|
|
|
|
|
|
Kisah Batu Asu Tanggal 23 Aug 2018 oleh Deni Andrian. |
Anjing adalah binatang yang sangat dihormati didalam budaya dayak, karena anjing merupakan binatang yang setia dan juga siap sedia melindungi tuannya. Bahkan didalam beberapa kebudayaan dayak, anjing diberikan upacara pemakaman yang khusus.
Ada satu cerita tentang bagaimana budaya dayak menghargai anjing peliharaan. Alkisah di desa Tumbang Habaun yang sekarang merupakan bagian dari Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, sesuai nama kabupaten ini “Gunung Mas”, maka jaman dahulu memang derah ini dikenal dengan kandungan emasnya.
Didesa Tumbang Habaun ini hiduplah satu keluarga, sebut saja namanya keluarga Bapak Atak, seperti kebanyakan orang didesanya pada waktu itu selain berladang ia juga pergi mendulang emas. Sering Bapak Atak ini memperoleh emas yang banyak dan setiap kali ia pergi ia selalu ditemani anjing setianya.
Suatu ketika, Bapak Atak ini pergi mendulang di pinggir sungai Kahayan, seperti kebiasaanya ia pergi bersama anjing penjaganya yang menunggu di atas jukung – sampan. Hari itu Bapak Atak sangat mujur, hasil dulangan emasnya sangat banyak. Setelah senang memperoleh hasil dulangan yang banyak ini, Bapa Atak segera menaruh emas itu didalam batok kelapa yang dipersipkannya dan meletakannya di atas jukungnya. Entah kenapa, mungkin karena anjing Bapa Atak ini ingin segera bersama bermain dengan tuannya, kemudia ia melompat dari atas jukungnya dan membuat emas yang di taruhnya di atas jukung tadi terbalik dan jatuh kedalam sungai.
Melihat emas dulangannya jatuh terbalik ke sungai membuat emosi yang tak tertahankan dari Bapa Atak ini. Ia kemudian memukul-mukul anjingnya sambil memarahinya kemudia ia menyuruh anjingnya untuk mendulang kembali emas yang telah ditumpahkannya itu. Dengan merasa bersalah anjing itu berusaha mengais-ngais emas di pinggir sungai sambil mendengar makian dan amarah dari majikannya.
Ternyata perlakuan Bapa Atak terhadap anjingnya itu membuat marah sang-Penguasa Alam (Ranying Hatalla), sekonyong-konyong kilat menggelegar untuk memperingati Bapa Atak ini tetapi ternyata Bapa Atak terlalu dikuasai amarahanya. Ketika bapa Atak hendak memukul anjingnya lagi tiba-tiba anjingnya berubah menjadi batu sebagai tanda peringatan dan semenjak saat itu emas tidak ditemukan lagi disekitar kampung Tumbang Habaun. Saat ini batu asu ini terletak di Sungai Suran – anak sungai Kahayan, penulis berskesemapatan kesana dalam suatu mission trip. Dari cerita ini terlihat bagaimana budaya Dayak tidak mengjinkan perilaku semena-mena terhadap binatang.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2013/11/30/kisah-batu-asu/
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |