×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Naskah Kuno dan Prasasti

Elemen Budaya

Naskah Kuno dan Prasasti

Prasi

Tanggal 23 Oct 2026 oleh Kyas1 . Revisi 2 oleh Kyas1 pada 23 Oct 2026.

Deskripsi

Prasi adalah bentuk seni visual dan narasi cerita yang menggabungkan ukiran gambar di atas daun lontar dengan narasi cerita. Ia termasuk dalam kesusastraan Bali purwa, berupa gancaran atau prosa yang dilengkapi gambar, mengandung nilai estetika, sastra, religius, dan moral. Prasi juga diartikan sebagai gambar atau lukisan yang diukir di atas daun lontar dan memuat narasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.

Cerita yang Dimuat

Dalam sebuah prasi biasanya memuat berbagai cerita-cerita klasik, seperti epos Ramayana dan Bharatayudha, dengan menggambarkan adegan-adegan epik dan karakter-karakter utama yang didukung narasi kuat. Ada pula prasi yang memuat cerita tantri atau fabel dengan hewan sebagai karakter utamanya, yang digunakan masyarakat Bali sebagai sarana hiburan populer.

Fungsi dan Peranan

  • Sebagai media hiburan masyarakat Bali dengan gambar indah dan cerita mendalam.
  • Sebagai media untuk melestarikan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Bali.
  • Sebagai media pembelajaran melalui amanat dari kisah-kisah yang diceritakan.
  • Sebagai karya seni yang dapat mempercantik ruangan, dipajang dengan bingkai.
  • Sebagai sumber pendapatan bagi pengrajin, dibeli wisatawan sebagai buah tangan.
  • Sebagai sarana promosi budaya Bali ke masyarakat luas melalui pameran dan museum.

Cara Membuat

  1. Mengukir daun lontar menggunakan pisau kecil yang disebut pengrupak, membentuk gambar yang diinginkan.
  2. Menghitamkan ukiran dengan kemiri yang sudah dibakar hingga gosong, lalu digosokkan ke daun lontar.
  3. Membersihkan daun lontar menggunakan tisu atau kain.
  4. Menyusun seluruh lembaran daun lontar agar berurutan.
  5. Mengikat prasi yang sudah berurutan dengan tali atau benang dan uang kepeng.
  6. Memberikan bingkai dari bambu dengan ukiran ornamen Bali.

Pengrajin Terkenal

  • I Gusti Nyoman Lempad (1862 – 1978): pengrajin lontar paling ikonik di Bali, karyanya masih dipajang di berbagai galeri seni.
  • I Gusti Made Deblog (1920 – 2005): terkenal akan karya prasi dengan gaya pengukiran rumit dan penuh warna, sering menggambarkan adegan Ramayana dan Mahabharata, berperan melestarikan prasi ke generasi muda.
  • I Wayan Bendi (1930 – 2000): dikenal dengan karya yang ceria dan penuh warna, banyak membuat prasi cerita tantri/fabel, membawa seni prasi ke arah kontemporer.
  • I Nyoman Mandra (1943 – sekarang): seniman prasi yang masih aktif, karyanya menampilkan detail halus dan kekayaan warna.

Pelestarian

  • Pendidikan dan pelatihan prasi kepada generasi penerus.
  • Promosi dan pameran yang diadakan secara umum.
  • Dukungan berbagai institusi, baik pemerintah maupun NGO.
  • Kerjasama internasional, seperti pertukaran budaya dan pengakuan dunia atas prasi.
  • Mensejahterakan kehidupan para pengrajin atau seniman prasi.

Bahan & Teknik

Manuskrip lontar dibuat dari daun lontar (Barasus Flabellifer) yang dikeringkan dan diproses, berwarna krem pucat. Daun ini kuat dan fleksibel dengan serat berserat sepanjang daun. Teknik mengukir informasi kecil pada halaman berukuran sekitar 25 sentimeter panjangnya membutuhkan penglihatan sempurna, tangan yang mantap, dan ketekunan. "Pangrupak" adalah alat logam tajam dengan pegangan kayu yang digunakan untuk mengukir garis grafis halus. Efek estetika dicapai dengan pewarna hitam dari kemiri yang digosokkan di sepanjang daun, lalu kelebihan pewarna dihapus, menyingkapkan usaha praktisi dalam membuat tulisan, simbol, atau ilustrasi. Prasi adalah teknik menggambar yang sedikit berbeda, kunci utamanya adalah bersabar dan tenang untuk menghindari sobeknya daun.

Perkembangan Kontemporer

Generasi seniman baru saat ini menghidupkan kembali prasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pameran telah menampilkan karya-karya yang mengungkap kecerdikan baru. Presentasi klasik narasi Bali masih umum, namun media ini juga dieksplorasi dengan citra kartun yang dipengaruhi manga Jepang, realisme, gaya sederhana dan naif, serta presentasi imajinatif. Oprasi Community, yang terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas UNDIKSHA Singaraja, adalah salah satu kekuatan pendorong di balik perkembangan ini. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2018 sebagai respons terhadap pengenalan mata pelajaran Prasi Mologi ke dalam kurikulum UNDIKSHA pada tahun 2017. Mereka memiliki misi untuk membongkar dan menyelidiki definisi prasi untuk mengeksplorasi potensi visual dan presentasinya, sehingga membangun konvensi dan definisi mereka sendiri tentang praktik seni ini.

Karya Kontemporer

  • Ema Kusumilawati: Seniman wanita ini memadukan prasi dengan plat kuningan dalam karyanya "Opposite" 2021, berukuran 33x53 cm.
  • Putu Dika Pratama: Seniman berusia 23 tahun ini mulai belajar prasi pada awal 2020 dan menampilkan tiga karya dalam bentuk peti kayu terkunci dengan deskripsi prasi pada tutupnya. Ilustrasi-ilustrasinya bertema latar belakang sejarah masyarakat pra-Bali di desanya, Wongaya Gede, Tabanan. Contoh karyanya adalah "Sang Patih" (2021) yang menggambarkan subjek dalam pencarian spiritual, mencapai harmoni sempurna dengan alam, duduk bermeditasi, dan menerima pengetahuan sakral.
  • Kadek Joning Prayoga: Seniman eksperimental ini memadukan ide-ide teknik dan artistik dalam karya tiga dimensinya. Ia tertarik pada prasi karena bahan dan tekniknya unik dan berada di luar ranah seni kontemporer. Karyanya yang berjudul "Mepliseran" (Spinning) 2022 adalah karya interaktif yang menggunakan daun lontar, bambu, dan kayu, berukuran 43x40x17 cm. Prayoga mengundang audiens untuk menarik tuas ke atas dan ke bawah, menggerakkan sayap yang dihiasi prasi.

Sumber: https://budayabali.com/id/prasi-lukisan-indah-di-atas-lontar, https://www.thejakartapost.com/culture/2022/05/10/prasi-an-ancient-balinese-miniature-art-form-transitions-into-the-contemporary.html

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Tari Melemang

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Tarian

Asal-usul Tari Melemang diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Bentan, sekitar abad ke-12. Pada awalnya, tarian ini merupakan tarian istana yan...

Bara

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Ritual

Deskripsi Bara adalah bangunan yang digunakan untuk mengurung atau mengandangkan ternak, khususnya kerbau. Struktur ini sering ditemukan di daerah-d...

Chol

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Permainan Tradisional

Deskripsi Chol adalah permainan rakyat yang berasal dari Desa Bojong, dimainkan oleh anak-anak dan remaja laki-laki. Permainan ini menggunakan bambu...

Tepuk Gambar

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Permainan Tradisional

Deskripsi Tepuk gambar adalah permainan tradisional yang populer di kalangan anak laki-laki. Permainan ini mengandalkan keberuntungan dan dimainkan...

Ngadu Bagong

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Permainan Tradisional

Pengantar Ngadu bagong adalah permainan rakyat yang populer di daerah pegunungan Jawa Barat, seperti Ciamis, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, serta Kab...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...