|
|
|
|
|
Keraton Kasepuhan Cirebon adalah tapak sejarah penting di Jawa Barat. Keraton ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam. Meskipun merupakan bangunan bersejarah, keraton ini masih dilestarikan hingga kini dengan peninggalan dan arsitekturnya yang bernilai tinggi.
Keraton Kasepuhan Cirebon awalnya didirikan oleh Pangeran Cakrabuwana dengan nama Keraton Pakungwati. Kemudian, bangunan ini diperluas dan diperbaharui oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1483 Masehi.
Arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon mencerminkan akulturasi budaya yang unik. Bangunan dan interiornya menunjukkan pengaruh dari gaya Eropa, Cina, Arab, serta budaya lokal seperti Hindu dan Jawa. Semua unsur budaya ini menyatu dalam desain Keraton Kasepuhan.
Salah satu bagian dalam Keraton Kasepuhan Cirebon adalah Bangunan Pancaratna.
Keraton Kasepuhan memiliki dua lapisan bangunan bersejarah. Dalem Agung Pakungwati, lapisan tertua, didirikan sekitar tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Kemudian, kompleks Keraton Pakungwati dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Zainul Arifin (Panembahan Pakungwati I), cicit Sunan Gunung Jati, di sisi barat daya keraton lama. Nama Pakungwati diambil dari Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, dan nama tersebut kemudian digunakan untuk keraton ini sebelum lebih dikenal sebagai Keraton Kasepuhan. Pada abad ke-17, Kesultanan Cirebon mengalami pembagian kekuasaan yang menghasilkan garis Kasepuhan (Sultan Sepuh), Kanoman (Sultan Anom), dan cabang lainnya. Sultan Sepuh I kemudian menempati Keraton Pakungwati yang selanjutnya dikenal sebagai Keraton Kasepuhan, menandai garis sepuh/utama dalam struktur pasca-pembagian tersebut.
Siti Inggil (lemah duwur) adalah area tinggi di kompleks Keraton Kasepuhan yang sering digambarkan mirip pelataran candi. Di dalamnya terdapat sejumlah mande (bangunan terbuka) dengan jumlah tiang yang dihubungkan ke simbol keislaman, seperti penanda rukun iman, rukun Islam, dan syahadat pada mande tertentu. Di area inilah gamelan/gong Sekati secara tradisional dibunyikan pada momen besar seperti Idulfitri dan Iduladha.
Memasuki lebih dalam ke kompleks, pengunjung akan melewati zona penungguan dan pelayanan seperti Lunjuk dan Sri Manganti, sebelum mencapai area inti kesultanan. Bangunan induk keraton memiliki ruang-ruang dengan nama dan fungsi historis, mulai dari tempat menerima tamu hingga bangsal sidang atau pertunjukan. Polanya menunjukkan hierarki ruang dari luar ke dalam.
Keraton Kasepuhan memiliki museum dan koleksi yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Museum benda kuno/pusaka menyimpan artefak, lukisan, dan benda-benda yang terkait dengan kesultanan. Selain itu, terdapat museum kereta yang salah satunya menyimpan Kereta Singa Barong, kereta kencana yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Kereta ini tidak digunakan untuk sehari-hari, namun secara tradisi sering dikeluarkan atau dimandikan pada momentum 1 Syawal.
Sumber: https://budayaindonesiaaa.wordpress.com/2014/12/18/rumah-adat-kesepuhan, https://readmore.id/sejarah/keraton-kasepuhan-cirebon
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |