|
|
|
|
|
|
Masjid Keramat Pelajau Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Masjid Keramat Pelajau adalah salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan, berlokasi di Desa Pelajau, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Masjid ini memiliki luas 400 m2 dan dikelola oleh masyarakat secara swadaya. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat peradaban umat Islam di Barabai dan Kalimantan Selatan umumnya. Warga setempat meyakini masjid ini memiliki sejarah dan rahasia terkait penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan, sering dikunjungi untuk berziarah atau memohon hajat. Masjid ini juga menjadi bukti perjuangan melawan penjajah Belanda.
Sejarah Masjid Keramat Pelajau dimulai dari Kampung Pelajau yang telah dikenal sejak abad ke-13 M, memiliki sungai bernama Palayarum. Sungai Palayarum ini dulu merupakan urat nadi perhubungan bagi para pedagang yang juga menyiarkan agama Islam. Di tepi sungai inilah, di tempat yang disebut Pelajau, tumbuh pohon kayu besar yang rimbun. Di bawah pohon itulah dibangun tempat peristirahatan sederhana yang kemudian menjadi lokasi pembangunan masjid. Sekitar abad ke-14, utusan dari Raden Fatah dari Kerajaan Islam Demak, bersama pangeran dari Kerajaan Banjar, berjumlah tujuh orang, datang ke Pelajau menyusuri sungai dan membangun masjid di bawah pohon Pelajau. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari program Kerajaan Demak Bintoro yang membangun sembilan masjid, dengan bentuk yang sama seperti masjid-masjid di Demak. Masjid Pelajau adalah yang kelima dari sembilan masjid tersebut.
Pada tiang menara (soko guru) bangunan masjid terdapat tulisan pahat dari huruf Jawa yang memuat tulisan, tempat, nama hari, dan waktu pendirian masjid. Terdapat pula lubang pahatan panjang yang diyakini sebagai tempat penyimpanan catatan bertuliskan Allah dan silsilah orang-orang yang terlibat dalam pembangunan. Di samping itu, ditemukan gumpalan rambut yang diduga milik Raden Fatah, sebilah keris berelok sembilan, dan tombak segi tiga dengan ukiran sembilan Wali. Kubah mimbar masjid menggunakan motif pohon hayat atau "batang garing", yang dalam metodologi Dayak atau ajaran Kaharingan melambangkan kesatuan alam atas dan bawah, serta konsep dualisme seperti baik-jahat, hidup-mati. Ini menggambarkan bahwa perkembangan Islam tidak terlepas dari unsur kepercayaan lokal masyarakat Dayak (Kaharingan) dan Hindu-Buddha.
Masjid ini berjarak kurang lebih 3 sampai 5 kilometer ke arah Barat Laut dari Kota Barabai, Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Sumber: http://kalsel.antaranews.com/berita/6935/mesjid-keramat-pelajau-bangunan-mesjid-kelima-kerajaan-islam-demak
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |