|
|
|
|
|
Permainan Marraga berasal dari kata Bugis, sementara orang Makassar menyebutnya Akraga. Konon, permainan ini berasal dari Malaka dan pada awalnya hanya dimainkan oleh para bangsawan Bugis pada upacara resmi kerajaan seperti pelantikan raja dan perkawinan. Versi lain menyebutkan asalnya dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Saat ini, Marraga juga dimainkan oleh masyarakat umum, tidak hanya bangsawan.
Marraga umumnya dimainkan oleh pria, baik remaja maupun dewasa. Jumlah pemain dalam satu permainan berkisar antara 5 hingga 15 orang.
Permainan ini dilakukan di atas sebidang tanah datar yang permukaannya dibuat lingkaran dengan garis tengah minimal 6 meter. Peralatan utamanya adalah "raga", sejenis bola yang terbuat dari rotan yang dibelah, diraut halus, kemudian dianyam. Alat ini umumnya berdiameter 15 cm. Terkadang, gendang digunakan sebagai pengiring jalannya permainan.
Peraturan permainan marraga cukup sederhana. Pemain yang menerima raga dari pemain lain harus melambungkan raga tersebut agar tidak terjatuh sebelum dioperkan lagi. Raga dilambungkan menggunakan kaki, tangan, bahu, dada, dan anggota tubuh lainnya, namun tidak boleh dipegang. Tinggi lambungan raga dapat bervariasi: hingga 3 meter secara tegak lurus (sempak sarring/anrong sempak), sedikit melampaui kepala (sepak biasa), atau di bawah pusar (sempak caddi), tergantung keinginan dan keahlian pemain. Pemain yang mahir (niak sempakna atau niak belona) tidak hanya mampu mempertahankan raga agar tidak jatuh, tetapi juga dapat melambungkan raga sesuai persyaratan permainan (bajiki anrong sempakna), yang meliputi kepintaran mengambil raga, disiplin, kemampuan menghidupkan suasana bermain (caraddeki anggalle raga), serta variasi sepakan yang sulit ditiru pemain lain (jai sempak masagalana).
Permainan Marraga mengandung nilai-nilai budaya seperti kerja keras, kerja sama, kecermatan, demokrasi, dan sportivitas. Nilai kerja keras dan kerja sama terlihat dari upaya pemain untuk menjaga raga agar tidak jatuh. Kecermatan tercermin dari usaha melambungkan raga ke sasaran. Demokrasi tercermin dari tidak adanya monopoli kesempatan bermain, dan sportivitas ditunjukkan oleh pemain yang berlapang dada keluar arena setelah menjatuhkan raga.
Marraga adalah permainan yang memadukan unsur olahraga dan seni, memerlukan kecekatan, ketangkasan, dan kelincahan. Permainan ini umumnya dimainkan oleh pria, baik remaja maupun dewasa. Nama "Marraga" berasal dari bahasa Bugis, sementara orang Makassar menyebutnya "akraga".
Dalam satu permainan, jumlah pemainnya antara 5 hingga 15 orang.
Sumber: https://uun-halimah.blogspot.com/2009/08/permainan-marraga-sulawesi-selatan.html, http://uun-halimah.blogspot.com/2009/08/permainan-marraga-sulawesi-selatan.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |