|
|
|
|
|
Maggalenceng adalah permainan tradisional suku Bugis di Sulawesi Selatan. Dahulu, permainan ini dianggap sakral dan hanya dimainkan saat ada kematian untuk menemani keluarga yang berduka agar tidak mengantuk dan terhibur. Permainan ini dilarang dimainkan di waktu lain karena diyakini dapat mendatangkan kematian. Lama penyelenggaraan bergantung pada status sosial almarhum; 7 hari untuk rakyat biasa dan 40-100 hari untuk bangsawan. Kesakralan permainan ini mulai memudar sejak masuknya agama Islam pada abad ke-16. Saat ini, maggalenceng telah kehilangan kesakralannya dan fungsinya berubah menjadi permainan muda-mudi untuk saling mengungkapkan isi hati melalui syair.
Maggalenceng dapat dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, saat ini, umumnya dimainkan oleh kaum perempuan, terutama anak-anak berusia 6-12 tahun, sementara laki-laki jarang memainkannya. Jumlah pemain bergantung pada jumlah papan maggalenceng yang tersedia; satu papan hanya dapat dimainkan oleh dua orang.
Dahulu, maggalenceng hanya dimainkan di teras atau beranda rumah orang yang baru meninggal dunia. Namun, sekarang permainan ini dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja, seperti di dalam rumah, di beranda, atau di balai-balai rumah adat, tanpa memerlukan tempat atau waktu khusus.
Orang Bugis-Makassar mengenal empat cara bermain dalam maggalenceng:
Permainan dimulai dengan memasukkan biji-biji ke dalam lubang-lubang kecil pada papan aggalancengngeng, kecuali dua lubang besar di ujungnya. Jumlah biji pada setiap lubang kecil harus sama, misalnya 7 biji per lubang jika total biji 70. Pemain pertama mengambil semua biji dari lubang paling ujung di daerahnya sendiri, lalu mengedarkan biji-biji tersebut satu per satu berlawanan arah jarum jam ke setiap lubang, kecuali lubang besar milik lawan. Jika biji masuk ke lubang besar miliknya sendiri, itu menjadi nilai. Jika biji terakhir jatuh pada lubang yang sudah berisi, pemain mengambil biji-biji tersebut dan mengedarkannya kembali. Jika biji terakhir jatuh pada lubang yang kosong, giliran pemain lawan. Permainan berlanjut hingga semua biji dari lubang-lubang kecil terkumpul di dua lubang besar di ujung papan. Pemenang adalah pemain yang mengumpulkan biji terbanyak.
Permainan maggalenceng mengandung nilai kecermatan dan sportivitas. Kecermatan terlihat dari perhitungan yang tepat agar biji tidak jatuh pada lubang kosong, sehingga pemain dapat terus bermain dan mengumpulkan nilai. Sportivitas tercermin dari sikap pemain yang tidak curang dan mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Sumber: http://uun-halimah.blogspot.com/2008/04/permainan-maggalenceng-sulawesi-selatan.html, https://uun-halimah.blogspot.com/2008/04/permainan-maggalenceng-sulawesi-selatan.html
Entri ini dikurasi oleh AI berdasarkan sumber terbuka.
|
Gambus
Oleh
agus deden
| 21 Jun 2012.
Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritua... |
|
Hukum Adat Suku...
Oleh
Riduwan Philly
| 23 Jan 2015.
Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal... |
|
Fuu
Oleh
Sobat Budaya
| 25 Jun 2014.
Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pendud... |
|
Ukiran Singa Ba...
Oleh
hokky saavedra
| 09 Apr 2012.
Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai... |