|
|
|
|
|
📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA
Kidung Lakbok
Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring.
Sejarah dan Asal-Usul
Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini.
Ramalan "Bandjar Bakal Bandjir"
Salah satu bagian ikonik dari Kidung Lakbok adalah kalimat ramalan "Bandjar bakal bandjir" (Banjar akan banjir). Secara harfiah, ramalan ini terbukti dengan terjadinya banjir besar di wilayah Banjar dan sekitarnya, misalnya pada tahun 1950-an. Secara filosofis, ungkapan ini dapat diartikan sebagai banjir masalah, banjir perubahan zaman, atau peringatan untuk menjaga keseimbangan alam dan kerukunan antarwarga.
Hubungan dengan Seni Pertunjukan (Wayang Kila)
Pada tahun 2015, cerita Kidung Lakbok diangkat menjadi sebuah seni pertunjukan baru bernama Wayang Kila. Nama "Kila" sendiri merupakan akronim dari Kidung Lakbok. Naskah Kidung Lakbok yang dipublikasikan secara luas di internet menjadi sumber inspirasi dan rujukan utama dalam pembuatan Wayang Kila tersebut. Keunikan wayang ini terletak pada bahan bakunya, yaitu terbuat dari jerami padi.
Nilai dan Pesan Moral
Kidung Lakbok mengandung beberapa nilai dan pesan moral, antara lain:
· Bahaya perang saudara: Memutus silaturahmi dan berbuat jahat kepada sesama akan membawa kehancuran. · Keseimbangan alam: Manusia harus menjaga lingkungan agar tidak terjadi bencana. · Kearifan lokal: Pentingnya sikap waspada dan menghargai sejarah, sebagaimana ungkapan ulah poho ka jaman baheula (jangan lupa pada masa lampau).
Pelestarian
Naskah asli Kidung Lakbok yang ditulis dalam bahasa Sunda kuno telah ditulis ulang dan didokumentasikan kembali oleh Henry Purwanto pada tahun 2013 melalui media blog. Upaya ini dilakukan agar naskah tersebut tidak punah dan dapat diakses oleh generasi muda sebagai bagian dari pelestarian sastra dan sejarah lokal.
Referensi
· Purwanto, Henry (2013). Naskah Kidung Lakbok (dokumentasi daring).
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend... |
|
Ukiran Gorga Si...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai penjaga rum... |