainkan lagu-lagu Rebana Dor atau Yalil. Perbedaan paling prinsip lainnya adalah hadro Betawi 'digendangin' yang berarti dipukul menyerupai permainan gendang.
Sumber: https://www.senibudayabetawi.com/7082/kesenian-hadro-betawi-yang-masih-eksis-hingga-sekarang.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |