|
|
|
|
|
|
Erau Kutai Kartanegara Tanggal 23 Sep 2026 oleh Kyas1 . |
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara pertama (1300–1325), upacara Erau kembali diadakan. Sejak saat itu, Erau selalu diselenggarakan setiap kali terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Seiring perkembangannya, upacara Erau tidak hanya untuk penobatan Raja, tetapi juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa kepada Kerajaan. Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan, yang datang dari seluruh wilayah kerajaan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan seniman. Dalam upacara ini, Sultan dan kerabat Keraton lainnya menjamu rakyat sebagai tanda terima kasih atas pengabdian mereka. Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai untuk memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, bertepatan dengan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. Sementara itu, Erau sebagai upacara adat Kutai yang bertujuan melestarikan budaya oleh Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan dua tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang didirikan pada 29 September 1782. Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara terakhir, Sultan A.M. Parikesit, Erau dapat dilaksanakan oleh Pemda Kutai Kartanegara dengan kewajiban mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, namun tidak diperbolehkan melaksanakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar. Beberapa kegiatan yang diperbolehkan termasuk upacara adat lain dari suku Dayak, serta kesenian dan olahraga/ketangkasan.
Pemerintah Kabupaten Kutai telah menjadikan Erau sebagai pesta budaya dengan menetapkan waktu pelaksanaannya secara tetap pada bulan September, bertepatan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara. Festival Erau kini telah masuk dalam kalender acara pariwisata nasional dan tidak lagi hanya terkait dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara, melainkan lebih bervariasi dengan menampilkan beragam seni dan budaya yang ada serta berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sumber: https://rizkafitrianisuciayu.wordpress.com/2013/02/12/sejarah-erau-kutai-kartanegara
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |