|
|
|
|
|
|
Prasasti Ciaruteun Tanggal 23 Apr 2016 oleh Farrihnabhan . |
Mungkin pada awalnya orang tidak banyak yang tahu arti penting seonggok batu besar yang ada di Sungai Ciaruteun ini, sampai akhirnya pada tahun 1863 pimpinan Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen melaporkannya. Itulah prasasti Ciaruteun yang terletak di pinggir Sungai Ciaruteun. Pada saat penemuannya prasasti ini tidak menyebutkan anggak tahun, sehingga sangat sulit untuk menentukan kapan tahun pembuatannya.
Pada tahun 1893 prasasti ini pernah terhanyut beberapa meter oleh derasnya aliran sungai dan bgian batu yang bertulis terbalik posisinya ke bawah. Pada tahun 1903 prasasti ini dikembalikan ketempat semula.
Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) sebelumnya dikenal dengan sebutan prasasti Ciampea, ditemukan di Sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Yang menarik perhatian dari prasasti ini adalah lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan disebelah atas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari empat baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh.
Berikut adalah terjemahan dari prasasti Ciaruteun;
ini (bekas) dua kaki,
yang seperti dewa wisnu,
ialah kaki yang Mulia Sang Purnawarman,
raja negeri Taruma,
raja yang gagah berani di dunia.
Berdasarkan isi prasasti ini kita dapat mengetahui bawah prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan raja Purnawarman yang memerintah di kerajaan Trauma (Tarumanegara). Dan apabila kita memerhatikan irama, sepertinya memiliki kesamaan dengan prasasti yang ditemukan di Kutai, yang dikeluarkan oleh raja Mulawarman yaitu sama-sama menggunakan irama anustubh. Hal ini mungkin adanya kesamaan kebudayaan yang berkembang antara di Taruma dan Kutai. Selanjutnya kesamaan nama belakang mereka yaitu Warman semakin memperkuat dugaan tersebut.
Melihat bentuknya, prasasti ini mengingatkan adanya hubungan dengan prasasti raja Mahendrawarman I dari keluarga Palla (India) yang didapatkan di Dalavanur. Apabila kita hubungkan antara irama penulisan (anustubh) dan bentuknya kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa Kerajaan Taruma dan Kutai memiliki kesamaan kebudayaan dengan keluarga Palla di India.
Apabila kita melihat isinya, menunjukan bahwa Sang Purnawarman ingin menunjukan kepada rakyatnya bahwa ia seorang raja negeri Taruma yang gagah berani di dunia, yang ditandai dengan cap sepasang telapak kakinya yang bagai kaki Dewa Wisnu. Cap telapak kaki ini melambangkan kekuasaan Purnawarman atas daerah ditemukannya prasasti, yang menegaskan kedudukan diibaratkan Dewa Wisnu sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1224/prasasti-ciaruteun
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |