|
|
|
|
|
|
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri) Tanggal 15 Jun 2026 oleh Kangnurofficial . Revisi 2 oleh Kangnurofficial pada 15 Jun 2026. |
Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali.
Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur.
Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan.
Kesengsaraan ini kian mencekik ketika desa-desa diwajibkan membayar upeti paksa yang sangat tinggi, atau gudra. Hasil panen padi sebagian disita oleh para bekel pajak kerajaan demi menghidupi ribuan prajurit Daha yang bersiap menghadapi ancaman perang. Akibatnya, sistem irigasi kuno warisan Trowulan terbengkalai, siklus tanam rusak, dan bencana kelaparan hebat menyapu lembah Brantas hingga merenggut nyawa ribuan jiwa kawula pedalaman.
Kesaksian atas brutalnya transisi kekuasaan ini terpatri abadi pada baris-baris dingin Prasasti Jiyu I yang terbit pada tahun 1486 M. Di atas batu tersebut, terselip sebuah frasa getir:
"...duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit..."
Frasa ini melukiskan keadaan ketika kelompok-kelompok bersenjata saling berhadapan silih berganti dalam peperangan tanpa akhir melawan sisa-sisa kekuatan Trowulan. Perang perebutan kekuasaan ini merusak tatanan agraria Majapahit yang agung. Ribuan pemuda tani dipaksa menjadi prajurit dadakan, yang disebut bala seketi atau wadung. Dengan berbekal kapak dan tombak bambu sederhana, mereka dikirim ke garis depan sebagai prajurit panyut—tameng hidup yang tewas bergelimpangan demi menahan serangan melindungi kasta penguasa.
Kehancuran sosial ini didengar hingga ke dunia luar. Penjelajah Portugis, Tomé Pires, yang singgah di pelabuhan utara antara tahun 1512 hingga 1515 M, merekam betapa pedalaman Jawa didera kemiskinan yang menyedihkan akibat peperangan internal yang terus dikobarkan oleh sosok yang ia sebut sebagai Guste Pate atau Gusti Patih Mahodara. Pires mencatat penurunan jumlah penduduk yang drastis; banyak desa ditinggalkan begitu saja oleh warganya hingga menjadi hutan kembali.
Jalur perdagangan sungai Brantas lumpuh total karena maraknya perampokan oleh sisa-sisa prajurit Daha yang desersi akibat kelaparan, sementara kota-kota kuno di sepanjang aliran sungai menjadi kotor, hancur, dan tidak terawat karena seluruh anggaran negara disedot habis ke dalam misi pembangunan citra darah suci Wangsa Rajasa versi Ranawijaya.
Pada tahun 1496 M, badai politik baru berembus dari arah barat, menandai jebolnya gerbang barat Daha. Raden Katong, putra dari trah Brawijaya V, berhasil mengonsolidasikan kekuatan militer agraris di wilayah Madiun, Ponorogo, dan Pacitan di bawah panji Demak Bintoro.
Peristiwa ini merupakan pukulan mematikan bagi Daha, sebab wilayah Wengker selama ratusan tahun adalah lumbung pangan dan pemasok prajurit tangguh bagi kraton-kraton Jawa. Dengan lepasnya Wengker, Daha kehilangan perisai baratnya sekaligus sumber utama logistik militernya, membuat posisi Ranawijaya kian terisolasi dari arah barat dan selatan.
Tragedi terbesar dalam hidup Ranawijaya bukanlah serangan dari luar, melainkan duri yang tumbuh di dalam dagingnya sendiri. Sekitar tahun 1498 M, kekuasaannya runtuh secara perlahan sebelum akhirnya diambil alih secara total oleh patihnya sendiri, Mahodara, melalui sebuah kudeta internal yang halus tanpa pertumpahan darah.
Mahodara bukanlah sosok biasa; ia adalah panglima tertinggi dan arsitek militer utama klan Keling-Daha yang pernah memimpin taktik bumi hangus ke Trowulan pada tahun 1478 M, sekaligus peredam berbagai pemberontakan di pedalaman.
Mengambil takhta dari seorang maharaja agung adalah tindakan bunuh diri politik jika pelaku tidak memiliki darah raja, namun Mahodara berhasil melakukan kudeta senyap ini karena tiga faktor taktis yang kuat:
Isolasi Ekonomi & Politik: Ranawijaya tidak mampu menghancurkan blokade ekonomi jangka panjang yang dilancarkan oleh Giri Kedaton dan Demak, membuat kas negara kosong dan menjadikannya penguasa terisolasi tanpa wibawa nyata di mata para elite militer.
Kehilangan Kontrol Militer: Ranawijaya terlalu sibuk dengan proyek-proyek spiritual membangun citra darah suci Wangsa Rajasa versinya sendiri, mengemis legitimasi hukum adat, sementara loyalitas fisik para prajurit di barak militer berada sepenuhnya di bawah komando Mahodara selaku panglima tertinggi.
Ancaman Ekspansi Demak: Mahodara melihat Demak kian masif menghimpun armada tempur di pesisir utara untuk membalas dendam atas kematian Brawijaya V. Di mata Mahodara, Ranawijaya terlalu lemah dan pasif, sehingga ia memutuskan untuk bertindak tegas demi mengubah Daha menjadi sebuah rezim militer totaliter.
Pada kurun waktu sekitar tahun 1498 M, perdana menteri kepercayaan Ranawijaya yang memimpin militer Daha, Patih Mahodara melihat sebuah peluang emas untuk merebut kekuasaan tertinggi. Ia memanfaatkan kemunduran ekonomi Daha yang parah akibat lepasnya pelabuhan-pelabuhan dagang utama di pantai utara Jawa yang menolak membayar pajak dan mulai menyatakan kesetiaannya pada tatanan baru di Demak.
Ketidakmampuan Ranawijaya dalam meredam pengaruh ekonomi Demak di pedalaman memicu ketidakpuasan mendalam di kalangan militer Daha. Melalui sebuah kudeta senyap di dalam istana, Mahodara menyingkirkan Ranawijaya dari takhta pemerintahan efektif.
Mahodara yang lihai menyadari bahwa rakyat pedalaman yang fanatik akan memberontak jika ia melenyapkan Ranawijaya secara vulgar. Ia pun menggunakan taktik "Boneka Hukum" yang sangat praktis.
Sebagai puncak dari trik politiknya untuk mengunci sang raja boneka agar tidak berkhianat, Mahodara menikahkan anak perempuannya sendiri dengan Dyah Raṇawijaya. Dengan pernikahan politik ini, posisi Mahodara kian kokoh di puncak kekuasaan sebagai perdana menteri sekaligus mertua raja. Sang putri yang bersemayam sebagai permaisuri bertindak sebagai pengawas besi di dalam istana, memastikan sang raja boneka mutlak berada di bawah kendali dinasti baru sang patih.
Ibarat macan singo barong (harimau ganas) yang kepalanya bermahkota burung merak, Brawijaya VI menjadi topeng yang menakutkan namun dikendalikan oleh perempuan, putri patihnya sendiri. Ranawijaya dibiarkan hidup di dalam istana, tetap memimpin ritual keagamaan Budha-Siwa, dan menyandang gelar Maharaja agung agar bertindak sebagai tameng hukum adat. Segala keputusan politik, penarikan upeti yang tersisa, dan perintah perang tetap dikeluarkan atas nama stempel Raja Ranawijaya, padahal kendali nyata angkatan bersenjata dan pemerintahan sepenuhnya berada di bawah genggaman Patih Mahodara.
Menolak menggunakan gelar keagamaan yang muluk-muluk, Mahodara memilih gelar fungsional kedinasan: Apatih Amangkubhumi. Di mata rakyat, gelar ini memberinya citra sebagai sang penyelamat negara dalam kondisi darurat perang, bukan sebagai seorang perampas takhta yang tamak.
Melalui kepemimpinannya, ia segera menyatukan barak-barak militer pedalaman Jawa yang terfragmentasi, mengubah Daha menjadi sebuah pertahanan militer yang sangat disiplin. Berkat penyatuan darurat ini, Mahodara mencetak keberhasilan luar biasa: bertahan selama dua puluh sembilan tahun dalam kepungan faksi-faksi besar tanpa membiarkan masyarakat agraris pedalaman didera kelaparan massal.
Koalisi Pasuruan
Demi melanggengkan kekuasaan ilegalnya tanpa memicu kecurigaan makro, Mahodara membangun penguatan jaringan oligarki militer daerah secara ketat. Ia merangkul Patih Sepat—penguasa militer garis depan di wilayah Gending-Pasuruan—sebagai sekutu taktis untuk mengawasi pergerakan faksi pesisir utara.
Di saat bersamaan, tekanan perluasan pengaruh ekonomi yang dilancarkan oleh poros Demak-Giri memaksa lahirnya sebuah aliansi pragmatis antara Daha dan ujung timur Jawa. Mahodara memanfaatkan ikatan darah dinasti lamanya dengan menjalin persekutuan intim bersama Menak Pentor dari Blambangan, yang tak lain adalah kemenakannya sendiri.
Di dalam lingkar pertahanan inti, kekuatan lokal setingkat ksatria dan prajurit tangguh dari Kadipaten Jenggala serta Kediri dirapatkan barisannya, bersumpah untuk mempertahankan tanah pedalaman dari ekspansi batiniah dan fisik kaum pesisir.
Melipat Blambangan
Meskipun Blambangan telah lama merdeka dari pengaruh Daha, gerak maju Demak yang kian menguasai pelabuhan-pelabuhan dagang utama di timur membuat kedua penguasa ini menyadari adanya ancaman terhadap kedaulatan wilayah mereka masing-masing. Berdasarkan watak politik pedalaman yang taktis, Menak Pentor melihat Daha sebagai mitra yang tepat untuk membendung dominasi baru dari utara.
Melalui kompensasi politik, Mahodara merestui gerak maju pasukan Blambangan untuk mengamankan dan menguasai jalur logistik pesisir timur di Pajarakan dan Gending. Sebagai imbalannya, Menak Pentor menjamin pengiriman berkala kavaleri dan kuda-kuda perang terbaik dari padang rumput ujung timur guna memperkuat barisan pertahanan Daha dalam menghadapi ofensif militer Kesultanan Demak.
Politik Inklusif: Membuka Gerbang Terung
Kematangan taktis Mahodara kian teruji ketika ia mengesampingkan emosi sentimen platform Budha-Siwa yang digaungkan Ranawijaya, demi perhitungan rasional militer. Ia memilih memelihara Raden Kusen, seorang Muslim taat sejak lahir yang memegang jabatan sebagai Adipati Pecat Tanda di Terung.
Raden Kusen, yang menguasai titik kunci percabangan Sungai Brantas di Sidoarjo, adalah saudara kandung satu ibu dari Sultan Raden Patah di Demak. Namun, diikat oleh sumpah setia suci kepada takhta (satya haprabu), Raden Kusen memilih memimpin pasukan Majapahit-Daha melawan saudaranya sendiri.
Dengan menunjuk Kusen sebagai Panglima Perang Tertinggi Majapahit-Daha, Mahodara melancarkan serangan psikologis balik yang berat: pasukan Demak dipaksa menghunus senjata melawan saudara kandung pendiri sultan mereka sendiri. Siasat ini berhasil meredam agresivitas koalisi pesisir selama bertahun-tahun karena keraguan psikologis yang mendalam di internal Demak.
Langkah politik ini juga diikuti oleh banyak adipati dan bangsawan pesisir timur lainnya; meski secara pribadi telah memeluk Islam, darah mereka yang masih terikat kekerabatan dengan trah lama membuat mereka tetap loyal secara politik kepada panji Daha.
Di panggung politik luar, Mahodara melancarkan taktik hubungan dua kaki yang sangat berani namun berisisu tinggi. Berdasarkan catatan kuno pada tahun 1499 M, ia sempat membuka kembali hubungan dagang langsung ke Tiongkok untuk membuktikan eksistensi administrasi Daha di mata dunia.
Begitu armada Portugis merebut Malaka pada tahun 1511 M, Mahodara langsung mengirim utusan rahasia ke sana. Menggunakan prinsip memanfaatkan seteru dari seteru sendiri, ia menawarkan hak dagang komoditas beras pedalaman Daha kepada Portugis, dengan syarat mereka mengirimkan bantuan militer berupa pasukan meriam barat untuk menjepit dan menghancurkan kekuatan laut Demak dari utara.
Namun, takdir berkata lain. Upaya persekutuan militer ini gagal total; kapal-kapal utusan Portugis disabotase dan diblokade di tengah samudera oleh armada laut Demak yang perkasa, sebelum mereka sempat merapat dan mengalirkan teknologi mesiu ke pedalaman Jawa.
Di dalam negeri, Mahodara meredam gejolak masyarakat agraris melalui pengaruh psikologis. Doktrin Bumi Keling yang dibangun Ranawijaya semakin diperkuat secara masif. Ia menyebarkan kekhawatiran budaya bahwa masuknya pengaruh pesisir akan memusnahkan seluruh tradisi pemujaan leluhur, merusak tatanan kasta, dan menghapus hukum adat Jawa kuno. Siasat ini berhasil membakar emosi penganut Budha-Siwa pedalaman untuk tetap setia membentengi Daha hingga titik darah yang penghabisan.
Gesekan yang kian meruncing akhirnya meletus menjadi konflik terbuka berskala besar. Antara tahun 1517 M hingga 1524 M, Kesultanan Demak melancarkan rangkaian serangan dahsyat ke jantung pertahanan Daha. Palagan ini menjadi saksi betapa kokohnya taktik pertahanan parit dan tembok bata merah yang dirancang oleh Mahodara.
Puncak dari rangkaian perang ini meletus sekitar tahun 1524 M. Pasukan Demak merangsek maju dengan keyakinan penuh, dipimpin langsung oleh panglima perang utama mereka yang legendaris, Sunan Ngudung (ayah dari Sunan Kudus). Namun, di medan laga yang berlumpur di pinggiran Daha, ketangguhan militer pedalaman membuktikan taringnya.
Dalam sebuah duel tanding yang sengit di tengah kecamuk perang, Sunan Ngudung berhadapan langsung dengan sang pemegang sumpah satya haprabu, Raden Kusen (Adipati Terung). Dengan keahlian bertempur tingkat tinggi dan senjata pusaka kedewataan Daha, Raden Kusen berhasil merobohkan dan menewaskan Sunan Ngudung di tengah palagan.
Gugurnya sang imam dan panglima suci ini memukul telak moral tempur barisan Muslim pesisir. Menghadapi kepanikan yang meluas, pasukan Demak terpaksa menarik diri ke utara, mundur dari garis depan untuk menyusun ulang strategi dan memulihkan kekuatan mereka yang terkoyak.
Kekalahan di tahun 1524 M tidak menyurutkan langkah Demak, melainkan justru memicu lahirnya sebuah persatuan yang jauh lebih mengerikan. Di bawah titah tegas Sultan Trenggana, Demak menghimpun segenap kekuatan di tanah Jawa untuk membentuk Koalisi Faksi Islam Pesisir (Pantura), sebuah aliansi militer-spiritual raksasa yang belum pernah ada tandingannya:
Kesultanan Cirebon: Sekutu utama dari belahan barat Jawa yang mengirimkan ribuan pasukan elit bersenjata lengkap.
Kadipaten-Kadipaten Pesisir Utara: Gabungan kekuatan maritim dan logistik dari pelabuhan-pelabuhan yang telah tunduk di bawah panji Islam, termasuk Jepara, Kudus, Semarang, Tegal, bahkan hingga kekuatan seberang lautan dari Palembang.
Dewan Wali Songo: Para wali suci—terutama Sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Sunan Bonang—bertindak sebagai penasihat spiritual tertinggi, arsitek strategi makro, sekaligus penggerak ribuan massa santri yang siap menjemput syahid di medan perang.
Sisa-Sisa Pasukan Trowulan: Faksi loyalis Majapahit lama pimpinan keturunan Raden Patah, yang bertempur demi menuntut balas atas kehancuran Trowulan tahun 1478 dan menegakkan trah Kertabhumi (Brawijaya V).
Sultan Trenggana menunjuk putra mendiang Sunan Ngudung yang cerdas dan berdarah dingin, Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), sebagai panglima tertinggi menggantikan ayahnya. Sunan Kudus membawa dendam pribadi sekaligus kecerdasan militer modern untuk menumbangkan Daha.
Pada tahun 1527 M, langit Daha kembali menghitam oleh debu pasukan berkuda dan kepulan asap mesiu. Kali ini, Sunan Kudus tidak mengulangi kesalahan ayahnya. Beliau menerapkan strategi militer berlapis yang sangat kejam dan sistematis:
Pengepungan Senyap dan Blokade Logistik: Alih-alih langsung menabrak dinding benteng Daha, Sunan Kudus membangun pos-pos pengepungan rapat di sekeliling kota. Ia memutus total aliran Sungai Brantas dan menutup jalur suplai pangan dari lumbung-lumbung agraria. Dalam hitungan minggu, moral dan fisik pasukan Daha rontok akibat kelaparan dan kehausan di dalam benteng mereka sendiri.
Artileri Cetbang Teknologi Turki Utsmani: Di barisan depan, Demak menggelar barisan artileri berat. Memanfaatkan meriam-meriam cetbang hasil rampasan maritim serta bantuan para pandai besi pesisir yang mengadopsi teknologi mesiu Kesultanan Turki Utsmani, benteng bata merah Daha dihujani peluru besi dari jarak jauh hingga runtuh berkeping-keping.
Umpan Taktis (Feigned Retreat): Ketika benteng mulai jebol, Sunan Kudus memancing sisa-sisa pasukan elit Daha keluar dengan taktik Gedhong Minep (Strategi menjebak dan mengepung), pancingan maju-mundur di satu sektor. Berpikir bahwa mereka memiliki peluang untuk membalikkan keadaan, pasukan Daha berhamburan mengejar dan merusak formasi pertahanan kokoh mereka sendiri. Pada saat itulah, Sunan Kudus mengaktifkan perangkap formasi sayap kembar: Supit Urang (Capit Udang) yang dikombinasikan dengan gerak cepat Garuda Melayang. Pasukan elit Demak menyergap dari sayap kanan dan kiri, menjepit pertahanan Daha dalam lingkaran maut yang tak menyisakan ruang untuk bernapas.
Pertempuran di dalam pusat kota berlangsung dengan sangat sengit hingga ke pelataran istana. Patih Mahodara, sang arsitek militer berdarah dingin yang menjadi target utama kemarahan Demak, menolak untuk menyerah. Ia tewas bersimbah darah di bawah tebasan pedang pasukan Sunan Kudus saat mempertahankan barikade terakhir pusat kota Daha. Riwayat sang Apatih Amangkubhumi yang perkasa berakhir di atas tanah yang selama tiga dekade ia pertahankan dengan tangan besi.
Sementara itu, nasib Dyah Ranawijaya (Brawijaya VI) berakhir dengan tragis. Ketika benteng Daha jebol dan mertuanya gugur, ia kehilangan seluruh legitimasi dan kekuatannya. Bersama sisa-sisa keluarganya yang ketakutan, sang maharaja melarikan diri menyusuri hutan pedalaman timur Jawa menuju Blambangan, menyamar sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Bali. Di sana, di bawah langit pengasingan yang getir, Ranawijaya mengembuskan napas terakhirnya sebagai raja Majapahit terakhir yang kehilangan takhta, kemegahan, dan tanah airnya.
Runtuhnya Daha pada tahun 1527 M menandai penutupan total lembaran sejarah imperium Majapahit Agraris di tanah Jawa. Seluruh simbol kedaulatan suci Majapahit yang selama ini tersimpan di Daha disita dan dijarah oleh Trah Brawijaya V di Demak.
Rombongan pedati besar mengangkut gunungan harta benda, emas, permata, perhiasan istana, serta benda-benda pusaka keraton yang paling keramat—mulai dari keris-keris pusaka bersepuh emas, tombak-tombak kebesaran, hingga Takhta Suci Majapahit yang legendaris—diboyong menuju Demak Bintoro.
Dengan dikuasainya seluruh benda-benda pusaka kedewataan ini, Sultan Trenggana secara politis resmi memproklamasikan dirinya sebagai pewaris sah tunggal dari Imperium Majapahit Maritim di tanah Jawa. Sisa-sisa bangunan suci kuno di Daha yang tidak hancur dialihfungsikan atau ditinggalkan begitu saja, perlahan tertimbun oleh debu sejarah dan rimbunnya belantara pedalaman. Tirai kemegahan Majapahit-Daha telah tertutup rapat, menyisakan kidung senjakala yang abadi dalam ingatan bumi Jawa. Karma Trowulan mencapai titik keseimbangan.
Kemenangan gemilang pada tahun 1527 M menyingkap tabir luhur bahwa ketetapan takdir Demak melampaui sekadar ekspansi wilayah. Jikalau riwayat perjuangan Raden Patah hingga Sultan Trenggana semata-mata digerakkan oleh duka lama keluarga atas nasib leluhur mereka, sang Sang Prabu tentu akan mendirikan kembali singgasana megah di Trowulan, atau mengukuhkan takhta di jantung hati Daha demi merayakan kejayaan fana sebagai penguasa tunggal bumi Jawa.
Namun, Kesultanan Demak memilih jalan kesatria yang bersahaja. Tanpa hasrat untuk mewarisi takhta kekaisaran masa lalu, Sultan Trenggana membiarkan reruntuhan Trowulan dan Daha menjadi saksi bisu putaran roda zaman. Trah Kertabhumi memilih teguh berakar di pesisir utara, mengalirkan denyut nadinya di Demak Bintoro untuk menenun kejayaan maritim Nusantara, membangkitkan kedaulatan pangan rakyat, serta memancarkan lentera spiritual.
Melalui jaringan pesantren, sekat kasta darah suci yang mengungkung harkat manusia dilebur dalam kesetaraan jiwa, mengubah asas legitimasi kekuasaan yang semula bersandar pada darah biru menjadi keluhuran budi pekerti.
"Penguasa ibarat dewa, jika cengkar (berselisih), maka akan memakan korban rakyatnya sendiri. Seharusnya penguasa menjadi pengayoman, sehingga kawula dapat sejahtera."
Ketika Demak memilih tidak menetap di reruntuhan Daha dan beralih membangun pusat-pusat peradaban maritim serta pesantren di pesisir, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan Sastra Cetha (aksara kehidupan) yang dibawa Ajisaka. Kekuasaan tidak lagi diukur dari megahnya istana batu, melainkan dari seberapa luas "serban pemahaman, strategi, dan kebijaksanaan" sang raja mampu melindungi dan menyejahterakan rakyatnya.
Demi menjaga harmoni di pedalaman Jawa Timur pasca-runtuhnya Daha, Sang Sultan dengan bijaksana mengembalikan amanah kekuasaan kepada para adipati baru yang memiliki keterikatan historis dengan bumi Majapahit dan telah menerima cahaya Islam. Tanah-tanah subur nan hijau diserahkan kembali kepada para penguasa lokal di Tuban, Madiun, hingga Ponorogo.
Langkah agung ini ditempuh demi meneguhkan kemakmuran agraria, memulihkan senyum kaum tani, serta membasuh luka batin kawula alit yang telah sekian lama didera kecemasan akibat sengketa para penguasa. Bukan pedang dan taring penguasa, tetapi pendidikan dan pengetahuan adalah kuncinya.
SUMBER: BABAD PACITAN (Priyayi & Gedibal Jawa Era Kolonial) -NoirXOne - (Kang Nur Official)
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |