|
|
|
|
|
|
Sanghyang Nurcahya Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Nabi Adam, pada usia 990 tahun, sedang sakaratulmaut di Negeri Kusniya Malebari. Keluarganya berkumpul, kecuali Sayidina Anwar, putra Sayidina Sis, yang sedang berkelana dan berguru kepada Malaikat Ajajil di Hutan Ambalah, Tanah Keling. Setelah Sayidina Anwar datang, Nabi Adam menjelaskan bahwa pertapa tua yang mengajarinya ilmu kesaktian seperti terbang, menghilang, dan berubah wujud adalah Malaikat Ajajil yang menyamar. Nabi Adam berwasiat agar Sayidina Anwar tidak lagi berhubungan dengannya dan kembali ke agama yang benar. Kemudian, Malaikat Izrail menjemput roh Nabi Adam, dan Malaikat Jibril menyampaikan bahwa Sayidina Sis akan menjadi nabi pengganti dan Sayidina Kayumaras menjadi raja Kusniya Malebari bergelar Sultan Kayumutu. Empat puluh hari setelah wafatnya Nabi Adam, terjadi perbedaan pendapat antara Sayidina Anwas dan Sayidina Anwar tentang rahasia kehidupan. Sayidina Anwas berpegang teguh pada ajaran Nabi Adam, sedangkan Sayidina Anwar berpendapat ilmu Tuhan sangat luas dan mencari kehidupan abadi. Merasa kecewa Nabi Adam meninggal, ia memutuskan untuk mencari keabadian dan bertarung dengan Sayidina Anwas yang berusaha menghalanginya. Sayidina Anwar berhasil meloloskan diri karena kesaktiannya. Di perbatasan Kusniya Malebari, Sayidina Anwar bertemu Malaikat Ajajil yang memperkenalkan diri sebagai kakeknya dan mengakui bahwa dialah pertapa tua yang mengajarinya ilmu di Hutan Ambalah. Malaikat Ajajil menceritakan kisah dikeluarkannya dari Taman Surga karena menolak menghormati Nabi Adam. Sayidina Anwar, meskipun setuju bahwa menentang perintah Tuhan salah, namun juga merasa pendapat Malaikat Ajajil ada benarnya. Ia hanya ingin mencapai kehidupan abadi seperti malaikat. Malaikat Ajajil berjanji membimbingnya. Mereka lalu pergi ke Kutub Utara, ke Tanah Lulmat, untuk mencari air keabadian bernama Tirtamarta Kamandanu yang memancar dari awan mendung. Setelah Sayidina Anwar mandi dan meminum air tersebut, ia berniat menampungnya untuk anak cucunya. Malaikat Ajajil memberikan Cupumanik Astagina milik Nabi Adam dan Siti Hawa, yang mampu menampung seluruh air keabadian tersebut. Setelah itu, Malaikat Ajajil pamit dan Sayidina Anwar melanjutkan perjalanan pulang sendirian, hingga menemukan Pohon Rewan.
Sumber: http://albumkisahwayang.blogspot.co.id/2014/04/sanghyang-nurcahya.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
Sanghyang Nurcahya — Cerita Rakyat, Kediri · source
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |