|
|
|
|
|
|
Asal Usul Raja Taura Tanggal 25 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Pada zaman dahulu, seorang raja bernama Datuelo bertahta di Desa Tavebia, Kulawi, Sulawesi Tengah. Ia ingin membangun baruga (rumah adat) bernama Ntamalilo dan mengadakan pesta besar untuk peresmiannya, mengundang orang-orang dari Tobaku, Banggaiba, Ntipe, Sivongi, dan Tovulu. Saat pesta berlangsung, Datuelo menantang Raja Logia dari Tobaku untuk memanjat bubungan baruga dan mengambil telinga kerbau yang baru digantungnya. Logia menerima tantangan, namun saat berhasil mengambil telinga kerbau, ia terpeleset dan jatuh, lalu ditikam keris oleh Datuelo hingga tewas seketika. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan dan dendam di hati rakyat Tobaku. Mereka menguburkan Logia dan bersepakat menyerang Tavebia untuk membalas dendam. Tujuh utusan dikirim untuk memberitahukan rencana penyerangan yang akan dilakukan satu bulan kemudian. Pertempuran sengit terjadi, dan pasukan Tobaku awalnya kalah jumlah sehingga terpaksa mundur dengan hanya 30 orang tersisa. Datuelo berteriak provokatif, "Kalau kalian belum puas, silahkan datang lagi. Kami siap menunggu serangan berikutnya! Moma mupakule mompaeva tavua bola bo tavua lei (kamu tidak akan mampu melawan lebah putih dan lebah merah)". Keesokan harinya, pasukan Tobaku datang lagi dengan bantuan dari Ntipe, Banggaiba, Tovulu, dan Sivongi, sehingga jumlah mereka melebihi pasukan Tavebia. Pertempuran berlanjut dengan korban jiwa yang banyak, dan Raja Datuelo tewas bersama sebagian besar penduduk Tavebia. Istrinya yang sedang hamil tua berhasil melarikan diri menyusuri Sungai Oo dan bersembunyi di goa di sekitar hutan Hoho hingga melahirkan bayi laki-laki. Seorang pemburu dari Hoho menemukan ibu dan bayinya di goa, dan merasa iba, ia menawarkan mereka untuk tinggal di rumahnya. Bayi itu diberi nama Sesoki dan tumbuh menjadi anak gagah berani. Ia sering berburu bersama ayah angkatnya hingga ke Gunung Vongu, Kulawi, dan Lindu. Suatu hari, saat berburu di Gunung Pekalotia, Sesoki bertemu pemburu lain bernama Nculelindu, dan mereka menjalin persahabatan dengan bertukar buah pinang. Mereka sering berburu bersama di hutan Hoho dan Lindu. Ketika berburu di sekitar Gunung Tamuku, mereka menghadapi cuaca buruk. Tiba-tiba, mereka mendengar suara memanggil, "Hei, tunggu dulu. Bolehkan aku ikut kalian?" Setelah mendapat jaminan agar anjing mereka tidak menggonggong, sesosok perempuan cantik bernama Halilienu keluar dari batang pohon pinang. Karena Nculelindu lebih tua, Halilienu memilih ikut dengannya dan mereka pun menikah beberapa minggu kemudian. Saat Sesoki datang ke pesta pernikahan, Nculelindu berjanji akan menjodohkan anak perempuannya nanti dengan Sesoki sebagai bentuk terima kasih. Beberapa bulan kemudian, Halilienu melahirkan bayi perempuan bernama Cindivongi. Halilienu menetapkan bahwa suaminya yang harus membasuh pantat bayi saat buang air besar, karena pantang baginya melakukan itu.
Sumber: https://uun-halimah.blogspot.com/2009/01/asal-usul-raja-taura.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |