×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

permainan tradisional

Elemen Budaya

Permainan Tradisional

Provinsi

Maluku

Permainan Ancong-ancong

Tanggal 27 Apr 2016 oleh Ressy vemialita.

Ancong-ancong adalah sebutan bagi orang Yamdena untuk sebuah permainan menebak salah satu tangan pemain yang berada di atas punggung pemain lainnya yang sedang dalam posisi merangkak. Permainan ini terdapat di sekitar Kepulauan Tanimbar, daerah Maluku Utara, Indonesia, khususnya Pulau Yamdena, Selaru, Seira, Angwarmase dan Fordata. “Ancong-ancong” berasal dari bahasa Yamdena, yang dalam bahasa Indonesia sangat sulit untuk diterjemahkan. Permainan ancong-ancong menurut penduduk Yamdena, telah ada dan dimainkan sejak tahun 1930-an. Pada waktu itu, di daerah Yamdena masih banyak keluarga yang hidup dalam satu rumah besar. Setiap rumah besar umumnya dihuni oleh 6 hingga 7 keluarga yang biasanya mempunyai banyak anak. Pada waktu malam hari, biasanya anak-anak dari beberapa keluarga tersebut akan berkumpul menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain di dalam rumah. Salah satu permainan yang mereka lakukan adalah ancong-ancong.
 
Pemain
Permainan ancong-ancong biasanya dimainkan oleh anak-anak, baik lelaki maupun perempuan, usia 5 hingga 8 tahun. Permainan ini minimal dimainkan oleh 5 anak dan maksimal 10 anak. Apabila pesertanya lebih dari 10 anak, permainan tidak akan berjalan lancar, sebab umumnya permainan ini dilakukan di dalam rumah.
 
Tempat Permainan
Tempat permainan ancong-ancong umumnya dilakukan di ruang tamu atau ruang makan, karena permainan ini biasanya dilakukan menjelang tidur atau selesai makan malam. Oleh karena permainan ini dilakukan di dalam rumah, maka luas arena permainan pun tergantung dari luas ruang tamu atau ruang makan sebuah rumah.
 
Peralatan Permainan
Permainan ancong-ancong tidak menggunakan peralatan khusus, kecuali lagu dan syair. Berikut ini adalah syair yang dilantunkannya.
 
Ancong-ancong mpeang angkomai roi-roi
Angku tambah labu seela baelaba
Cabu ruku rukuku cabu ruku rukuku ise
 
Aturan Permainan
Aturan permainan ancong-ancong sangatlah sederhana, yaitu seseorang yang dipilih untuk merangkak harus menebak tangan siapa yang berada di punggungnya.
 
Proses Permainan
Permainan ini diawali dengan pemilihan dua orang yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Satu orang akan dipilih menjadi perangkak dan seorang lagi menjadi pemimpin permainan (diregen). Setelah itu, perangkak akan mengambil posisi merangkak dan pemimpin permainan akan memberi aba-aba pada pemain lain untuk meletakkan kedua telapak tangan mereka pada punggung pemain yang merangkak. Khusus untuk diregen hanya meletakkan telapak tangan kirinya saja, sementara tangan kanannya akan digunakan untuk menunjuk telapak tangan pemain lainnya. Tunjukan jari tangan diregen akan berpindah-pindah dari tangan satu pemain ke pemain berikutnya. Penunjukan itu dilakukan ketika lagu dinyanyikan. Pada akhir lagu, tunjukan tangan diregen akan berhenti pada salah satu telapak tangan pemain. Pada saat itulah pemain yang posisinya merangkak tersebut akan menebak tangan siapa dari pemain yang ditunjuk oleh diregen. Apabila tebakan benar, maka pemain yang tangannya ditunjuk oleh diregen akan menggantikan posisi anak yang merangkak tersebut, namun jika tidak berhasil maka si pemain akan tetap dalam posisi merangkak dan permainan dimulai kembali.
 
Nilai Budaya
Nilai budaya dalam permainan ancong-ancong adalah kerukunan dan sportivitas. Nilai kerukunan tercermin dari berkumpulnya anak-anak di dalam rumah saat matahari tenggelam. Nilai ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Maluku Utara yang mencerminkan kerukunan antarsesamanya. Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. 
 
 
 
 
Sumber:
Suradi Hp, dkk. 1981. Permainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

DISKUSI


TERBARU


Sulukan Wayang...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penelitian ini bertujuan untuk mencari penjelasan tentang ragam sulukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta versi Timbul Hadi Prayitno, Had...

Musik Liturgi I...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Musik dan Lagu

Deskripsi Musik liturgi inkulturatif adalah praktik penggunaan musik yang menggabungkan unsur-unsur budaya lokal dalam perayaan liturgi Katolik. Di...

Kereta Singo Ba...

Oleh Kyas1 | 08 Oct 2026.
Alat Musik

Deskripsi Kereta Singo Barong merupakan salah satu objek seni yang tersimpan di Museum Kasepuhan Cirebon. Objek ini mengalami perubahan makna seirin...

Prasasti Kakuru...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Naskah Kuno dan Prasasti

Deskripsi Fisik Prasasti Kakurugan adalah sebuah tulisan Jawa Kuno. Isi/Kandungan Prasasti ini membahas tentang peran pendekar pada masa Pemerinta...

Gulai Kuning Ik...

Oleh Kyas1 | 07 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Gulai kuning ikan patin adalah hidangan kuliner Nusantara yang terkenal dengan aroma gurih kuah kaya rempah. Hidangan ini memadukan daging...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...