|
|
|
|
|
|
Olahan Ikan Khas Palembang Tanggal 09 Aug 2018 oleh OSKM_19918053_Satria Ramadhan. |
Tidak diragukan lagi Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali keragaman. Dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua banyak sekali keragaman yang dapat kita jumpai, tidak hanya budayanya saja namun juga berbagai olahan khas daerah. Di Palembang, Sumatera Selatan olahan yang paling sering kita jumpai tidak lain adalah pempek dan tekwan. Kedua makanan ini identik sekali sebagai makanan khas Palembang. Bahan dasar dari kedua makanan ini adalah ikan dan sagu. Ikan yang dapat digunakan untuk membuat makanan ini tidak sembarangan. Ikan yang harus digunakan adalah ikan tenggiri ataupun ikan kacangan. Untuk rasa terbaik sering kali menggunakan ikan tenggiri.
Kedua makanan ini diolah dengan cara yang tidak terlalu berbeda. Tahap awal pembuatan kedua makanan ini ialah dengan mengulek daging ikan yang ingin kita olah sampai halus. Setelah itu, adonan diberi air es, bawang putih, garam, merica, lada, dan sedikit gula. Lalu, campurkan sagu ke dalam adonan. Untuk pembuatan tekwan, sagu yang dicampurkan hanya cukup sampai adonan tidak begitu lengket. Berbeda dengan pempek, sagu yang digunakan harus merubah adonan menjadi tidak lengket. Untuk pembuatan tekwan, adonan yang sudah jadi tinggal dibentuk bulat bulat dengan dua sendok, lalu direbus di dalam air kaldu udang. Setelah itu, tambahkan jamur kuping, potongan bengkoang, dan kembang sedap malam ke dalam kuah.
Untuk pembuatan pempek. Adonan yang sudah jadi dicetak dengan berbagai bentuk seperti pempek lonjong ataupun kapal selam. Untuk pempek kapal selam pembentukannya sedikit rumit dikarenakan pada saat membungkus kocokan telur dengan adonan terkadang telur masih suka tumpah. Pempek biasa dihidangkan didampingi dengan cuko.
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Tionghoa sekitar aabad ke-16. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan apek atau pek-pek, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua Tionghoa.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek. #OSKMITB2018
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |