|
|
|
|
|
Situs Ratu Boko bukanlah candi, melainkan reruntuhan sebuah kerajaan, sehingga sering disebut juga Kraton Ratu Boko. Nama Kraton Boko didasarkan pada legenda yang menyebut situs ini sebagai istana Ratu Boko, ayah Lara Jonggrang. Kata 'kraton' berasal dari 'Ka-ra-tu-an' yang berarti istana raja. Situs ini memiliki lahan yang luas dan terdiri dari beberapa kelompok bangunan yang sebagian besar kini berupa reruntuhan.
Kraton Ratu Boko pertama kali ditemukan oleh arkeolog Belanda, HJ De Graaf pada abad ke-17. Pada tahun 1790, Van Boeckholtz menemukan kembali reruntuhan ini dan mempublikasikannya, menarik minat Kenzie, Junghun, dan Brumun untuk melakukan pencatatan pada tahun 1814. Pada awal abad ke-20, situs ini diteliti kembali oleh FDK Bosch yang melaporkan hasilnya dalam tulisan berjudul Keraton Van Ratoe Boko.
Saat penelitian, Mackenzie menemukan sebuah patung yang menggambarkan laki-laki dan perempuan berkepala dewa sedang berpelukan, serta tiang batu bergambar binatang seperti gajah dan kuda di antara tumpukan batu.
Prasasti Abhayagiriwihara, berangka tahun 792 M, mendasari dugaan bahwa Kraton Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran. Prasasti ini menyebutkan Raja Tejapurnama Panangkarana (diduga Rakai Panangkaran) memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara. Abhayagiriwihara berarti biara yang dibangun di bukit yang penuh kedamaian ('abhaya' berarti tanpa bahaya atau damai, 'giri' berarti gunung atau bukit). Pada masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni (898-908), Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing.
Gerbang masuk ke kawasan Ratu Boko berada di sisi barat, terletak di tempat yang tinggi sehingga pengunjung harus melewati jalan menanjak sekitar 100 m dari tempat parkir. Gerbang ini terdiri atas dua bagian: gerbang luar dan gerbang dalam, dimana gerbang dalam yang utama dan berukuran lebih besar.
Sumber: https://perpustakaan.tanahimpian.web.id/2012/12/candi-boko-tahun-792-m.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Kraton Ratu Boko — Produk Arsitektur, Yogyakarta · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |