×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Kesenian Musik

Elemen Budaya

Alat Musik

Provinsi

Jawa Tengah

Asal Daerah

Banyumas

Calung Banyumasan

Tanggal 07 Aug 2018 oleh OSKM_16118051_AMALIA ALITA.

Seperti semua daerah di Indonesia, Kabupaten Banyumas juga memiliki aset budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Hingga sekarang, kesenian yang akan dibahas pada artikel ini, masih diupayakan untuk tetap lestari sehingga dapat lolos seleksi alam pada generasi milenial dan generasi di bawahnya. Calung Banyumasan adalah seni pertunjukan musik tradisional berupa calung, yaitu sejenis perkusi mirip gamelan yang terbuat dari bambu yang, tentu saja, lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Banyumas. Rene T.A. Lysloff dalam sebuah makalahnya berjudul Calung Music in Banyumas menjelaskan bahwa penggunaan akhiran -an di belakang nama tempat dimaksudkan untuk lebih mengkhususkan ruang tradisi-tradisi lokal dan berhubungan dengan persoalan gaya atau gagrag.

Calung Banyumas, pertama kali muncul dalam bentuk musik bambu disebut bongkel. Berdasarkan analisis fisik, musikalitas, dan fungsi dapat diketahui bahwa bongkel termasuk musik bambu tertua di Banyumas. Secara musikal. bongkel memiliki teknik permainan tinggi, unik, khas dan tidak ada duanya baik di Banyumas maupun di Indonesia. Setelah melalui proses perjalanan panjang, genre musik ini diduga mendapat pengaruh gamelan kemagan dan ringgeng, yakni perangkat gamelan kecil yang biasa digunakan untuk mengiringi Tari Lengger dan Ebeg. Bongkel berkembang menjadi sebuah buncis (angklung), yaitu instrumen tradisional yang terdiri dari 2 bilah bambu yang bernada sama. Pada sajiannya, kesenian buncis terdapat 6 buah instrumen yang dimainkan oleh 6 orang penari. Buncis berkembang menjadi krumpyung, yaitu instrumen yang terbentuk dari buncis yang dirangkai dengan cara digantung. setelah bertransformasi dari bongkel, buncis, dan krumpyung, kemudian akhirnya menjadi kesenian yang disebut calung.

Arti kata calung sendiri berasal dari dua kata yang digabung menjadi satu, yaitu carang pring wulung atau pucuk bambu wulung dan ada juga yang mengartikan dicacah melung-melung (dipukul berbunyi nyaring). Seperangkat alat musik calung terdiri dari gambang barung, gambang penerus, kethuk kenong, dhendhem, kendang dan gong bumbung. Calung sendiri memiliki laras slendro, yaitu 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Namun, saat ini pun telah muncul calung yang bernada diatonis.

Gambang barung dan gambang penerus hanya berbeda pada teknik memainkannya. Hal tersebut sesuai fungsi masing-masing. Jika gambang barung berfungsi sebagai pembuka dan melodi dalam gendhing, maka gambang penerus berfungsi dalam memainkan imbal mengikuti gambang barung. Untuk kendang sendiri biasanya memakai kendang ciblon jika dalam Calung Banyumasan, namun kini juga banyak yang menggunakan kendang jaipong seiring perkembangan zaman. Gaya permainannya mengikuti gaya Banyumasan yang sedikit rancak dan penuh semangat. Sedangkan kenong, instrumen ini berperan sebagai kethuk layaknya metronom. Dhendhem memiliki jumlah wilahan dan sistem penataan nada yang sama dengan kenong, namun nada dhendhem lebih rendah dibanding kenonng dan teknik permainan dhendhem sendiri mendobeli permainan kenong. Gong Bumbung terdiri atas dua bambu yang berbeda ukuran diameternya. Bambu yang berukuran besar berfungsi sebagai lubang resonansi, sedangkan bambu yang berukuran kecil berfungsi sebagai sebul. Teknik memainkannya dengan cara menggetarkan bibir layaknya terompet.

Dahulu ketika duduk di kelas XI, penulis wajib belajar dan ikut kelas seni karawitan. Karawitan Banyumasan sebenarnya tidak jauh berbeda dari Calung Banyumasan. Keduanya sama-sama ada unsur kendang, kethuk, kenong, dan seterusnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila pihak-pihak yang berorganisasi atau pihak-pihak yang besar, seperti instansi, melakukan semacam upaya pe-suakamargasatwa-an budaya daerah masing-masing, maka budaya tersebut takkan tenggelam dan habis terkikis budaya dari para non Pancasilais. Terutama bila generasi yang semakin sulit untuk dididik dan yang semakin sulit dihujani inspirasi motivasi. Semoga, Calung Banyumasan ini tetap eksis hingga masa transisi Indonesia berakhir dan setelahnya.

Artikel ini disusun dengan dibantu oleh Bapak Uki Harnawa, selaku pengajar karawitan di SMA Negeri 1 Purwokerto.

#OSKMITB2018

 

DISKUSI


TERBARU


Kerang Batik

Oleh Kyas1 | 21 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Kerang Batik adalah jenis kerang bercangkang yang memiliki motif batik berwarna coklat kehijauan. Kerang ini diminati karena rasanya yang...

Kue Rasidah

Oleh Kyas1 | 21 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Kue Rasidah merupakan salah satu kudapan khas Melayu Deli di Kota Medan. Kue ini memiliki tempat istimewa dalam budaya Melayu. Asal/Sejar...

Lontong Medan

Oleh Kyas1 | 21 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Perayaan Idulfitri di Medan terasa belum lengkap tanpa kehadiran lontong Medan. Hidangan khas ini hampir selalu tersaji di meja makan saat...

Kue Bohong

Oleh Kyas1 | 21 Sep 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Kue Bohong adalah kuliner legendaris khas Medan yang memiliki nama unik namun rasanya tidak bisa membohongi lidah. Jajanan ini dikenal kar...

Si Pahit Lidah...

Oleh Kyas1 | 21 Sep 2026.
Cerita Rakyat

Deskripsi Kisah Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat adalah salah satu legenda paling populer di Sumatera Selatan. Cerita ini bukan hanya dongeng pengan...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...