|
|
|
|
|
|
Topeng Jabung Tanggal 28 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Kesenian Topeng Jabung adalah bentuk seni pertunjukan tari topeng yang berasal dari Desa Jabung, Kabupaten Malang. Pada tahun 1974, kesenian ini dianggap sebagai seni "high class" di desa tersebut, melampaui popularitas kesenian lain seperti Ludruk dan Jaranan. Masyarakat Jabung memiliki sejarah panjang dengan kesenian dan dikenal gemar mengadakan tanggapan kesenian, termasuk Topeng. Kesenian ini pernah diangkat ke tingkat Nasional. Tokoh-tokoh seperti Gunung Sari dan Kelono memiliki penggemar tersendiri dalam pertunjukan Topeng.
Kesenian Topeng di Malang Raya berkembang berkat Tjondro Suwono (Kyai Reni) Polowijen, seorang abdi dalem Bupati Malang R.A.A Soeriohadiningrat (1889-1928). Kyai Reni dikenal pandai dalam seni ukir (sungging), tari, dan sebagai pengukir topeng. Berkat kemampuannya, ia dipercaya mengembangkan kesenian Topeng di Malang, dan Bupati mewajibkan setiap wedono mendirikan grup kesenian topeng untuk penyebarannya pada tahun 1915-1920-an. Kesenian Topeng di Jabung dibawa oleh Pak Rusman (Mbah Tir), cucu Kyai Reni yang juga seniman tari dan penabuh kendang, serta dipercaya sebagai leluhur dan pionir Wayang Topeng di Malang Raya. Setelah Pak Rusman wafat pada tahun 1938, kepemimpinan grup Topeng Jabung dilanjutkan oleh putranya, Pak Kangsen. Pada masa inilah Misdi bergabung dengan kesenian Topeng, meninggalkan Ludruk Tunas Karya yang telah diikutinya selama dua tahun.
Misdi, yang lahir pada tahun 1954, adalah seorang seniman sepuh Topeng Jabung dan ketua grup Topeng Darmo Langgeng. Sebelum bergabung dengan Topeng, ia adalah seniman Ludruk yang berperan sebagai tokoh putri. Dalam kesenian Topeng, Misdi paling sering didapuk menarikan Kelono. Guru tari Misdi adalah Pak Samud, yang merupakan tokoh Gunung Sari. Pak Samud dikenal dengan cara mengajarnya yang lemah gemulai dan kalem. Misdi bersama 18 temannya, seperti Pak Tumari, Pak Surip, Pak Ngateno, dan Pak Mimin, digembleng oleh Pak Tir dan Pak Samud dalam belajar tari topeng. Awal belajar, mereka diajarkan Jejeran Jowo dan Blegeran, kemudian mengembangkan kemampuan menarikan kesatria-kesatria.
Sumber: https://borobudurwriters.id/seni-pertunjukan/dari-ludruk-misdi-mengabdikan-jiwanya-untuk-topeng
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |