|
|
|
|
|
Hikayat Prang Sabi adalah sebuah karya sastra berbentuk epos yang memiliki pengaruh besar dalam mengobarkan semangat perlawanan masyarakat Aceh terhadap penjajahan Belanda. Hikayat ini berfungsi sebagai dakwah, dibacakan dan disyairkan secara terus menerus untuk memupuk semangat jihad fi sabilillah. Isinya secara tegas mengajak orang Aceh untuk berperang melawan 'kaphe' (kafir) Belanda sebagai bagian dari fardhu ain, dengan janji surga bagi yang mati syahid.
Hikayat ini memuat empat kisah utama yang bersifat fiktif, namun bertujuan untuk memotivasi perjuangan. Di dalamnya juga diselipkan janji-janji imbalan, seperti surga Firdaus dan bidadari surga, bagi para pejuang yang gugur di medan perang demi membela agama. Penggalan syairnya menunjukkan seruan untuk berperang sabil sebagai ibadah yang paling mulia.
Sastra puisi ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi para pejuang Aceh. Hikayat ini terus disebarkan dari pejuang ke pejuang, ulama ke masyarakat, dan bahkan dari ibu ke anak sebagai pengantar tidur. Pembacaan hikayat sebelum terjun ke medan perang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam kebudayaan Melayu. Hikayat Prang Sabi tidak hanya menjadi sastra perlawanan, tetapi juga manifestasi patriotisme dan ketaatan, serta media pemersatu bangsa Aceh dalam mengusir penjajah.
Hikayat Prang Sabi memuat empat cerita, yaitu Kisah Ainul Mardhiah, Pasukan Gajah, Sa'id Salmy, dan Muhammad Amin (Kisah budak mati hidup kembali). Pada bait-bait pertamanya, Teungku Chik Pante Kulu memuji sahabatnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, dengan kutipan: "Amma Ba'du teuma dudo, keu Tjhik di Tiro beunadai Nabi, ulama laen tan tawakai, hana sagai tem prang sabi." (Adapun kemudian daripada itu, maka Teungku Chik di Tiro adalah menjadi ganti Nabi, ulama yang lain tiada bertawakkal kepada Tuhan, tiada sedikit juga mau berperang sabil).
Hikayat Prang Sabi berfungsi untuk membangkitkan semangat jihad melawan Belanda. Karya ini sangat berpengaruh bagi masyarakat Aceh dalam mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Ketika Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman menjelaskan soal perang melawan Belanda melalui ceramah, Teungku Chik Pante Kulu melanjutkannya dengan membacakan Hikayat Prang Sabi.
Teungku Chik Pante Kulu mengarang Hikayat Prang Sabi pada tahun 1881 Masehi, saat pelayaran antara Jeddah dan Penang. Inspirasi penulisan didorong kesadarannya akan pengaruh besar syair-syair Hassan bin Tsabit dalam mengobarkan semangat jihad pada zaman Rasulullah. Setelah disenandungkan, hikayat ini berhasil menarik rakyat Aceh untuk bergabung dalam pasukan perang dan mendapat kedudukan yang baik dalam jiwa mereka.
Sumber: https://insania.id/hikayat-prang-sabi-tengku-cik-pante-kulu, https://nu.or.id/tokoh/mengenal-teungku-chik-pante-kulu-pengarang-hikayat-prang-sabi-ZHIpS
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |