×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Ritual

Provinsi

Jawa Barat

Asal Daerah

Desa Suka Galih, Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur

Situs Megalit Bukit Tongtu (pasir Tangtu)

Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 .

Deskripsi

Situs Bukit Tongtu adalah sebuah situs megalitik yang terletak di Desa Suka Galih, Kecamatan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur. Situs ini berada di puncak bukit dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut dan dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Pasir Tangtu atau batu guling. Nama 'Tongtu' dihubungkan dengan Hyang (Yang Maha Esa) yang biasa tinggal di bukit atau gunung tinggi. Peninggalan di situs ini dianggap sebagai tempat suci oleh masyarakat pada masa itu, yang kemudian membangun struktur untuk upacara di puncak bukit yang tinggi dan rata ini. Penelitian terhadap situs ini pertama kali dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 1985 dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Cianjur pada tahun 2010.

Lokasi dan Aksesibilitas

Situs ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus berjalan kaki sejauh sekitar 3 km melalui jalan yang sangat menanjak, melintasi padang ilalang dan semak-semak yang lebat, sehingga sulit didaki saat musim hujan. Situs megalit di atas Bukit Tongtu ini dikelilingi oleh lembah-lembah dan bukit-bukit tinggi. Area di sekitarnya masih tertutup semak belukar, yang menghambat penelitian lebih lanjut.

Temuan Arkeologis

  • Batu Temu Gelang (utama): Struktur batu gelang atau stone enclosure ini serupa dengan temuan di Matesih (Surakarta), Leles (Garut), dan Jabung (Lampung Utara). Batu ini dapat dipergunakan untuk pemakaman (burial) atau pemujaan (ceremonial purpose). Susunan ini terdiri dari 11 buah monolit besar dan kecil, dengan orientasi barat laut-tenggara. Monolit terbesar di bagian tenggara berfungsi sebagai pusat, memiliki permukaan rata dan dua lubang besar-kecil. Dahulu terdapat menhir bulat yang disebut batu guling, yang kini diletakkan di atas batu besar rata. Di tengah susunan terdapat batu besar yang pecah menjadi dua. Struktur keseluruhan berukuran panjang 8,5 meter dan lebar 6 meter. Pemujaan di sini diduga berpusat pada matahari, dengan upacara mencapai kondisi tertentu saat sinar matahari menyinari menhir sejajar dengan batu di tengah bangunan.
  • Batu Datar: Batu ini memiliki permukaan datar, rata, dan halus. Meskipun awalnya dilaporkan sebagai dolmen, penggalian tidak menemukan batuan penyangga. Batu ini merupakan temuan lepas tanpa konteks dengan batu-batu di sekitarnya. Ukurannya 115 cm (panjang), 80 cm (lebar), dan 45 cm (tebal).
  • Batu Berlubang: Ditemukan sekitar 8 m di sebelah barat batu datar, dalam keadaan miring ke utara dengan orientasi timur-barat. Ukurannya 120 cm (panjang), 65 cm (lebar), dan 55 cm (tebal), dengan garis lubang 12,5 cm dan kedalaman 3,5 cm. Permukaan lubangnya yang halus menunjukkan tanda-tanda penggunaan.
  • Batu Temu Gelang (sekunder): Susunan batu gelang kedua ini berukuran lebih kecil, terletak di sebelah utara kompleks batu guling. Terdiri dari 7 monolit besar. Batu-batu terbesar di bagian tenggara dan barat laut memiliki permukaan datar dan berasal dari pecahan batu yang sama. Di bagian tenggara, terdapat batu berbentuk silinder yang roboh, diperkirakan semula berdiri tegak. Dua batu besar di bagian tenggara stone enclosure merupakan pusat struktur ini. Batu datar berukuran panjang 185 cm, lebar 140 cm, dan tinggi 80 cm. Batu tegak berukuran panjang 195 cm dan garis tengah 53 cm. Menurut tim Puslit Arkenas, batu datar yang berdampingan dengan batu tegak (menhir) mengingatkan pada simbol perempuan dan laki-laki di Nias, yang melambangkan kesuburan, kekuatan gaib penolak bahaya, atau arwah yang disemayamkan.

Sumber: https://inurwansah.my.id/2024/02/25/jejak-budaya-megalit-di-bukit-tongtu-pasir-tangtu-cikalong-kulon

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Rumah Fatmawati...

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Produk Arsitektur

Deskripsi Rumah Fatmawati adalah sebuah rumah panggung yang terletak dekat dengan Simpang Lima, Bengkulu. Bangunan ini menjadi salah satu objek wisa...

Skin

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Senjata dan Alat Perang

Deskripsi Skin adalah senjata tusuk genggam yang memiliki bentuk meruncing dengan satu sisi bilahnya tajam. Artefak ini juga dikenal dengan nama jem...

Kendang Gong Ke...

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kendang adalah nama yang digunakan di Bali untuk drum. Dalam konteks gamelan gong kebyar, peran kendang sangat penting, bahkan dianggap se...

Silek Galombang

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Silek Galombang adalah seni pertunjukan yang eksis pada upacara perkawinan etnis Minangkabau. Gerakannya menggunakan bungo-bungo silek ram...

Maggasing

Oleh Kyas1 | 25 Oct 2026.
Permainan Tradisional

Pengantar Maggasing adalah permainan gasing yang namanya diambil dari peralatan utama yang digunakan. Permainan ini umumnya dikenal sebagai bermain...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...