|
|
|
|
|
|
Sistem Kepercayaan Orang Asmat Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Orang Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka adalah dewa yang turun dari dunia gaib di seberang ufuk. Dewa ini mendarat di pegunungan dan melakukan perjalanan ke hilir sungai. Dalam mitologi orang Asmat di Teluk Flaminggo, dewa ini bernama Fumeripitsy. Dalam perjalanannya, ia diserang buaya raksasa dan perahunya tenggelam. Meskipun berhasil membunuh buaya, Fumeripitsy terluka parah dan terdampar di sungai Asewetsy. Ia dirawat oleh burung Flamingo hingga sembuh, lalu membangun rumah yew, mengukir dua patung, dan membuat genderang em. Setelah selesai, ia menari tanpa henti, dan kekuatan saktinya menghidupkan kedua patung tersebut, yang kemudian menjadi pasangan manusia pertama dan nenek moyang orang Asmat. Kemudian, Fumeripitsy membunuh buaya raksasa lain yang menyerang, memenggal kepalanya dan memotong-motong badannya yang dilemparkan ke segala penjuru mata angin. Potongan-potongan ini dipercaya menjadi nenek moyang suku bangsa lain di sekitar Asmat yang menjadi musuh mereka, melambangkan pengayauan pertama dan penciptaan musuh Asmat oleh Fumeripitsy, serta proses daur ulang hidup dan mati.
Konsep tradisional orang Asmat tentang hidup didasarkan pada keyakinan adanya suatu daerah di seberang ufuk. Jika nenek moyang menginginkan kelanjutan keturunan, mereka akan mengirimkan ruh tertentu ke bumi melalui sinar matahari. Ruh ini mendarat di atap rumah wanita yang ditakdirkan menjadi ibu. Wanita itu kemudian hamil dan melahirkan bayi. Meskipun hubungan seks diketahui berkaitan dengan kelahiran, fungsinya hanya untuk memberi bentuk manusia pada ruh yang masuk ke kandungan. Peran ayah bayi disamakan dengan pemahat patung yang memberi bentuk pada kayu yang disediakan alam.
Orang Asmat percaya ada tiga golongan ruh di lingkungan mereka:
Orang Asmat memiliki konsepsi maut yang serupa dengan banyak kebudayaan lain. Mereka percaya bahwa setiap manusia memiliki setidaknya enam jiwa yang menjiwai bagian tubuh yang berbeda. Penyakit disebabkan karena jiwa yang menjiwai bagian tubuh yang sakit sedang pergi atau menghilang. Untuk menyembuhkan orang sakit, dukun penyakit namer ow berusaha membujuk jiwa yang pergi agar kembali. Jika beberapa jiwa yang telah pergi tidak dapat dibujuk untuk kembali, orang tersebut akan meninggal. Dengan demikian, maut bagi orang Asmat adalah perginya satu atau beberapa jiwa manusia untuk tidak kembali lagi. Jiwa-jiwa yang terbebaskan dari tubuh akan menjadi ruh yang berkeliaran di sekitar tempat tinggal manusia. Setelah beberapa waktu, ruh ini akan pergi ke dunia ruh di belakang ufuk dan hidup abadi di sana, atau kembali ke bumi dan hidup kembali dalam tubuh seorang bayi.
Sumber: https://uun-halimah.blogspot.com/2007/12/sistem-kepercayaan-orang-asmat-di-papua.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |