|
|
|
|
|
|
Ancong Ancong Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Ancong-ancong adalah nama yang diberikan oleh orang Yamdena untuk permainan menebak tangan. Permainan ini ditemukan di sekitar Kepulauan Tanimbar, Maluku Utara, khususnya di Pulau Yamdena, Selaru, Seira, Angwarmase, dan Fordata. Kata "Ancong-ancong" berasal dari bahasa Yamdena dan sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut penduduk Yamdena, permainan ini telah ada dan dimainkan sejak tahun 1930-an. Pada masa itu, banyak keluarga di daerah Yamdena tinggal dalam satu rumah besar, yang biasanya dihuni oleh 6 hingga 7 keluarga dengan banyak anak. Pada malam hari, anak-anak dari keluarga-keluarga tersebut sering berkumpul dan bermain di dalam rumah, dan Ancong-ancong adalah salah satu permainan yang mereka mainkan.
Permainan Ancong-ancong biasanya dimainkan oleh anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, berusia 5 hingga 8 tahun. Permainan ini membutuhkan minimal 5 anak dan maksimal 10 anak. Jika pesertanya lebih dari 10 anak, permainan tidak akan berjalan lancar karena umumnya dilakukan di dalam rumah.
Permainan Ancong-ancong umumnya dilakukan di ruang tamu atau ruang makan, karena biasanya dimainkan menjelang tidur atau setelah makan malam. Karena permainan ini dilakukan di dalam rumah, luas arena permainan tergantung pada luas ruang tamu atau ruang makan rumah tersebut.
Permainan Ancong-ancong tidak menggunakan peralatan khusus, kecuali lagu dan syair. Syair yang dilantunkan adalah:
Aturan permainan Ancong-ancong sangat sederhana: seseorang yang dipilih untuk merangkak harus menebak tangan siapa yang berada di punggungnya.
Permainan dimulai dengan pemilihan dua orang melalui musyawarah/mufakat. Satu orang akan dipilih sebagai perangkak dan satu lagi sebagai pemimpin permainan (diregen). Setelah itu, perangkak akan mengambil posisi merangkak, dan pemimpin permainan akan memberi aba-aba kepada pemain lain untuk meletakkan kedua telapak tangan mereka pada punggung pemain yang merangkak. Khusus untuk diregen, ia hanya meletakkan telapak tangan kirinya saja, sementara tangan kanannya akan digunakan untuk menunjuk telapak tangan pemain lainnya. Tunjuk jari tangan diregen akan berpindah-pindah dari tangan satu pemain ke pemain berikutnya saat lagu dinyanyikan. Pada akhir lagu, tunjuk tangan diregen akan berhenti pada salah satu telapak tangan pemain. Pada saat itulah pemain yang dalam posisi merangkak akan menebak tangan siapa dari pemain yang ditunjuk oleh diregen. Jika tebakan benar, maka pemain yang tangannya ditunjuk oleh diregen akan menggantikan posisi anak yang merangkak. Namun, jika tebakan salah, pemain tersebut akan tetap dalam posisi merangkak dan permainan dimulai kembali.
Nilai budaya dalam permainan Ancong-ancong adalah kerukunan dan sportivitas. Nilai kerukunan tercermin dari berkumpulnya anak-anak di dalam rumah saat matahari terbenam, yang mencerminkan kerukunan antarsesama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku Utara. Nilai sportivitas tercermin dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat bermain dan mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Sumber: https://uun-halimah.blogspot.com/2008/08/permainan-ancong-ancong-maluku.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |