|
|
|
|
|
|
Masjid Al-hilal (katangka) Makassar Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Masjid Al-Hilal dikenal juga sebagai Masjid Katangka. Sebuah prasasti menyatakan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1603 Masehi, meskipun beberapa sejarawan meragukan informasi ini dan berpendapat bahwa masjid ini dibangun pada awal abad ke-18. Pembangunannya diduga bersamaan dengan gelombang Islamisasi besar di Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut legenda setempat, pendiri masjid ini adalah ulama terkemuka dari Sumatera Barat, bergelar Daeng Bandang. Masjid ini dianggap mewah pada masanya karena bata dipilih sebagai bahan bangunan utamanya, menunjukkan pentingnya masjid ini di masyarakat. Selain berfungsi sebagai tempat ritual, halaman masjid juga digunakan sebagai tempat pemakaman keturunan pendiri dan tokoh agama terkemuka. Rumah makam dengan kubah kecil di atas atap dibangun di atas makam pendiri dan keturunannya untuk membedakannya dari makam lain.
Masjid Katangka berdiri di Jalan Syech Yusuf, dekat perbatasan kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Makam Syech Yusuf, sufi Muslim paling terkenal di wilayah tersebut, terletak 500 meter dari masjid.
Masjid ini memiliki luas total 174,24 meter persegi.
Bangunan persegi Masjid Katangka dibangun dengan bata tebal, 120 cm. Arsitektur Joglo Jawa sangat mempengaruhi arsitektur masjid ini. Empat kolom yang ditempatkan di bagian tengah menyerupai soko guru dalam arsitektur joglo di Jawa. Namun, tidak seperti kolom dalam arsitektur tradisional Nusantara yang terbuat dari kayu, kolom Masjid Katangka disusun dari tumpukan bata, dimodelkan dalam bentuk silinder cembung seperti arsitektur Doric Yunani. Dinding dibangun di atas kolom Doric ini untuk menopang atap. Dinding memisahkan atap paling atas dari yang lebih rendah. Atap paling atas berbentuk piramida dan dilapisi dengan genteng tanah liat. Sebagai ornamen, empat jendela ditempatkan di setiap sisi dinding persegi yang ditopang oleh empat kolom. Jendela-jendela ini tidak menyediakan ventilasi silang alami. Selain itu, masjid ini memiliki serambi yang ditutupi oleh atap utama. Selain sebagai area salat tambahan, serambi ini juga digunakan sebagai tempat belajar membaca Al-Qur'an. Seseorang dapat memasuki area utama masjid setelah melewati tiga pintu. Jumlah pintu ini jelas dipengaruhi oleh arsitektur joglo Jawa yang memiliki tiga pintu sebelum mencapai ruang pribadi. Meskipun dibangun di Makassar, uniknya arsitektur masjid ini tidak dipengaruhi oleh arsitektur lokal, kemungkinan sebagai bagian dari proses modernisasi konstruksi lokal di wilayah tersebut.
Tidak ada data yang menyebutkan siapa pendiri Masjid Katangka. Asumsi sementara menyebutkan bahwa pendirinya adalah Daeng Bandang, seorang ulama terkemuka dari Padang, Sumatera Barat.
Bangunan masjid yang kokoh yang terlihat saat ini jelas pernah direnovasi karena usianya yang sangat tua. Namun, informasi rinci mengenai renovasinya masih dalam proses pengumpulan data.
Sumber: http://melayuonline.com/eng/history/dig/299/masjid-al-hilal-makasar
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |