|
|
|
|
|
|
Kue Bacot: Cerita dari Sang Penghubung Keluarga Tanggal 08 Aug 2018 oleh Oskm18_16318126_muzaimatul . |
Kesakralan pernikahan bukanlah hanya milik kedua mempelai yang akan mengikrarkan janji sehidup semati, melainkan juga milik kedua belah pihak keluarga yang turut serta berbahagia. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan yang ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi, tetapi juga menyatukan adat dan budaya dari pihak yang bersuka cita. Dalam sebuah pernikahan, kedua belah pihak tentunya ingin mempersembahkan identitas terbaik mereka, baik melalui pakaian, tarian, lagu, maupun hidangan yang tersaji. Melalui berbagai macam persembahan yang diberikan oleh Sang Pemilik Hajat, tentunya kita akan menyadari betapa banyaknya keragaman yang harus dihargai di negeri ini.
Teman, pernahkah kamu mendengar sebuah hidangan bernama Kue Bacot?
Ya, namanya Kue Bacot. Mungkin sebagian dari kalian merasa aneh membaca namanya, tapi hidangan itu memang benar-benar ada. Kue Bacot adalah sebuah hidangan tradisional dari daerahku yang terletak di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Banten. Pada dasarnya, Kue Bacot bukanlah hidangan yang disajikan saat resepsi, melainkan sebuah hantaran yang diberikan sebelum atau sesudah akad berlangsung. Setelah proses lamaran selesai, biasanya keluarga dari calon mempelai wanita memberikan sejumlah wadah berupa baskom atau nampan yang berisikan berbagai macam kue tradisional seperti kue cincin, kue wajik, kue geplak, serundeng, uli, dodol, dan nasi beserta lauk pauknya. Inilah yang disebut dengan Kue Bacot.
Nantinya, keluarga calon mempelai pria akan menempatkan makanan tersebut dalam beberapa wadah yang lebih kecil dan membagikan Kue Bacot kepada kerabat terdekatnya. Dalam waktu singkat, kerabat yang telah diberikan Kue Bacot akan mengembalikan wadah kue yang disertai dengan sejumlah uang kepada keluarga calon mempelai pria. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu pembiayaan resepsi kedua mempelai.
Nominal pemberian uang dalam hantaran Kue Bacot biasanya didasari oleh kuantitas dan kualitas Kue Bacot tersebut. Semakin beragam dan lezat isinya, maka kerabat pun akan memberikan nominal uang yang cukup besar dan begitu pun sebaliknya. Namun, dalam persoalan mengenai uang ini, kebanyakan kerabat akan merasa segan apabila nominal uang yang akan diberikan terasa kurang pas jika dibandingkan dengan pemberian Kue Bacot yang mereka terima. Ada yang merasa bahwa Kue Bacot tersebut kurang memuaskan, sehingga mereka pun beranggapan sebaiknya uang yang diberikan harus dalam nominal yang kecil. Ada pula yang merasa bahwa Kue Bacot tersebut terasa memuaskan, namun mereka tak punya cukup uang untuk membantu lebih. Hal-hal inilah yang akhirnya menjadi pergunjingan antar kerabat, hingga akhirnya nama "Kue Bacot" yang berarti "Bahan Omongan" pun muncul.
Kue Bacot adalah salah satu warisan budaya Betawi. Meski tak banyak yang tahu dan ruang lingkup perswbarannya sempit, kita tetap harus berusaha melestarikan tradisi ini karena bagaimanapun juga tradisi inilah yang mampu mengeratkan tali silaturahim dua belah pihak keluarga yang kelak akan bersatu.
Terima kasih atas waktunya, Teman. Semoga dengan adanya tulisan ini, kita semakin bisa menyadari bahwa sesempit apapun ruang tinggal kita, adat dan budaya akan selalu mampu untuk hadir mengisi hari-hari kita. Kita tak perlu sama untuk bisa bersatu, yang kita perlukan adalah sebuah keyakinan untuk saling membahu.
Narasumber: Keluarga
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |