|
|
|
|
|
|
Belibis Putih Tanggal 03 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Dikisahkan seorang nelayan bernama Narajana yang tinggal di pesisir selatan. Setiap hari Narajana mencari ikan di laut. Suatu hari, Narajana merasa sangat sedih karena dari pagi sampai siang tidak ada ikan yang memakan pancingnya. Dia lapar, badannya panas, dan keringat bercucuran karena terik matahari. Narajana kemudian berlayar ke tengah laut dan menemukan sebuah karang besar. Ia berniat beristirahat di sana. Ia turun dan mengeluarkan bekalnya yang berisi sangu, dua buah tipat galeng, sebungkus pesan lindung, dan sambal isen dengan garam kusamba. Setelah makan, Narajana beristirahat di bawah pohon. Ia termenung cukup lama. Kemudian datanglah angin sepoi-sepoi yang menenangkan hatinya. Ketika Narajana menoleh ke timur, ia melihat seekor belibis putih. Ia segera ingin menangkap burung itu dengan jalanya. Narajana terkejut mendengar burung itu berbicara seperti manusia, "Bapa! Bapa! Jangan bunuh saya, Bapa! Jika Bapa mau menolong saya, saya akan membantu Bapa mencari ikan." Narajana menuruti perkataan burung itu karena baru pertama kali ia melihat belibis putih bisa berbicara seperti manusia. Belibis itu mengatakan bahwa ia tahu tempat berkumpulnya ikan. Kemudian ia menunjukkan tempat itu kepada Narajana. Akibatnya, Narajana mendapatkan banyak ikan besar dan gemuk. Saat senja, belibis itu dibawanya pulang. Narajana membuatkan kandang di samping rumahnya. Narajana sangat menyayangi belibis itu. Setiap hari belibis itu diberi makanan seperti yang ia makan sendiri, sehingga belibis itu sangat senang. Narajana menyayanginya seperti menyayangi anaknya sendiri. Suatu hari, Belibis Putih mendengar kabar dari burung gagak bahwa di lubang ular ada banyak emas. Emas-emas itu disembunyikan oleh pencuri di masa lalu. Sekarang pencuri itu sudah mati. Belibis Putih kemudian memberitahu Narajana untuk mencari emas-emas itu. "Bapa! Pergi Bapa ke pesisir selatan. Lihat pohon besar yang ada lubang ularnya." Jika sudah ditemukan, periksalah lubangnya. Jika ada emas, Bapa boleh mengambilnya. Karena pencuri yang menyembunyikan emas itu sudah mati. Ia mendapatkan emas dengan cara yang tidak benar. Narajana segera pergi ke pesisir. Ia menemukan sebuah pohon besar dengan lubang yang sangat dalam. Ia ragu-ragu untuk masuk karena takut digigit ular. Ketika ia melihat ada tikus di mulut lubang, barulah Narajana berani masuk. Ia terkejut melihat banyaknya emas di sana. Ia kemudian membawanya pulang. Belibis Putih kemudian mendengar kabar lagi dari anjing kurapan bahwa di pembuangan banyak harta karun terkubur. Harta karun itu disembunyikan oleh pencuri di masa lalu. Sekarang pencuri itu sudah mati. Belibis Putih kemudian memberitahu Narajana untuk mencari harta karun itu. Akhirnya, Narajana memiliki banyak emas dan harta benda. Semua itu berkat petunjuk dari Belibis Putih. Belum genap sebulan memelihara Belibis Putih, Narajana sudah menjadi orang kaya. Oleh karena itu, ia sangat menyayangi Belibis Putih. Suatu ketika, Prabu Boja sedang bersedih karena tidak bisa memutuskan suatu perkara. Ada dua pandita. Keduanya sedang memperebutkan seorang istri. Sang istri tidak bisa mengingat suaminya yang mana yang sejati dan mana yang siluman. Belibis Putih kemudian memberitahu Narajana untuk pergi ke puri. Untuk menyampaikan keputusan yang tidak biasa. Oleh karena itu, Narajana kemudian pergi ke puri. Dan berjanji akan bisa memutuskan perkara itu. Setelah Sang Prabu mendengar perkataan Narajana, Narajana kemudian berkata kepada kedua pandita. "Wahai, Tuan Pandita! Ini ada sebuah gentong tanah. Silakan Tuan masuk! Siapa saja yang bisa masuk, dialah yang berhak memiliki istri itu." Setelah Narajana berkata begitu, pandita yang sejati tiba-tiba pingsan. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat pasi seperti akan mati. Karena ia merasa di hatinya tidak akan bisa masuk. Tetapi pandita yang siluman sangat senang. Hatinya gembira. Seolah tidak ada yang bisa menandingi. Karena sangat mudah baginya untuk melakukannya. Ia kemudian tidak bisa dihentikan saat akan masuk ke gentong. Setelah di dalam, Narajana kemudian mengambil gentong itu. Lalu disumbat dan dibakar di api besar. Hingga gentong itu pecah dan pandita yang siluman itu mati terbakar. Sang Prabu sangat senang. Karena sudah bisa memutuskan perkara, Narajana kemudian diangkat menjadi Mantri Agung. Dan selalu mendampingi perjalanan Ida Sang Prabu. Saat memutuskan perkara yang sulit, Narajana selalu meminta pendapat dari Belibis Putih.
Sumber: http://bliyanbelog.blogspot.com/2011/11/belibis-putih.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |