×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Produk Arsitektur

Elemen Budaya

Produk Arsitektur

Provinsi

Jawa Barat

Asal Daerah

Cirebon, Jawa Barat

Keraton Kasepuhan Cirebon

Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . Revisi 2 oleh Kyas1 pada 26 Oct 2026.

Deskripsi

Keraton Kasepuhan Cirebon adalah tapak sejarah penting di Jawa Barat. Keraton ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam. Meskipun merupakan bangunan bersejarah, keraton ini masih dilestarikan hingga kini dengan peninggalan dan arsitekturnya yang bernilai tinggi.

Sejarah

Keraton Kasepuhan Cirebon awalnya didirikan oleh Pangeran Cakrabuwana dengan nama Keraton Pakungwati. Kemudian, bangunan ini diperluas dan diperbaharui oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1483 Masehi.

Ciri Khas Arsitektur

Arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon mencerminkan akulturasi budaya yang unik. Bangunan dan interiornya menunjukkan pengaruh dari gaya Eropa, Cina, Arab, serta budaya lokal seperti Hindu dan Jawa. Semua unsur budaya ini menyatu dalam desain Keraton Kasepuhan.

Struktur & Bagian

Salah satu bagian dalam Keraton Kasepuhan Cirebon adalah Bangunan Pancaratna.

  • Bangunan Pancaratna: Terletak di kiri depan kompleks arah Barat, berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 x 8 meter. Lantainya terbuat dari tegel. Konstruksi atapnya ditunjang oleh empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atapnya terbuat dari genteng dengan mamolo di puncaknya. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat para pembesar desa atau kampung menghadap Demang atau Wedana.

Sejarah Singkat

Keraton Kasepuhan memiliki dua lapisan bangunan bersejarah. Dalem Agung Pakungwati, lapisan tertua, didirikan sekitar tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Kemudian, kompleks Keraton Pakungwati dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Zainul Arifin (Panembahan Pakungwati I), cicit Sunan Gunung Jati, di sisi barat daya keraton lama. Nama Pakungwati diambil dari Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, dan nama tersebut kemudian digunakan untuk keraton ini sebelum lebih dikenal sebagai Keraton Kasepuhan. Pada abad ke-17, Kesultanan Cirebon mengalami pembagian kekuasaan yang menghasilkan garis Kasepuhan (Sultan Sepuh), Kanoman (Sultan Anom), dan cabang lainnya. Sultan Sepuh I kemudian menempati Keraton Pakungwati yang selanjutnya dikenal sebagai Keraton Kasepuhan, menandai garis sepuh/utama dalam struktur pasca-pembagian tersebut.

Ciri Khas

  • Tembok & gapura: Bata merah, gapura gaya pesisir/Jawa; di Siti Inggil ada jejak motif Majapahit
  • Siti Inggil: Area “tanah tinggi” dengan mande terbuka untuk melihat alun-alun/latihan
  • Tata ruang: Keraton utara, masjid barat, pasar timur, alun-alun di depan
  • Ornamen Cirebon: Mega mendung, wadasan, simbol harimau putih di area taman
  • Koleksi ikonik: Kereta Singa Barong, museum benda kuno/pusaka

Siti Inggil

Siti Inggil (lemah duwur) adalah area tinggi di kompleks Keraton Kasepuhan yang sering digambarkan mirip pelataran candi. Di dalamnya terdapat sejumlah mande (bangunan terbuka) dengan jumlah tiang yang dihubungkan ke simbol keislaman, seperti penanda rukun iman, rukun Islam, dan syahadat pada mande tertentu. Di area inilah gamelan/gong Sekati secara tradisional dibunyikan pada momen besar seperti Idulfitri dan Iduladha.

Area Utama & Bangunan Induk

Memasuki lebih dalam ke kompleks, pengunjung akan melewati zona penungguan dan pelayanan seperti Lunjuk dan Sri Manganti, sebelum mencapai area inti kesultanan. Bangunan induk keraton memiliki ruang-ruang dengan nama dan fungsi historis, mulai dari tempat menerima tamu hingga bangsal sidang atau pertunjukan. Polanya menunjukkan hierarki ruang dari luar ke dalam.

Museum dan Kereta Singa Barong

Keraton Kasepuhan memiliki museum dan koleksi yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Museum benda kuno/pusaka menyimpan artefak, lukisan, dan benda-benda yang terkait dengan kesultanan. Selain itu, terdapat museum kereta yang salah satunya menyimpan Kereta Singa Barong, kereta kencana yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Kereta ini tidak digunakan untuk sehari-hari, namun secara tradisi sering dikeluarkan atau dimandikan pada momentum 1 Syawal.

Sumber: https://budayaindonesiaaa.wordpress.com/2014/12/18/rumah-adat-kesepuhan, https://readmore.id/sejarah/keraton-kasepuhan-cirebon

Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.

DISKUSI


TERBARU


Penca Silat Ali...

Oleh Kyas1 | 26 Oct 2026.
Seni Pertunjukan

Deskripsi Penca Silat Aliran Cimande merupakan seni beladiri tradisional yang sangat terkenal dan identik dengan daerah Cimande, Kabupaten Bogor. Se...

Talam Pisang Co...

Oleh Kyas1 | 26 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Talam Pisang Coklat Keju adalah jajanan tradisional khas Betawi yang merupakan kreasi dengan penambahan pisang, cokelat, dan keju. Santan...

Tauto Pekalonga...

Oleh Kyas1 | 26 Oct 2026.
Makanan Minuman

Deskripsi Tauto Pekalongan adalah makanan khas Pekalongan yang dikenal juga sebagai Taucho Soto Pekalongan. Kuliner ini memiliki cita rasa yang khas...

Pengobatan Pata...

Oleh Kyas1 | 26 Oct 2026.
Pengobatan dan Kesehatan

Deskripsi Pengobatan patah tulang tradisional adalah salah satu warisan budaya yang sangat terkenal dari Cimande, Kabupaten Bogor. Tradisi pengobata...

Seni Sanduk

Oleh Kyas1 | 26 Oct 2026.
Tarian

Deskripsi Seni Sanduk adalah sebuah tarian khas yang menggunakan pakaian adat Jawa Timuran. Kesenian ini digunakan sebagai sarana untuk mengenalkan...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud...

Ukiran Singa Ba...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...