×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Sulawesi Tenggara

Asal Daerah

Kesultanan Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara

Masjid Agung Wolio

Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 .

Deskripsi

Masjid Agung Wolio, juga dikenal sebagai Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu'min, terletak di kompleks benteng Keraton Kesultanan Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara. Masjid ini dibangun pada tahun 1712 oleh Sultan Sakiuddin Darul Alam setelah memenangi perang saudara, menggantikan masjid yang lebih tua yang musnah terbakar. Para ahli meyakini masjid ini adalah masjid tertua di Sulawesi Tenggara. Masjid ini berukuran 21 x 42 meter dan memiliki arsitektur yang kental dengan pengaruh Islam di Pulau Jawa, ditandai dengan bentuk atap bertumpuk (joglo).

Struktur & Bagian

  • Atap bertumpuk (joglo): Melambangkan kepala manusia.
  • Bangunan utama: Melambangkan badan manusia.
  • Fondasi: Melambangkan kaki manusia.
  • Jendela: Berjumlah 12 buah, simbol 12 lubang di tubuh manusia.
  • Tiang utama penyangga: Berjumlah 313 buah, sama dengan jumlah ruas tulang di tubuh manusia.
  • Beduk: Ditempatkan di tengah ruangan masjid, melambangkan jantung di dalam tubuh manusia.
  • Mihrab: Melambangkan organ hati manusia, dengan empat anak tangga menuju mihrab yang menggambarkan empat sahabat utama Nabi.
  • Lantai: Terdiri dari tiga lantai yang dihubungkan tangga kayu. Lantai satu dan dua dulunya untuk salat, lantai tiga untuk menyimpan inventaris. Kini hanya lantai satu yang digunakan untuk salat.
  • Anak tangga masuk: Berjumlah 19 buah, 17 di antaranya melambangkan jumlah rakaat salat lima waktu ditambah dua rakaat salat tahiyyatul masjid.

Fungsi & Filosofi

Masjid Agung Wolio tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan salat, tetapi juga sebagai pusat perayaan tradisi keagamaan masyarakat setempat. Arsitektur masjid ini kaya akan makna filosofis yang erat kaitannya dengan tubuh manusia dan ajaran Islam. Setiap bagian, mulai dari atap hingga jumlah anak tangga, memiliki simbolisme yang mendalam. Selain itu, masjid ini juga menjadi tempat untuk acara keagamaan seperti Haroa (memperingati kelahiran Nabi Muhammad) dan selamatan Idul Fitri serta Idul Adha. Haroa dilaksanakan perorangan atau kelompok keluarga dengan pembacaan syair-syair memuji Nabi Muhammad (barzanji) dan ditutup dengan doa.

Ciri Khas/Ornamen

Sebelumnya, di belakang mihrab terdapat "pusena tanah" (pusatnya bumi) berupa pintu gua vertikal, yang diyakini masyarakat sebagai tempat di mana suara azan dari Mekkah sering terdengar atau bisa melihat kerabat yang sudah meninggal jika melongok ke dalamnya. Namun, Imam Masjid, La Ode Ikhwan, membantah mitos tersebut dan menjelaskan bahwa lubang itu sebenarnya adalah pintu rahasia yang dibangun untuk menyelamatkan Sultan Buton dan keluarganya saat diserang musuh. Lubang ini memiliki lima jalan rahasia yang mengarah ke berbagai tempat di kompleks benteng. Saat rehabilitasi pada 1930-an, pintu gua tersebut ditutup semen dan di atasnya dibuat tempat imam memimpin salat. Di puncak anak tangga masuk, terdapat tempayan berisi air yang dulunya digunakan untuk berwudu, tetapi sekarang berfungsi sebagai penghias.

Perangkat Masjid

Pengurus masjid berjumlah 16 orang, terdiri atas satu kadi (lakina agama), satu imam, empat khatib (hatibi), dan 10 bilal (moji). Angka 16 melambangkan angka kehidupan (nutfah), merujuk pada proses ditiupkannya roh pada janin di hari ke-160. Perangkat masjid ini dipilih dan ditempa oleh pemuka agama dan tokoh masyarakat, dan tradisi ini masih dipertahankan seperti pada masa Kesultanan Buton.

Sumber: http://newsflashkendari.blogspot.com/2009/01/masjid-di-pusat-bumi.html

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Rumah Pdri

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah PDRI adalah sebuah bangunan sederhana yang terletak di Bukittinggi, Sumatera Barat, namun memiliki makna sejarah yang sangat penting...

Opor Panggang J...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Opor Panggang Jepara adalah hidangan opor yang proses memasaknya dilakukan dengan cara dipanggang. Sumber: http://perbedaanjeparadenganku...

Opor Bakar Kudu...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Opor Bakar Kudus, atau Opor Sunggingan, adalah hidangan opor yang dimasak dengan cara dibakar. Proses pembakaran ini dilakukan hingga terd...

Situs Batu Basu...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Situs Batu Basurek adalah puluhan situs yang diduga sebagai peninggalan zaman batu, terletak di kawasan perbukitan sekitar kaki Gunung Sin...

Rumah Gadang Ga...

Oleh Kyas1 | 02 Aug 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah Gadang Gajah Maharam adalah salah satu cagar budaya di Kota Solok, Sumatera Barat. Rumah ini dulunya digunakan sebagai tempat untuk...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...