|
|
|
|
|
|
Tari Wayang Topeng Tanggal 23 Sep 2026 oleh Kyas1 . |
Tari Wayang Topeng adalah pertunjukan tari di mana penarinya memakai topeng yang diikatkan di kepala. Topeng-topeng ini menggambarkan berbagai karakter dan peran, seperti Panji, Patih, dan Klana, yang bersumber dari cerita Panji. Gerakan tarian ini khas dengan gaya patah-patah yang dikenal sebagai Gaya Malangan. Istilah gerak tarinya disebut "Solah", yang merujuk pada konstruksi gerak dengan ciri dan teknis tersendiri. Tarian ini merupakan perpaduan antara wajah manusia dan wayang.
Tari Wayang Topeng diyakini sudah ada sejak abad ke-8 Masehi pada masa Kerajaan Kanjuruhan di bawah kepemimpinan Raja Gajayana. Pada zaman itu, topeng dibuat dari batu dan digunakan dalam acara persembahyangan. Kemudian, pada masa Raja Erlangga, tarian ini direkonstruksi menjadi sebuah sajian seni. Pada awalnya, pertunjukan ini mengambil cerita-cerita dari India seperti Mahabarata dan Ramayana, karena dominasi sastra India dan kepercayaan Hindu Jawa masyarakat saat itu. Wayang Topeng berfungsi sebagai media komunikasi antara raja dan rakyat. Perubahan cerita terjadi pada zaman Kartanegara di Singasari, di mana fokus beralih ke cerita-cerita Panji yang mengisahkan kepahlawanan kesatria Jawa, khususnya pada masa Jenggala dan Kediri. Perubahan ini berfungsi sebagai bentuk identitas dan legitimasi kekuasaan Singasari. Kesenian ini berkembang pesat hingga masa Kerajaan Majapahit, dan ketika Islam masuk ke Jawa, Tari Topeng kembali berubah menjadi media dakwah dengan menampilkan cerita-cerita Islami. Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak menciptakan topeng yang mirip dengan Wayang Purwa pada tahun 1586. Topeng juga digunakan oleh Raden Wijaya sebagai media rekonsiliasi. Pada akhir abad ke-17, Wayang Topeng tercatat dipertunjukkan di Pendapa Kabupaten Malang saat dipimpin oleh A.A. Surya Adiningrat atau Raden Bagoes Muhamad Sarib.
Pigeaud dalam bukunya "Javaanse Volksvertoningen" menyebutkan bahwa Wayang Topeng sangat populer di Malang, bahkan kepala desa Pucangsanga dikenal sebagai penari topeng. Penyebaran dan perkembangan wayang topeng di Malang terjadi di wilayah Malang Timur, melalui Kecamatan Jabung dan Tumpang (Desa Pucangsanga, Desa Precet, Desa Glagahdawa, Desa Tulusayu). Di wilayah Malang Selatan, penyebaran terjadi di Kecamatan Pakisaji (dukuh Glagahdawa dan Karangpandan) serta Kecamatan Sumberpucung (Desa Jatiguwi dan Desa Sanggreng).
Tari Wayang Topeng di Malang memiliki berbagai tokoh dengan karakter, sifat, dan jenis gerakan yang berbeda. Penokohan tari topeng dibagi menjadi beberapa kelompok.
Salah satu makna penting Tari Wayang Topeng adalah persatuan. Hal ini didasari oleh sejarah tarian yang pada zaman dahulu diciptakan untuk menyatukan Kerajaan Daha dengan Kahuripan melalui perkawinan.
Sumber: https://seringjalan.com/sejarah-dan-makna-tari-wayang-topeng
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |