|
|
|
|
|
|
Sungai Tarab Dan Kerajaan Bunga Setangkai Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Seiring dengan bertambahnya penduduk di Nagari Pariangan yang semakin padat, ninik Sri Maharaja Diraja bersama orang besarnya memutuskan untuk memindahkan sebagian penduduk ke daerah baru. Beliau mendaki puncak Gunung Merapi untuk mencari tanah yang subur. Dari sana, terlihatlah setumpuk tanah gosong berpasir di selatan yang ditumbuhi rimba. Tanah itu ternyata lebih luas dan subur dari Pariangan Padang Panjang. Di sana juga terdapat padang pasir luas yang cocok untuk tempat bermain. Ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai kemudian kembali ke Pariangan untuk menjemput tujuh karib beliau dan delapan pasang suami istri yang dibawa oleh Cateri Bilang Pandai. Mereka membuka ladang, membangun teratak, yang lama-kelamaan menjadi dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati. Dusun-dusun ini semakin ramai, lalu dibangunlah koto yang kemudian menjadi nagari Bunga Setangkai. Nama ini diambil karena ninik Sri Maharaja Diraja menemukan setangkai bunga harum dan sebuah batu datar yang panjangnya tujuh tapak beliau, dinamakan “Batu Tujuh Tapak”. Padang pasir di daerah itu kemudian menjadi rimba dan terbentuklah nagari Pasia Laweh, yang takluk pada nagari Bunga Setangkai. Di nagari Bunga Setangkai, dibangun balairung dan istana. Sebuah mata air jernih muncul dari bawah pohon tarab di halaman istana, membentuk anak sungai yang dinamai Sungai Tarab oleh Cateri Bilang Pandai. Karena kepopuleran sungai ini, nama nagari Bunga Setangkai terlupakan dan berubah menjadi nagari Sungai Tarab. Delapan penghulu, yang disebut “Datuk nan Delapan Batur”, ditanam di nagari Sungai Tarab untuk memerintah kaum mereka. Setiap penghulu membangun balairung, sehingga ada delapan balai yang kemudian menjadi delapan suku, terbagi menjadi dua kampung: lima balai di mudik (Sungai Tarab) dan tiga balai di hilir (TigaBatur). Setelah terbentuknya nagari dan penghulu, ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai kembali ke Pariangan Padang Panjang. Beberapa waktu setelah kembali, ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia di Pariangan Padang Panjang. Karena tidak memiliki ahli waris, jabatan raja di Pariangan dipegang oleh karib beliau yang ada di Sungai Tarab. Yang memerintah di Pariangan Padang Panjang adalah Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai, dan Cateri Rino Sudah. Sementara di Sungai Tarab, pemerintahan dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai yang mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belum dewasa. Istri ninik Sri Maharaja Diraja, Tuan Putri Indah Jalia, menikah lagi dengan Indra Jati (Cateri Bilang Pandai) dan memiliki enam anak, termasuk Putri Jamilan yang kemudian menikah dengan raja Sungai Tarab.
Cerita ini berasal dari Minangkabau, khususnya Nagari Pariangan, Padang Panjang, dan kemudian menyebar ke daerah Sungai Tarab.
Sumber: https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sungai-tarab-dan-kerajaan-bunga-setangkai
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |