|
|
|
|
|
|
Masjid Agung Wolio Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Masjid Agung Wolio, juga dikenal sebagai Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu'min, terletak di kompleks benteng Keraton Kesultanan Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara. Masjid ini dibangun pada tahun 1712 oleh Sultan Sakiuddin Darul Alam setelah memenangi perang saudara, menggantikan masjid yang lebih tua yang musnah terbakar. Para ahli meyakini masjid ini adalah masjid tertua di Sulawesi Tenggara. Masjid ini berukuran 21 x 42 meter dan memiliki arsitektur yang kental dengan pengaruh Islam di Pulau Jawa, ditandai dengan bentuk atap bertumpuk (joglo).
Masjid Agung Wolio tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan salat, tetapi juga sebagai pusat perayaan tradisi keagamaan masyarakat setempat. Arsitektur masjid ini kaya akan makna filosofis yang erat kaitannya dengan tubuh manusia dan ajaran Islam. Setiap bagian, mulai dari atap hingga jumlah anak tangga, memiliki simbolisme yang mendalam. Selain itu, masjid ini juga menjadi tempat untuk acara keagamaan seperti Haroa (memperingati kelahiran Nabi Muhammad) dan selamatan Idul Fitri serta Idul Adha. Haroa dilaksanakan perorangan atau kelompok keluarga dengan pembacaan syair-syair memuji Nabi Muhammad (barzanji) dan ditutup dengan doa.
Sebelumnya, di belakang mihrab terdapat "pusena tanah" (pusatnya bumi) berupa pintu gua vertikal, yang diyakini masyarakat sebagai tempat di mana suara azan dari Mekkah sering terdengar atau bisa melihat kerabat yang sudah meninggal jika melongok ke dalamnya. Namun, Imam Masjid, La Ode Ikhwan, membantah mitos tersebut dan menjelaskan bahwa lubang itu sebenarnya adalah pintu rahasia yang dibangun untuk menyelamatkan Sultan Buton dan keluarganya saat diserang musuh. Lubang ini memiliki lima jalan rahasia yang mengarah ke berbagai tempat di kompleks benteng. Saat rehabilitasi pada 1930-an, pintu gua tersebut ditutup semen dan di atasnya dibuat tempat imam memimpin salat. Di puncak anak tangga masuk, terdapat tempayan berisi air yang dulunya digunakan untuk berwudu, tetapi sekarang berfungsi sebagai penghias.
Pengurus masjid berjumlah 16 orang, terdiri atas satu kadi (lakina agama), satu imam, empat khatib (hatibi), dan 10 bilal (moji). Angka 16 melambangkan angka kehidupan (nutfah), merujuk pada proses ditiupkannya roh pada janin di hari ke-160. Perangkat masjid ini dipilih dan ditempa oleh pemuka agama dan tokoh masyarakat, dan tradisi ini masih dipertahankan seperti pada masa Kesultanan Buton.
Sumber: http://newsflashkendari.blogspot.com/2009/01/masjid-di-pusat-bumi.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |