|
|
|
|
|
|
Drama Wayang (drayang) Tanggal 24 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Belakangan ini, istilah "drayang" sering dibicarakan dalam dunia seni pertunjukan. Drayang adalah bentuk pertunjukan yang mengintegrasikan wayang dengan elemen-elemen seperti drama, tari, musik, tata visual, dan perangkat panggung lainnya. Kelompok seni Swargaloka dari Jakarta adalah pihak yang sering menggunakan istilah ini dalam karyanya dan telah mendaftarkan hak cipta intelektual untuk istilah tersebut. Fenomena percampuran seni ini bukanlah hal baru dalam seni pertunjukan Indonesia, yang sejak lama dikenal bergerak melalui perjumpaan artistik, seperti tari tradisi yang masuk ke panggung kontemporer, wayang yang dipadatkan untuk penonton kota, atau musik tradisi yang bertemu elektronik.
Tradisi bukan sekadar bentuk yang terlihat, melainkan mengandung pengetahuan yang mendalam, seperti pengetahuan tentang tubuh dalam tari, cara membangun tokoh dan konflik dalam wayang, serta cara mengatur rasa dan tempo dalam musik tradisi. Ketika bentuk-bentuk ini dipindahkan ke panggung baru, seharusnya bukan hanya permukaannya yang berubah, melainkan juga pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Pertunjukan drayang dapat dilihat sebagai sebuah peristiwa di mana tubuh, ruang, waktu, bunyi, dan penonton bertemu. Pertanyaan pentingnya bukan hanya "apa saja yang dicampurkan?", tetapi "apa yang terjadi setelah semuanya dicampurkan?". Misalnya, bagaimana tubuh pemain yang membawa pengetahuan wayang berubah ketika bertemu dengan tuntutan akting drama. Ini menunjukkan perubahan mendasar dalam cara pengetahuan budaya diwariskan, karena pertunjukan adalah salah satu cara kebudayaan mengingat dan mewariskan dirinya.
Penting untuk membedakan antara pertemuan dan dialog dalam seni. Pertemuan berarti unsur-unsur hadir bersamaan, sedangkan dialog berarti masing-masing unsur saling memengaruhi dan mengubah fungsi serta hubungan. Contohnya adalah Wayang Climen di Yogyakarta yang memadatkan durasi dan mempersempit fokus cerita untuk penonton urban, sehingga mengubah hubungan penonton dengan cerita dan cara pengetahuan disampaikan. Karya-karya Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta, seperti "Saidja: Once Upon a Time in the East", juga menunjukkan bagaimana medium baru mengubah cara pertunjukan bekerja, di mana tubuh aktor membentuk ruang dan pengalaman penonton. Demikian pula dalam tari kontemporer Indonesia, melalui Indonesian Dance Festival, terjadi perubahan cara memandang tubuh penari, tidak hanya sebagai alat teknik gerak tetapi juga sebagai tempat pengalaman, ingatan, dan identitas sosial. Ini menyiratkan bahwa tradisi tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang sama persis untuk tetap membawa pengetahuannya.
Yang terpenting dalam percampuran seni seperti drayang bukanlah berapa banyak unsur yang dikumpulkan di panggung, melainkan apakah pertemuan itu mengubah cara pertunjukan berkomunikasi dengan penonton. Tradisi tetap hidup ketika pengetahuan yang dikandungnya masih berfungsi dalam kehidupan yang terus berubah. Oleh karena itu, tradisi tidak perlu diam untuk tetap menjadi tradisi.
Sumber: https://borobudurwriters.id/seni-pertunjukan/mempertimbangkan-drama-wayang
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |