|
|
|
|
|
|
Pakeong Tanggal 28 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Pakeong adalah ritual pemanggilan hujan di Banyumas bagian Utara. Ritual ini dipahami sebagai praktik spiritual untuk memanggil turunnya hujan melalui permohonan kepada Yang Mahakuasa, dengan perantaraan bidadari Dewi Sulasih dan Dewi Nawangsari. Ritual ini diyakini telah ada sebelum masuknya Islam di Jawa, terbukti dari laku, tirakat, sesaji, mantra, dan tokoh spiritual yang berakar pada kepercayaan pra-Islam. Penggunaan honorifik “Pak” pada “Keong” dalam nama ritual ini mencerminkan resistensi masyarakat Banyumas terhadap hierarki bahasa Jawa, serta pandangan bahwa manusia dan alam (hewan) adalah mitra yang saling menghormati, bukan objek yang dimanfaatkan.
Pakeong menyimpan kosmologi yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa. Penyebutan "Pak" pada keong adalah pernyataan filosofis bahwa setiap unsur alam berhak atas rasa hormat yang sama, selaras dengan konsep ekologi kontemporer dan krisis ekologi saat ini. Ritual ini mengajarkan etika dalam berhubungan dengan alam: bukan sekadar mengeksploitasi, melainkan memohon, menghormati, dan bersyukur. Pakeong juga memiliki konsep "ecological parsimony", yaitu kemampuan mencapai hasil optimal dengan penggunaan sumber daya ekologis paling efisien, yang mencerminkan kecenderungan alam untuk memilih jalur yang hemat secara energetik dan struktural. Hujan dalam Pakeong dipahami sebagai anugerah yang diperoleh melalui keselarasan antara manusia, alam, dan Yang Maha Mengatur, menyerukan hubungan hormat dengan alam.
Meskipun sering dianggap tidak sesuai syariat atau musyrik oleh pandangan keagamaan normatif, Pakeong bisa dilihat melalui prinsip Islam Wasatiyah (Islam jalan tengah). Tradisi Islam otoritatif mengakui bahwa agama tidak datang untuk menghancurkan budaya, melainkan menyerap dan meluruskan. Pendekatan ini relevan karena esensi Pakeong sebagai permohonan hujan kepada Tuhan melalui medium budaya, secara substansial tidak jauh berbeda dengan shalat istisqa dalam tradisi Islam. Masyarakat Muslim Banyumas yang menjalankan Pakeong umumnya juga menjalankan shalat dan puasa, bagi mereka, Pakeong adalah bagian dari cara berdoa dengan bahasa leluhur mereka.
Di era informasi keagamaan yang deras, Pakeong menghadapi tantangan. Sebagian masyarakat desa mempertanyakan ritual ini dan menganggapnya tidak sesuai ajaran agama, sementara sebagian lain teguh mempertahankannya sebagai identitas dan ingatan kolektif.
Sumber: https://borobudurwriters.id/kronik-budaya-dan-sejarah/ritual-pakeong-dalam-harmonisasi-negosiasi-dan-kontestasi-terhadap-pandangan-agama-dan-masyarakat-kontemporer
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |