|
|
|
|
|
|
Fafira Tanggal 07 Jul 2018 oleh Yeni27naibaho . |
Pemain dan penonton dituntut kewaspadaan dan disiplin. Seorang warga, Takdir Haria (45), menuturkan, seorang pemain harus menguasai betul teknik permainan fafiri agar tidak membahayakan dirinya dan juga penonton. Pemukul firi harus memahami betul cara memukulnya. Misalnya, dia harus mampu memukul persis sepertiga bagian firi di sebelah kanannya. ”Kalau pemukulannya sempurna, firi akan terlempar dan berputar-putar,” ujar Takdir.
Tahapan permainan fafiri sebelum dinyatakan sebagai pemenang, menurut Takdir, harus melalui tahapan-tahapan yang cukup panjang. Mulai dari undian menentukan pemukul pertama dengan suit(adu jari, kelingking, ibu jari, dan telunjuk) dalam bahasa di sana disebut fasi. Yang menang akan berhak menjadi regu pertama memukul firi.
Tahapan berikutnya adalah memukul. Para pemain memukul firi dan harus mengenai firi lawan yang terpasang. Selain itu, “Ada pemukulan melalui selangkangan, melewati bahu, dan terakhir memukul dengan mata ditutup,” ujar warga Bawömataluo yang di masa kecilnya adalah pemain fafiri.
Sayangnya, pada fafiri Sabtu, 14 Mei 2011 lalu, tampaknya sudah mengalami modifikasi dan penyederhanaan sehingga penonton tidak bisa menyaksikan tahapan-tahapan itu dengan sempurna. “Permainan hari ini tidak memainkan semua tahapan itu,” ujar Takdir Haria.
Permaian fafiri hari itu dilakonkan empat pemuda Desa Bawömataluo. Setiap grup terdiri dari dua orang, Grup A dan Grup B. Setelah diundi melalui fasi, Grup A tampil sebagai pemukul firi pertama. Sementara Grup B bertugas memasang bago dan firi, sebagai sesasaran pemukulan. Tak terlihat pemukulan yang sampai sejauh dua belas rumah. Hanya beberapa meter dari pemukul.
Setelah sasaran terpasang, Grup A memukul firi ke arah sasaran. Pemukul firi pertama tidak berhasil mengenai sasaran. Penonton bersora, ”Huuuuuuu….”. Lantas dilanjutkan pemain yang satu lagi. Pada pukulan kedua ini pun, pemain tidak berhasil mengenai sasaran. Dan, “Huuuuuuu….,” terdengar ocehan penonton yang jumlahnya ratusan.
Posisi berubah. Kini giliran Grup B yang berhak memukul firi. Pemukul pertama Grup B berhasil mengenai sasaran, menjatuhkan firi yang dipasang Grup A. Permainan dimenangi oleh Grup B dan tampil sebagai juara.
Meskipun penampilan fafiri dalam Bawömataluo 2011 tidak sempurna, penonton merasa puas. Mereka bersorak, berjingkrak-jingkrak. Tidak begitu peduli apakah permainan itu sempurna atau tidak. “Luar biasa,” kata seorang pengunjung yang datang dari Medan.
Hingga sekarang ini, penduduk desa ini masih memainkan fafiri di sore hari untuk mengisi waktu lowong. Desa berpenduduk 6.000 jiwa itu merupakan areal seluas 5 hektar dan memiliki empat lorong yang lebar dan memberi ruang bagi penduduk memainkan permainan ini. Menurut Takdir, di masa lalu lorong-lorong itulah tempat satu-satunya bagi mereka bermain fafiri.
Desa yang terletak 250 meter di atas permukaan laut ini memiliki empat lorong utama, yakni lorong raya (gerbang timur), lorong halamba’a (gerbang selatan), lorong lou (gerbang barat), dan lorong Ndrölömbagoa (gerbang Utara). “Lorong inilah tempat kami bermain fafiri di masa kecil,” ujar Takdir.
Semoga permainan tradisional fafiri terus terpelihara sebagai sebuah kekayaan budaya daerah dan menjadi salah satu tontonan yang menarik bagi pengunjung desa yang dulu banyak dikunjungi wisatawan asing yang turun dari kapal-kapal pesiar yang berlabuh di Telukdalam itu.
sumber : gaedegambarist.blogspot.com/2011/09/fafiri-permainan-tradisional-nias.html
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |