|
|
|
|
|
Benteng Speelwijk adalah benteng pertahanan yang dibangun di Banten, menghadap ke laut. Bentuk bangunannya menyerupai segi empat atau struktur berbentuk segitiga, dengan tiap sisinya dibangun ruang inti atau menara pengintai. Bagian tepi benteng dikelilingi parit dengan luas mencapai sekitar 10 meter. Benteng ini dirancang dengan menggabungkan gaya Eropa dengan elemen lokal. Meskipun tidak terlalu besar, posisinya strategis untuk pengawasan perairan sekitarnya.
Benteng Speelwijk terdiri dari beberapa bagian utama yang berfungsi untuk pertahanan dan pengawasan.
Benteng Speelwijk dibangun menggunakan dinding tebal yang terbuat dari batu bata dan batu alam. Tembok pertahanan benteng setinggi 3 meter.
Benteng Speelwijk dibangun dengan beberapa tujuan strategis dan politis. Fungsi utamanya adalah melindungi jalur perdagangan Belanda dan mengendalikan akses ke pelabuhan Banten, serta mengantisipasi serangan rakyat Banten, khususnya pengikut Sultan Agung Tirtayasa. Selain itu, benteng ini juga dimaksudkan sebagai siasat Belanda untuk berkuasa atas Kesultanan Banten dan mengontrol kegiatan Kesultanan Banten.
Benteng Speelwijk dibangun pada tahun 1681-1684, pada masa Sultan Banten Ke-8, yaitu Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sultan Haji. Izin pendirian benteng diberikan oleh Sultan Haji untuk melawan ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Pembangunan benteng ini juga merupakan bagian dari strategi Belanda untuk memanfaatkan kisruh pewarisan tahta di Keraton Banten. Pembangunan benteng tidak menggunakan tenaga pribumi atau warga Kesultanan Banten, melainkan orang-orang Tionghoa dengan upah yang sangat rendah. Lokasi benteng yang dekat dengan Masjid Agung Banten dan keraton merupakan siasat Belanda untuk mengawasi Keraton Banten dengan leluasa.
Kondisi Benteng Speelwijk saat ini memperlihatkan tanda-tanda kerusakan yang parah. Bebatuan retak, rapuh, terkikis, dan banyak yang berjatuhan. Lumut hijau juga menutupi sebagian besar benteng. Kerusakan disebabkan oleh faktor alam (perubahan iklim, hujan deras, panas ekstrem, angin kencang) dan kurangnya perawatan yang memadai, serta proses pelapukan kimiawi.
Benteng Speelwijk merupakan hasil pemugaran berbagai bangunan di wilayah kesultanan, termasuk reruntuhan tembok Keraton Surosowan. Sejarah pembangunan benteng ini berawal dari perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Abu Nashar Abdul Qahar (Sultan Haji). Konflik internal ini dimanfaatkan oleh VOC yang menawarkan bantuan kepada Sultan Abu Nashar Abdul Qahar untuk merebut kekuasaan. Setelah Sultan Abu Nashar Abdul Qahar memenangkan perseteruan tersebut, bangunan ini didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada Gubernur Jenderal VOC, Cornelis Jan Zoon Speelman.
Di ruang bawah tanah terdapat bunker yang terhubung dengan lorong bagian barat, berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan sekaligus gudang senjata. Setelah melewati lorong, terdapat dua ruangan: ruang penjaga dan ruang tahanan. Ruang penjaga sedikit terbuka sehingga mendapatkan cahaya matahari, sementara ruang tahanan berada lebih jauh ke dalam dan tanpa penerangan. Kedua ruangan tersebut tidak terlalu luas dan tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Untuk masuk, harus mencari terowongan tersembunyi yang tingginya kurang dari satu meter. Saat ini, ruang bawah tanah terkunci dan hanya dapat diakses dengan pemandu atau penjaga.
Di dalam reruntuhan benteng ini terdapat makam beberapa petinggi VOC, antara lain:
Parit yang mengelilingi benteng berfungsi untuk melindungi dari serangan musuh dan mempersulit gerakan mereka. Selain itu, parit tersebut juga digunakan sebagai alat transportasi.
Di bagian utara benteng terdapat menara kecil yang berfungsi sebagai pusat informasi pertahanan dan untuk mengawasi aktivitas kapal di parit. Persenjataan dan logistik tersimpan di ruang bawah tanah.
Saat ini, bangunan benteng pertahanan ini sudah tidak utuh lagi, hanya menyisakan sisa-sisa bangunan yang dulunya digunakan sebagai rumah komandan, gereja, kamar senjata, kantor administrasi, toko kompeni, serta kamar dagang. Sebagian besar ruangan telah rata dengan tanah dan hanya menyisakan pondasi, lorong perlindungan, serta ruangan berdinding batu. Meskipun demikian, reruntuhan ini menjadi spot foto yang unik bagi pengunjung. Sayangnya, situs ini kurang terawat dengan baik, dan bagian dalamnya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk bermain sepak bola.
Benteng Speelwijk diarsiteki oleh orang kepercayaan Sultan Ageng Tirtayasa yang berketurunan Tionghoa, yang kemudian digelari Pangeran Cakradana. Pada masa Sultan Haji yang bekerja sama dengan Belanda, Herman Locasszoon, seorang desainer dari Belanda, dipercaya untuk melanjutkan atau memperbaiki bangunan ini. Konon, pembangunan benteng ini tidak menggunakan tenaga pribumi, melainkan masyarakat Cina dengan upah yang sangat rendah.
Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/benteng-speelwijk-benteng-penghormatan-untuk-jendral-hindia-belanda, https://cilegonhills.id/benteng-speelwijk-hadiah-sultan-banten-untuk-jenderal-voc, https://lpmsigma.com/mengenal-benteng-speelwijk
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |