|
|
|
|
|
|
Legenda Si Lancang Tanggal 26 Oct 2026 oleh Kyas1 . |
Alkisah, di suatu daerah bernama Kampar, yang kini menjadi bagian dari Provinsi Riau, hiduplah seorang pemuda bernama Si Lancang bersama ibunya dalam kemiskinan. Mereka bekerja sebagai buruh tani, namun hidup mereka tak kunjung berubah. Si Lancang pun memutuskan untuk merantau, meminta izin kepada ibu dan guru ngajinya. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar ia selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya, serta jangan menjadi anak durhaka jika sudah sukses nanti. Si Lancang terharu dan berikrar, lalu ibunya membekalinya kue lumping dodak dan memberkatinya. Setelah bertahun-tahun merantau, Si Lancang berhasil menjadi saudagar kaya raya dengan puluhan kapal dagang dan tujuh orang istri dari keluarga saudagar. Sementara itu, ibunya di Kampar tetap hidup dalam kemiskinan. Suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas bersama ketujuh istrinya, membawa perbekalan mewah dan alat musik. Saat kapal merapat di Kampar, alat musik dibunyikan riuh rendah, dan kain sutra serta hiasan emas perak digelar untuk memamerkan kekayaannya. Kabar kedatangan Si Lancang sampai ke telinga ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas menyambut anaknya, hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang, dan kebaya penuh tambalan. Ibu Si Lancang memberanikan diri naik ke geladak kapal mewah anaknya, namun tak ada seorang kelasi pun yang percaya bahwa ia adalah ibu Si Lancang. Ia diusir dengan kasar, tetapi menolak beranjak dan tetap meminta dipertemukan dengan anaknya, menyebabkan keributan. Si Lancang, ditemani ketujuh istrinya, datang menghampiri. Ia sangat terkejut melihat perempuan compang-camping yang diusir itu adalah ibunya. Namun, dengan congkak, Si Lancang menepis ibunya dan berteriak, "Mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu!" Ia lalu memerintahkan anak buahnya, "Kelasi! usir perempuan gila ini!" Ibu Si Lancang pulang dengan hati sangat sedih. Sesampainya di rumah, ia mengambil pusaka miliknya, yaitu lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, ia memutar lesung itu dan mengibas-ngibaskan nyirunya, seraya berkata, "Ya Tuhanku... hukumlah si Anak durhaka itu." Sesaat setelah itu, badai topan dahsyat turun dan dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Harta bendanya hancur berkeping-keping dan terbang ke mana-mana. Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain di Kampar Kiri. Tiang bendera kapal besar Si Lancang terlempar hingga menjadi Danau Si Lancang. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong, lalu tembikarnya melayang menjadi Pasubilah.
Sumber: https://indosastra.com/cerita-anak-rakyat-dongeng/legenda-si-lancang-cerita-rakyat-riau
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
<g Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiri... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |