|
|
|
|
|
|
Masjid Jami Sungai Banar Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Masjid Jami Sungai Banar adalah masjid tertua di Amuntai, berdiri pada tahun 1804 M (1218 H). Masjid ini memiliki banyak kisah aneh sejak awal berdirinya dan dipercaya sebagai tempat keramat. Awalnya, masjid ini menjadi pusat pengembangan Agama Islam di Amuntai dan sekitarnya, menarik banyak orang dari wilayah lain untuk belajar dan menuntut ilmu. Belakangan, nama masjid ini ditambahkan menjadi Masjid Jami Sungai Banar untuk menunjukkan statusnya sebagai masjid besar dan bersejarah.
Masjid Jami Sungai Banar terletak di tepi Sungai Banar, sekitar 3 km dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, tepatnya di perbatasan Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung. Pembangunannya dimulai atas saran Waliyullah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari pada tahun 1804 M, ketika belum ada masjid di Amuntai. Syekh juga memberikan sebuah Kitab Suci Al-Qur'an tulisan tangan sebagai hadiah.
Sebelum pembangunan, tiang-tiang besar dari kayu ulin yang telah disiapkan menghilang dan ditemukan di tepi sungai di lokasi masjid saat ini. Masyarakat menafsirkan kejadian ini sebagai isyarat gaib bahwa lokasi masjid harus di tempat tiang-tiang itu berada. Setelah masjid rampung, seorang pria misterius datang dan, setelah shalat, meninggalkan kantong uang. Saat kembali, ia mengusulkan nama "Sungai Banar" untuk sungai dan "Masigit Sungai Banar" untuk masjid, yang diterima masyarakat. Masyarakat meyakini pria ini adalah seorang Waliyullah.
Bangunan asli masjid berukuran 25 x 20 meter, berbentuk panggung menyerupai Rumah Adat Banjar, memakai tiang dan bertingkat. Mimbar khotbah merupakan wakaf pribadi H. Mahmud, terbuat dari kayu ulin, berukuran 3,8 m x 1 m dengan tinggi total 4,5 meter (badan 2 meter, menara 2,5 meter), dan diukir oleh dua ahli ukir, Buha dan Thahir.
Bahan-bahan rangka, lantai, dan dinding papan terbuat dari kayu ulin, sedangkan bagian atap terbuat dari sirap yang tinggi. Hingga kini, bahan baku masjid seperti kayu ulin, tiang, balok, papan, dan sirap masih dapat disaksikan di sekitar masjid.
Meskipun ada upaya penggantian nama (Masjid Baiturrahman pada 1990 dan Masjid Istiqomah pada 2000), nama-nama baru tersebut tidak populer dan masyarakat tetap menggunakan nama Masjid Sungai Banar. Akhirnya, nama masjid diperluas menjadi Masjid Jami Sungai Banar untuk menekankan statusnya sebagai masjid besar dan bersejarah.
Masjid ini telah menjadi tempat berkarya bagi banyak ulama besar, di antaranya Tuan Guru H. Abdul Qodir (lahir 1830 M), Tuan Guru H. Ahmad bin H. Abdul Qadir (lahir 1860-1944), Tuan Guru H. Ahmad Khatib bin H. Muhammad Arif (1866-1956), Tuan Guru H. Abdul Hamid bin H. Matsaleh (1870-1940), dan Tuan Guru H. Abdul Hamid bin H. Jamaluddin (1896-1951). Banyak dari mereka juga menimba ilmu di Makkah dan memiliki murid-murid terkenal yang kemudian menjadi tokoh ulama.
Sumber: http://gus7.wordpress.com/2008/05/19/ingin-naik-haji-datanglah-ke-masjid-jami-sungai-banar-amuntai-kalsel
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |