|
|
|
|
|
|
Masjid Raya Sabilal Muhtadin Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Selatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam, belum memiliki sebuah masjid kebanggaan yang representatif. Keadaan ini mendorong pemerintah provinsi untuk membangun masjid agung. Pada awalnya sempat direncanakan lokasi di Jalan Lambung Mangkurat (sekarang Komplek Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan), namun akhirnya disepakati untuk memanfaatkan lokasi eks benteng dan barak tentara Belanda.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin dibangun di pusat kota Banjarmasin, tepatnya di pinggir Sungai Martapura. Lahan ini sebelumnya merupakan bekas benteng dan barak tentara Belanda. Setelah Indonesia merdeka, benteng tersebut dinamakan Benteng Tatas. Pada masa Orde Lama, bangunan benteng ini dirobohkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Kemudian, lahan bekas benteng ini dimanfaatkan untuk pembangunan masjid.
Nama "Sabilal Muhtadin" diambil dari nama kitab yang ditulis oleh ulama besar dari Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang berarti "jalan para ahli petunjuk".
Perencanaan masjid dilakukan oleh arsitek asal Bandung, Ir. Achmad Noe'man, yang juga merancang beberapa masjid terkenal lainnya di Indonesia. Pembangunan dimulai pada tanggal 10 November 1974 dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama K.H. Abdul Mukti Ali. Dana pembangunan berasal dari pemerintah dan sumbangan masyarakat, termasuk dukungan dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Masjid ini diresmikan pada tanggal 7 Juli 1981 oleh Presiden Soeharto.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin memiliki luas area 100.000 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 7.500 meter persegi. Mampu menampung 15.000 jemaah di dalam dan 7.500 jemaah di halaman. Masjid ini dilengkapi dengan lima menara: satu menara utama setinggi 45 meter dan empat menara lainnya setinggi 27 meter. Arsitekturnya mengkombinasikan gaya lokal Banjar dengan sentuhan modern. Kubah masjid berhiaskan motif ukiran khas Kalimantan Selatan.
Sumber: https://radarbanjarmasin.jawapos.com/tahulah-pian/1973149843/kisah-masjid-sabilal-muhtadin-berdiri-di-atas-benteng-dan-barak-belanda
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |