|
|
|
|
|
|
Lawang Sewu Tanggal 02 Aug 2026 oleh Kyas1 . |
Lawang Sewu adalah sebuah gedung bersejarah di Semarang, Jawa Tengah, yang dulu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Gedung ini dibangun antara tahun 1904 dan 1907. Gedung megah berlantai dua ini dikenal dengan julukan "Lawang Sewu" oleh masyarakat setempat karena memiliki banyak jendela tinggi dan lebar yang menyerupai pintu, meskipun jumlah pintu sebenarnya tidak mencapai seribu. Lokasinya berada di bundaran Tugu Muda Semarang yang dulu dikenal sebagai Wilhelminaplein.
Perancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang dipercayakan kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dari TH Delft dan B.J. Ouendag, seorang arsitek yang berdomisili di Amsterdam, Belanda. Seluruh proses perancangan, termasuk site plan, denah, dan gambar kerja, dilakukan di Belanda pada tahun 1903 sebelum dibawa ke Semarang.
Awalnya, bangunan ini didirikan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS. Kebutuhan akan kantor baru muncul karena pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang pesat membuat kantor lama di Stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai, ditambah masalah sanitasi dan kesehatan di lokasi rawa-rawa tersebut. Setelah kemerdekaan, Lawang Sewu beralih fungsi menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), yang kini dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.
Bangunan ini memiliki ciri khas jendela yang tinggi dan besar, yang seringkali disalahartikan sebagai pintu oleh penduduk setempat, menjadi asal mula nama "Lawang Sewu".
Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, dimulai pada 27 Februari 1904. Bangunan ini memiliki catatan sejarah penting pada masa perjuangan, khususnya saat Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung ini menjadi lokasi pertempuran sengit antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang. Karena nilai historisnya, Pemerintah Kota Semarang melalui Surat Keputusan Wali Kota Nomor 650/50/1992 menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang harus dilindungi. Saat ini, bangunan tersebut telah melewati tahap konservasi dan revitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Persero.
Sumber: https://ilmuhumaniora.blogspot.com/2011/06/sejarah-lawang-sewu-dan-kemegahan.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |