|
|
|
|
|
|
Legenda Putri Petung Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Dahulu kala, masyarakat Paser di Kalimantan Timur hidup dalam kesederhanaan dan ketidaktenteraman karena belum memiliki pemimpin atau tata aturan bermasyarakat. Pertikaian dan pembunuhan sering terjadi, menyebabkan masyarakat sering berpindah-pindah tempat. Di tengah kondisi tersebut, muncullah dua orang misterius yang memperkenalkan diri sebagai Tumindong Doyong (yang kemudian dikenal sebagai Kaka Ukup) dan Tumindong Tau Keo. Keduanya memberikan nasihat untuk menata kehidupan yang lebih baik, dan masyarakat pun meminta Kaka Ukup menjadi pemimpin mereka, dengan Tumindong Tau Keo sebagai wakilnya. Namun, keduanya menolak karena merasa bukan keturunan raja, tetapi berjanji akan membantu masyarakat menemukan raja. Kaka Ukup kemudian berlayar tujuh kali untuk mencari raja ke "pinggir langit". Pada perjalanan ketujuh, ia bertemu penduduk di sana yang memberitahunya bahwa raja untuk Paser telah dikirim ke sana. Sebagai bukti, Kaka Ukup diberi berbagai barang kerajaan seperti ceret, tempat air, pinggan melawen, batil tembaga, gong tembaga, sumpitan akek, kipas emas, sangkutan baju, dan peti batu. Dalam perjalanan pulang, Kaka Ukup bermimpi bahwa ia harus mengambil barang apa saja yang ditemuinya. Keesokan harinya, ia menemukan satu ruas betung besar tersangkut di haluan perahunya, lalu membawanya pulang bersama barang-barang dari "pinggir langit". Betung tersebut diletakkan di atas salayan dapur. Setelah sekian lama menunggu kedatangan raja yang dijanjikan, Kaka Ukup memutuskan untuk berlayar lagi untuk kedelapan kalinya. Sepeninggal Kaka Ukop, istrinya, Itak Ukop, mengambil ruas betung itu untuk kayu bakar dan membelahnya. Di dalamnya, ia menemukan sebutir telur besar. Telur itu diletakkan di dalam pinggan melawen dekat tempat tidurnya. Tengah malam, telur itu menetas menjadi seorang bayi perempuan yang menangis. Itak Ukop memandikannya, menyelimutinya dengan kain cindai, dan merawatnya. Anak perempuan itu diberi nama Sari Sukma Dewi, dijuluki Putri Petung karena berasal dari belahan betung. Bersamaan dengan itu, kerbau putih milik Kaka Ukop juga beranak dan menghasilkan susu, yang digunakan untuk membesarkan Putri Petung hingga usia 14 tahun. Kecantikan Putri Petung pun tersiar ke mana-mana. Ketika Kaka Ukop kembali dari pelayarannya yang kedelapan tanpa hasil, ia mendengar kabar bahwa istrinya memiliki anak perempuan cantik. Ia marah besar, mengira istrinya berselingkuh, dan hendak membunuhnya. Namun, tetangganya menjelaskan kejadian sebenarnya. Kaka Ukop kemudian teringat akan janji orang di "pinggir langit" dan menyadari bahwa Putri Petung mungkin adalah raja yang dimaksud. Ia pun insaf, gembira, dan menyayangi anak angkatnya itu. Barang-barang kerajaan yang dibawanya dari "pinggir langit" kemudian diserahkan kepada Putri Petung. Pada usia 22 tahun, Putri Petung diangkat dan diakui sebagai Ratu Sadurengas oleh penduduk Paser. Namun, Putri Petung mengalami kesulitan dalam pernikahan; setiap suaminya meninggal mendadak atau lari sebelum malam pertama.
Sumber: https://cakidur.wordpress.com/2013/08/18/legenda-putri-petung
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |