|
|
|
|
|
|
Kean Santang Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Dahulu kala di daerah Pasundan, terdapat kerajaan Pajajaran dengan ibu kota Galuh (dekat Ciamis), yang kemudian berpindah ke Pakuan (kini Bogor). Rajanya adalah Prabu Siliwangi, yang memiliki ibu bernama Purbaendah. Kean Santang adalah putra Purbaendah, yang berarti ia sepupu Prabu Siliwangi. Suatu ketika, Kean Santang mendengar tentang agama baru, Islam, di pesisir utara dan mempelajarinya hingga ke Mekah. Setelah bertahun-tahun, saat hendak pulang, Sultan Mekah menitipkan surat untuk Maulana Yusuf di Banten, Syekh Makhdum di Cirebon, dan Prabu Siliwangi di Pajajaran. Dalam pertemuannya dengan Maulana Yusuf dan Syekh Makhdum, terungkap bahwa Prabu Siliwangi berkali-kali menolak masuk Islam dan tidak mengakui kekuasaan Banten. Mereka membicarakan kemungkinan penggunaan kekerasan jika Kean Santang gagal membujuk Prabu Siliwangi. Pasukan Banten dan Cirebon bersiap di luar kota, sementara Kean Santang masuk istana untuk menyampaikan surat Sultan Mekah, namun Prabu Siliwangi tetap menolak. Kean Santang kembali kepada sekutunya dengan rencana untuk kembali diam-diam pada malam hari bersama 500 pasukan. Prabu Siliwangi mengetahui gabungan pasukan Banten, Cirebon, dan Demak di luar kota. Menyadari tidak mungkin menang, ia membagi dua pengikut dan pasukannya. Separuh ikut bersamanya ke dalam rimba menuju Pondok Gedeh, dan sebagian anggota keluarganya (Putri Purnamasari dan suaminya, Raden Bagus Kumbang Setra) tersesat. Separuh lainnya, dipimpin Kyai Mas Morogol dan Rajamantri, tetap tinggal untuk menjebak lawan. Kean Santang memasuki istana yang sepi dan menancapkan tongkat dekat singgasana. Ketika pasukan Pajajaran mengepungnya, ia menawarkan untuk menyelesaikan masalah tanpa pertumpahan darah: jika pihak Pajajaran mampu mencabut tongkat itu, Kean Santang akan mundur. Kyai Mas Morogol tidak sanggup mencabutnya, dan ia bersama Rajamantri bergabung dengan Prabu Siliwangi di Pondok Gedeh. Menyadari bahwa Kean Santang telah merebut Pakuan tanpa pertumpahan darah, Prabu Siliwangi mengumpulkan pengikutnya, termasuk putranya Prabu Anom Guru Gantangan. Ia mengumumkan bahwa Pakuan dan Pajajaran telah dikuasai Banten, dan ia tidak ingin memeluk agama baru. Oleh karena itu, ia beserta 800 pengikut setianya memutuskan untuk lenyap dari dunia fana melalui bersemedi, menyisakan patung-patung mereka yang disebut Arca Domas. Setelah kemenangannya, Kean Santang bersama pasukan Cirebon dan Demak pergi ke Cirebon. Setelah bertemu Syekh Makhdum, ia kembali lagi ke Pajajaran untuk membubarkan pasukan Pajajaran, lalu menuju Nagara untuk menyebarkan Islam dan menetap di sana karena memiliki banyak pengikut. Di Pantai Cilauteureun, Kean Santang sering bertapa di atas batu karang. Setelah meninggal, makamnya di Godog masih diziarahi banyak orang. Namun, ada juga yang tidak bersedia masuk Islam dan tetap teguh pada keyakinan mereka. Merasa terdesak, mereka melenyapkan diri dengan mengenakan pakaian tertentu yang diberi mantra, dan kemudian tampak sebagai harimau, yang disebut 'harimau jadi-jadian' atau Harimau Sancang, yang menghuni Hutan Sancang di Garut, Jawa Barat.
Sumber: https://borobudurwriters.id/kolom/cerita-rakyat-dan-intoleransi-kean-santang-kian-santang-kian-sontang
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |